Sabar dalam Penantian

Sabar dalam Penantian

1 351
ilustrasi
Lagi-lagi, sebuah nasihat ringan terucap namun sungguh berat terlaksana. Apakah itu pembaca yang budiman? Ini adalah pengalaman hidup saya, tentang sebuah makna. Makna kesabaran. “Sabar!” Ini adalah kata-kata yang menelisik hati berkali-kali. Namun, sabar itu bukan berarti diam. Sabar adalah terus berkarya dan berdoa kepada Allah.

ALHIKMAH.CO–Kisah ini bermula kira-kira dua tahun lalu. Di mana buah dari kesabaran, adalah Allah berikan segalanya yang kita impikan. Kala itu, saya adalah seorang perempuan yang berprestasi di sekolah. Tahun 2010, saya lulus dengan hasil terbaik. Seperti halnya siswa yang lain, saat itu keinginan untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Negeri sudah tak terbendung lagi.

Tapi, di sekolah saya tak biasanya ada yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Telah mafhum bagi lingkungan kami, jika ada perempuan lulus SMA, dia akan menikah atau bekerja. Tapi, bagi saya melanjutkan kuliah adalah cita-cita sedari kecil. Saya telah bertekad kuat akan melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, untuk menjadi seorang pendidik.

Tapi tiba-tiba, di balik euphoria selesai lulus, harapan itu sirna. Orang tua tetap tidak mengizinkan saya kuliah. Terlebih, biaya kuliah itu tak murah. Jika saya tetap ingin kuliah, konsekuensinya maka saya harus mengumpulkan uang sendiri tanpa meminta sedikit pun kepada orang tua. Dengan uang yang hanya cukup untuk mendaftar SNMPTN, saya tekadkan tetap mengikuti tes. Alhamdulillah pembaca, hasil tes menunjukkan bahwa saya tidak diterima.

Hari-hari berlalu. Keinginan kuliah itu saya parkir dalam hati. Saya pun banting stir bekerja di sebuah perusahaan tekstil. Sungguh berat rasanya, ketika saya harus bekerja pagi, siang, hingga larut malam hanya untuk mendapatkan uang yang tak seberapa. Setiap hari seperti itu, menghitung benang satu persatu, menyortir warna, dan Astagfirullah! Seperti inikah Indonesia? Seorang wanita harus bekerja keras untuk berjuang memenuhi kebutuhannya?

Saat itu, rasa kesal sempat terpikir dalam diam. Mengapa saya menghabiskan waktu untuk ini? Padahal keinginan saya untuk kuliah begitu besar. Empat bulan lamanya, saya pendam rasa ini. Hingga saya melihat sebuah tayangan di televisi, tentang perjuangan seorang relawan bencana. Saat itu, entah mengapa saya kepikiran untuk mencoba hal serupa. Menjadi seorang relawan.

Saya sampaikan minat ini kepada orang tua. Tapi tampaknya ibu saya tidak terlalu peduli. Tentunya, jika saya memang memutuskan untuk menjadi relawan, maka pekerjaan saya selama ini harus ditinggalkan. Tapi justru, saya senang bisa meninggalkan pekerjaan ini. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung dengan unit relawan di sebuah masjid milik sebuah kampus di Bandung.

Saat pertama kali mendaftar, pertanyaan itu terucap. ‘Kuliah di mana?”. Sungguh, berat rasanya menjawab pertanyaan seperti itu. Saya jawab jika saya telah bekerja.

Kok nggak masuk kerja?” tanya orang itu lagi.

Saya menjawab bahwa saya terpanggil untuk menjadi relawan. Jawaban itu akhirnya membawa saya untuk mendapatkan tugas membuat kerajinan dan mendidik anak-anak korban bencana. Bismillah, saya pasrah. Saya keluar dari pekerjaan saya yang dulu. Dalam hati saya bulatkan tekad bahwa rejeki itu Allah yang mengatur.

Kegiatan pertama saya saat menjadi relawan membawa saya untuk menjejakkan kaki di Yogyakarta. Menemani adik-adik kecil korban bencana Letusan Gunung Merapi beberapa waktu ke belakang. Subhanallah! Inilah perasaan yang pertama kali saya rasakan, tak dapat terbayang. Inilah liburan yang didapat setelah penat empat bulan bekerja pagi siang malam tak henti.

Inilah cita-cita saya sedari kecil. Mengunjungi tempat-tempat eksotis, berkarya, dan mendidik anak-anak. Pengalaman luar biasa! Walau, hanya satu pekan saya berada di sana. Setelah itu saya merasa bahwa menjadi relawan adalah jalan hidup saya. Kesempatan untuk berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang terbuka lebar.

Pulang ke Kota Kembang, saya dijadikan staf sebuah divisi masjid kampus tempat saya aktif di dalamnya. Saya banyak belajar di tempat ini. Keinginan untuk kuliah pun tetap saya pupuk. Malahan saya sudah berencana untuk mengikuti tes masuk SNMPTN kembali.

Akhirnya setelah satu tahun masa menanti soal-soal itu saya kerjakan. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya untuk diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung, universitas impian saya selama ini. Tapi kebahagiaan saya hanya bisa bertahan sampai di situ.

Saya harus membayar biaya masuk kuliah. Padahal uang hasil jerih payah selama setahun ini ternyata masih kurang untuk membayarnya. Saya dilanda kebingungan luar biasa. Hari itu, benar-benar hari yang menyesakkan. Dari mana biaya ini ya Allah?

Saya kumpulkan semua berkas piagam dan sertifikat mulai dari SD untuk pengajuan beasiswa. Sekuat tenaga saya mencari uang ke sana-kemari. Pengurus masjid di mana saya bekerja menawarkan bantuan dengan memberikan uang untuk menutupi kekurangan uang masuk sebesar 2,7 juta.

Saya putuskan akan menerima kontrak bantuan itu. Walau saya tidak tahu bagaimana saya akan menyambung hidup saya ke depan. Biaya semester, buku, dan lain-lain ketika kuliah akan darimanakah saya mendapatkannya?

Tapi ternyata, Allah punya skenario lain. Saya dipanggil oleh salah senior ke bagian keuangan kampus. Hati ini berdebar-debar. Apa yang terjadi? Ya Allah, apa lagi rencana-Mu ya Rabb. Ternyata, saat itu saya diberi tahu bahwa saya mendapatkan beasiswa. Hasil dari sertifikat prestasi yang susah payah saya kumpulkan.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar. Begitu mudah Allah mengubah seseorang. Pada hari sebelumnya, saya masih bingung bagaimana membayar kuliah. Pada esoknya, Allah ganti semua kecemasan itu. Tak tanggung-tanggung. Saya mendapat beasiswa penuh semester dan biaya hidup sampai lulus kuliah. Tak pernah terbayang dalam benak selama ini.

Tak hanya itu. Saya pun mendapat beasiswa juga dari tempat saya bekerja. Dengan mudahnya Allah membalik keadaan linglung, sulit, bingung dengan keadaan syukur, tenang. Masya Allah. Semua impian saya yang kandas setahun lalu, Allah bayar langsung saat ini.

Kuliah di di perguruan tinggi negeri impian, tidak menyusahkan orang tua, mendapat beasiswa, bergabung dengan lingkungan yang kondusif, hingga kesempatan untuk terus berkarya begitu terbuka, terwujud seketika. Subhanallah, walhamdulillah.

(Seperti di sampaikan oleh Retno kepada Wartawan Alhikmah)


Like& Share berita ini untuk berbagi inspirasi

 

BERITA TERKAIT