Rusak Akibat Vandalisme, Bocah Ini Sumbangkan Tabungannya untuk Masjid

Rusak Akibat Vandalisme, Bocah Ini Sumbangkan Tabungannya untuk Masjid

0 60
pic source: Ilm Feed

Kala mendengar Islamic Center Pflugerville di Texas dirusak akibat aksi vandalisme, bocah usia 7 tahun, Jack Swanson langsung menyumbangkan seluruh tabungannya sebanyak 20 USD untuk perbaikan masjid. Oknum-oknum vandalisme tersebut merobek halaman-halaman Alquran, menutupinya dengan kotoran, dan meninggalkan lembaran-lembaran tersebut di luar pintu masuk masjid.

pic source: Ilm Feedpic source: Ilm Feed

Ibu Jack mengabari ABC News, bahwa anaknya mengeluarkan koin-koin yang telah ia tabung, dan menukarnya dengan lembaran uang 20 USD. Kemudian, uang tersebut ia berikan pada pihak masjid.

Faisal Na’eem, pengelola masjid tersebut, menyatakan bahwa para pengelola masjid gembira dengan kedermawanan Jack, dan telah memberikan harapan pada mereka.

“Uang 20 USD berharga 20 juta dollar bagi kami, sebab pemikiran Jack lah yang berharga. Ini memberikan kami harapan. Anak-anak kami tengah tumbuh besar, dan jika kami memiliki banyak bocah baik hati sebagaimana Jack di dunia ini, kami memiliki harapan bagi masa depan kami,” katanya.

Atas kedermawanannya pula, ketika komunitas muslim setempat melihat sikap Jack, mereka memutuskan memberi Jack sebuah hadiah. Mereka mengiriminya sebuah Apple iPad yang Jack idamkan, dan mengiriminya sebuah pesan:

“Jack, kamu menabungkan 20 USD dalam celenganmu untuk sebuah Apple iPad. Lalu, sebuah masjid di Texas terkena aksi vandalisme, dan kamu justru menyumbangkan semua uangmu untuk masjid. Karena kedermawanan dan kebaikan hatimu, kami sampaikan salam terimakasih tulus dari kami dan nikmati Apple iPad yang kami berikan. Salam cinta, komunitas muslim Amerika.”

Beberapa netizen pun turut menyuarakan apresiasi mereka atas kisah Jack. Dalam laman facebook-nya, Bill Carroll menulis, “Saya seorang pendeta Episcopal. Saya dan jemaat saya memiliki hubungan dekat pengelola masjid di daerah kami. Kami membicarakan banyak hal mengenai keyakinan dan tata peribadatan kami, seperti rahmat Tuhan, komunitas persaudaraan yang multi-etnis, kepedulian pada para janda dan anak yatim, orang miskin, serta para musafir. Sebetulnya, hubungan dan dialog secara tatap muka adalah kuncinya. Saya malu dengan tingkah laku memalukan beberapa rekan se-negara dan teman sesama Kristen saya. Saya justru lebih banyak memiliki kesamaan dengan teman-teman muslim saya, dibanding dengan mereka. Saya selalu mengharapkan solidaritas dengan siapa saja yang melayani Tuhan, dan orang yang benar-benar sedang mencari ridho-Nya. Tingkah fanatis terhadap sekelompok orang justru hanya mengolok Sang Pencipta.” (Aghniya/IF/Alhikmah)