Refleksi Diri Pasca Umrah dan Haji

Refleksi Diri Pasca Umrah dan Haji

0 27

ALHIKMAHCO,– Berhaji, karib sekali dengan istilah Undangan Allah. Karenanya sesiapa yang bertandang ke Baitullah, kerap diasosiasikan sebagai Tamunya Allah. Kita tidak mungkin merekayasa dengan begitu emosional ingin disegerakan, bila Ia tak menakdirkan, ya tak mungkin bisa berangkat.

Sepenggal pemahaman itulah yang saya yakini tentang berhaji. Bukan sebatas di atas konsep, tapi demikian pun berdasar dari apa yang saya alami. Ibadah haji yang dalam pandang mata menunggu belasan hingga puluhan tahun, menyapa lebih cepat. Ya, di tahun ini, di musim haji kemarin. Alhamdulillah..

Bermula dari panggilan tetangga dan masyarakat, senantiasa menyapa ‘Pak Haji’, padahal saya belum berhaji. Mendorong saya untuk terus berharap bisa ke Baitullah. Tekad itu pun kian bulat kala masuk almanak 2012.

Lewat Safari Suci, di usia yang tak lagi muda, saya melakukan Umrah di tahun itu. Di sana saya bertemu dengan salah satu murid yang pernah saya ajar ketika ia masih SMA. Di sela pelunasan Umrah, ia menawarkan saya kesempatan untuk berhaji di tahun 2017.

Bismillah, dengan segala bantuan yang ditawarkan, saya beranikan diri berkomitmen untuk turut mendaftar diri sebagai calon jamaah haji. Silang sengkarut, waktu terus berlipat menjadi masa-masa pergantian yang tak lagi dapat dirasa.

Lipatan waktu untuk terlipat menjadi jarak yang rapat. Sepuluh hari setelah ibadah Puasa Ramadhan 1436 H, Rupanya panggilan berhaji memanggil-manggil setahun lebih cepat dari yang dicanangkan, genap di usia yang ke 60 tahun. Sungguh ini adalah karunia Allah yang luar biasa. Ini tidak bisa dinilai dengan apa pun.

Bayangkan pembaca, kita kan shalat menghadap kiblat, dengan membayangkan Kabah yang tak nampak di mata. Sekarang, yang nun jauh di sana itu, ada di hadapan kita. Siapapun hatinya akan bergetar, bisa melihat, menyentuh dan merasakan suasananya.

Saya kira nilai getaran hati bagi siapapun yang ke sana akan sangat merasakan sekali. Karena ini adalah perjalanan yang jauh, yang tidak ada kekuatan yang bisa mewujudkan itu semua kecuali karena Allah.

Bagaimana air mata tidak mengalir, syukur yang senantiasa terpanjat. Bisa mengetahui makam Rasul, Raudhah, salah satu tempat mustajab berdo’a. Sungguh sangat harus dimanfaatkan, pikir saya kala itu.

Dari poin ini saja, saya berpikir, tidak pantas kita mengilahkan Ilah lain, kecuali hanya kepada kekuatan Ilahiyah. Tanpa kekuatan itu, pencapaian yang telah kita lakukan, hanya akan menjadi bibit kesombongan, padahal makhluk tidak pantas demikian.

 

Merasakan Dua Tantangan di Baitullah

Kiranya semuanya mafhum bahwa ibadah haji amatlah menguras tenaga. Perbedaan cuaca dan kultur, serta mungkin kondisi yang tak terduga bakal terus membayangi dan mengganggu kekhusyukan dalam beribadah.

Kalau saja keimanan kita tidak kuat, barangkali dalam setiap prosesinya tak kan purna dilaksanakan. Bukan karena sesakan lautan manusia, juga tak sedikit dari jamaah haji di negeri lain kan tubuhnya tegap, besar, dan tinggi. Bayang-bayang kesikut, kaki terinjak, atau badan terhimpit adalah hal yang sangat mungkin kita terima.

Selain itu, secara pribadi, saya merasakan saat di Baitullah rasa kantuk begitu berlipat-lipat beratnya. Mungkin karena pengaruh ruangan hotel yang ditempati amatlah nyaman cum melenakan. Kasur yang empuk, selimut yang hangat, tak perlu bersusah-susah berjejalan dengan jamaah yang lain.

Di saat-saat seperti itulah bisikan setan terus menguat. Menganjurkan saya untuk tertidur saja, menikmati kenyamanan fasilitas yang didapatkan, terlelap dalam bayang ketakutan terhimpit atau terinjak jamaah lain.

Namun saya kembali berpikir, perjalanan untuk sampai ke sini butuh perjuangan yang luar biasa, tidakkah sayang ketika sudah sampai, kita malah berleha-leha? Bukankah ini adalah Baitullah, yang mana ladang pahala berlipat begitu luas untuk bisa dipanen.

Dari keyakinan itulah saya kemudian mendorong diri ini, membakar kembali semangat untuk memaksakan diri menambah kesempurnaan haji dengan melakukan hal-hal yang sunnah.

Dan pada akhirnya, ketika keterbatasan itu kita dobrak, Allah tunjukkan juga jalannya. Tak seperti yang dibayangkan, ketika kita menepis semua ketakutan dan kemalasan karena Allah, melakukan ibadah-ibadah yang sunnah di sana menjadi lebih mudah.

 

Haji dan Manifestasi Perubahan Diri

Pembaca, pengorbanan yang telah dilakukan untuk umroh dan haji, menjadi bagian dari satu evaluasi kehidupan. Bagaimana kita bisa  menjaga spirit ibadah sama baiknya saat berada di sana. Dengan latar belakang ibadah yang tidak mudah dan jaminannya surga bagi haji mabrur, bagaimana kemabruran ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan.

Lalu bagaimana saya mempertahankan eksistensi kehajian ini? saya hanya berpikir, bagai bayi yang baru lahir apa kita tega menodai usaha yang telah kita korbankan saat haji dengan dosa, baik disengaja atau tidak?

Kalau kita ke sana tidak ada perubahan, ya sia-sia. Perjalanan jauh dengan resiko yang besar, uang juga keluar banyak, rusak hanya karena setitik emosional yang tergoda oleh bisikan setan. Di mana rasa tanggung jawa sosial kita yang telah menunaikan haji?

Jangan sekadar panggilan ‘haji’ tapi warna dari perilaku kesehariannya tidak nampak. Makanya saya secara pribadi juga harus banyak istighfar agar dilindungi dan istiqomah.

Saya selalu berpikir, pantas tidak saya dipanggil Pak Haji? Memang  secara manusiawi kita sudah dihargai, tapi hablumnillah-nya bagaimana? Ya kita sendiri yang berusaha untuk senatiasa memperbaiki diri.

Pada akhirnya, refleksi ini menghantarkan saya pada kesimpulan, bahwa benteng haji ini menjadi kekuatan moral, kalau kita bertanggung jawab pada nilai-nilai pertaubatan. Wallahu a’lam. []

Seperti dikisahkan Oman Surachman pada jurnalis Alhikmah dengan berbagai suntingan