Realisasi Takwa

Realisasi Takwa

0 35

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. 

(QS. al-Imran [3]: 102)

ALHIKMAHCO,– Di setiap khutbah Jum’at, khatib selalu berpesan kepada jamaah untuk meningkatkan ketakwaan. Begitu juga pada saat shaum Ramadhan, merupakan suatu wasilah untuk mencapai derajat ketakwaan. Karena takwa inilah yang meninggikan derajat seseorang dengan yang lainnya di hadapan Allah SWT. Namun apakah sebenarnya takwa itu? Bagaimana wujudnya dalam kehidupan?

Apa itu Takwa

Telah difirmankan Allah SWT, dalam surat Al-Hujurat [49]: 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Hal yang sama ditegaskan Rasulullah dalam khutbah wada’nya : “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Orang Arab tidaklah memiliki kelebihan dari bangsa lain. Bangsa kulit putih tidak lebih baik dan yang berkulit hitam, melainkan dengan ketakwaannya.“

Terdapat ratusan kali Allah menyebutkan kata takwa, misalnya dengan kata ittaqqu terdapat sebanyak 66 ayat dan puluhan kata takwa lainnya dengan beragam redaksi. Dalam mengakhiri ayat perintah dan larangan, senantiasa ditemui kata-kata harapan agar yang menaati perintah dan larangan tersebut menjadi orang yang bertakwa.

Lalu, apa itu takwa? Didefinisikan para ulama bahwa takwa adalah: mengerjakan segala perintah Allah, sekaligus menjauhi apa yang dilarang-Nya. Atau menjaga diri dari azab Allah dengan mengerjakan amal shaleh dan merasa takut kepada-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Kedua definisi di atas pada dasarnya adalah penjagaan diri seseorang bahwa ia senantiasa berjalan pada metode yang telah ditetapkan Allah, dan berusaha semaksimal mungkin mengikuti yang halal dan menjauhi yang haram. (Alfat, 1997: 24).

Pengertian lainnya tentang takwa juga terungkap dalam dialog antara Umar bin Khatab dan Ubay Bin Kaab. Umar bertanya kepada Ubbay tentang takwa, maka dijawab oleh Ubay dengan pertanyaan lagi, “Pernahkah engkau berjalan di jalan yang berduri? Ya pernah,” jawab Umar. “lalu apa yang kau lakukan?” “aku menyingkirkan duri tersebut,” jawab Umar. Maka berkata Ubay, “itulah takwa.”

Ketakwaan ini pun menurut al-Maududi memiliki tanda-tanda, di antaranya :

  1. Melaksanakan kewajiban dengan rasa tanggung jawab
  2. Merasa dirinya selalu dihisab oleh Allah dalam berpikir, berkata, dan bertindak.
  3. Menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah.
  4. Senantiasa siap sedia melaksanakan perintah Allah.
  5. Mengerti betul tentang batas-batas hukum Allah.

Ganjaran Bagi yang Bertakwa, di antaranya :

  1. Senantiasa berada di sisi Allah

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa  (QS. al-baqarah [2]: 194),

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan  (QS. an-Nahl [16]: 128).

  1. Memeroleh cinta-Nya

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. at-Taubah [9]: 4 dan 7)

  1. Dilindungi Allah

dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Jatsiyah [45]: 19)

  1. Amalannya diterima

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Maa’idah [5]: 27)

  1. Memeroleh jalan yang terang (furqon)

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Anfal [8]: 29)

  1. Mendapati rezeki yang tak terduga

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. ath-Thalaq [65]: 2-3)

Mengukur Ketakwaan

Kembali ke definisi awal tentang takwa tadi, yaitu menyingkirkan segala maksiat, menghindari apa pun hal yang mencemari kesetiaanya kepada Allah SWT. Tegasnya, merealisir segenap aturan Allah dalam kehidupan. Maka sungguh mustahil seorang itu menjadi muttaqin apabila ia masih belum bisa menjaga diri dari perintah dan larangan Allah. Bahkan disabdakan Rasulullah SAW,“Seseorang tidak akan mencapai derajat Muttaqin (orang yang bertakwa) hingga ia meninggalkan sesuatu yang mubah karena takut kepada berbuat sesuatu yang dilarang. (HR. Tirmidzi).

Berarti, tak mungkin seorang muttaqin itu orang yang menolak berlakunya ajaran Islam dalam dirinya dan masyarakat. ketakwaan itu meninggalkan wujudnya dalam perilaku manusia. Takwa  itu pun tak lepas dari iman, amal shalih, aqidah, ibadah, dan muamalah.  Waulahu’alam

 

Daftar rujukan :

Bulletin Jum’at al-Bina No 17/TahunVII

Alfat, Masan, 1997 Aqidah Akhlak, PT Karya Toha, Semarang, hal: 24