Raphael Narbaez, Seperti Kembali Setelah Lama Pergi

Raphael Narbaez, Seperti Kembali Setelah Lama Pergi

0 191

Lantas kekaguman itu semakin bertambah ketika Raphael memerhatikan gerakan ruku dan sujud, yang dimaknainya sebagai ekspresi makhluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Dalam hatinya muncul keinginan yang kuat untuk berdoa dengan cara yang dilakukan Muslim. 

Apakah yang terjadi di dunia ini hanyalah kebetulan semata? Tak pernah terlintas dalam benak Raphael Narbaez, bahwa rentetan kejadian “kebetulan” yang dialaminya akan membawanya untuk mempelajari dan memeluk Islam. Suatu agama yang jauh dari bayangannya selama ini. Apalagi dalam hatinya timbul sebuah keyakinan yang mengatakan, kalau semua agama itu buruk, kecuali keyakinannya sendiri.

Raphael lahir dan tinggal di wilayah Texas, California, Amerika Serikat. Ia tumbuh di daerah Lubbock, sebuah wilayah Texas yang memiliki banyak gereja dan dihuni komunitas Kristen yang cukup kuat, salah satunya Komunitas Saksi Yehuwa.

Saksi Yehuwa sendiri adalah sebuah denominasi umat Kristen pengusung kepercayaan milenialisme, di luar ajaran mainstream Kristen dan tidak meyakini adanya trinitas. Raphael dan keluarganya termasuk salah satu jemaat yang aktif di gereja miliki komunitas Saksi Yehuwa. Ritual kebaktian tidak pernah mereka lalaikan. Makanya tidaklah mengherankan apabila Rapahael keranjingan dengan pengkajian dan pendidikan soal Bibel.

Ditambah lagi, para jemaat memberikan kepercayaan kepadanya untuk berkhutbah. Padahal usianya waktu itu masih belasan. Semangatnya sungguh luar biasa demi melaksanakan “pekerjaan tuhan” ini. Bahkan di usia dua puluh tahun, Raphael sudah memiliki jemaaat kebaktian sendiri.

Namun, keanehan justru terjadi di sini. Setelah melewati ratusan kebaktian dan do’a, Raphael malah meninggalkan keyakinannya  sendiri. Ada kegelisahan yang bersarang di hatinya.

Di mulai dengan keyakinan soal sahihnya Bibel sebagai firman. Ia tahu persis bahwa Bibel itu telah diotak-atik selama masa penulisannya  sejak lama. Diperparah dengan ajaran-ajaran saksi Yehuwa yang dinilainya tidak masuk akal.

Berbagai cara dilakukannya untuk tetap berada dalam keyakinan ini. Selama tiga bulan, dirinya masih menyempatkan diri untuk datang mengikuti kebaktian dan misa.

Namun, justru itulah yang membuatnya semakin  yakin kalau ada yang salah dengan ajarannya. Setiap kali berdo’a Raphael kerap merasa frustasi. Sebab, Tuhan yang diyakininya terasa tidak berguna dan enggan berbuat  apa-apa mengatasi kegelisahannya. Perkataan para pastor dan pemuka agama pun hanya masuk selintas ke telinga. Lepas dari itu, keyakinan Raphael semakin tebal, bahwa memang ada yang salah dengan apa yang dianutnya.

“Sama sekali tidak menarik pikiranku, tidak juga hatiku,” ujarnya.

Lalu peristiwa ‘kebetulan’ itu tiba ke hadapan Rapahel. Ia bertemu dengan seorang Muslimah yang selalu tampak gembira dan ramah dalam menjalani hari-harinya. Raphael merasa aneh dengan hal ini. Sebab,  Muslimah itu selalu tampak yakin dan optimis dengan kehidupan yang hendak ia jalani. Berbeda dengan orang-orang yang selama ini ia temui.

Ketika diajak berbincang, Muslimah itu  malah mengajarkannya soal Islam. Tentang Allah dan umatnya. Pada saat itu, pikirannya belum bisa menerima Islam. Dirinya masih menganggap bahwa Islam bukanlah sebuah  agama. Namun, anehnya Muslimah itu malah menyuruh Raphael untuk membuka Bibel dan membandingkannya dengan Islam.

Mengikuti saran itu, Raphael lantas membaca berjam-jam isi kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama seperti Genesis (Permulaan), Deutoronomy (Ulangan), Exodus (Kepergian). Namun, kebingungan malah melanda hatinya. Lantas ia berpikir dan berkata; “Baiklah, aku adalah orang dengan pikiran terbuka sekarang. Aku akan mencari tahu tentang Islam,” tuturnya.

Mula-mula ia berpikir tentang jumlah Muslim dunia yang mencapai 1,2 miliar. Lalu Narbaez berpikir bahwa ternyata setan tak terlalu hebat untuk bisa memperdaya 1,2 miliar umat Islam, dan ia pun mulai membaca Alquran untuk mencari jawabannya.

Saat membaca Alquran, Raphael merasa kegelisahannya selama ini terjawab di dalamnya. Bahkan, ia bisa memahami Bibel setelah membaca Alquran. Lambat laun, hari-hari Raphael diisi dengan membaca Alquran, bukan Bibel seperti yang dulu biasa ia lakukan.

Dari proses membaca itu, Raphael ingin mengenal lebih dekat umat Muslim. Bukan pertemuan kebetulan dengan Muslimah di sebuah jalan yang dulu ia alami. Ia ingin melihat secara jelas apa dan bagaimana umat Islam itu memandang Tuhannya.

Menggunakan mobil pribadinya, Raphael mendatangi sebuah masjid yang berdiri di wilayah California bagian selatan. Namun, ketika sudah sampai di depan masjid ia malah berputar beberapa kali melewati masjid. Ia kemudian mencari-cari alasan untuk membatalkan niatnya memasuki masjid tersebut. Ia mendapatkan sebuah alasan. Kebetulan area parkir masjid tersebut penuh.

“Perutku menegang, rasanya seperti ketika kita diharuskan melakukan sesuatu sedangkan kita tidak menginginkannya,” katanya.

Namun, hatinya berbisik lain. Tangan Raphael malah kembali memutar mobilnya ke masjid. Ia bergumam; “Aku akan berputar sekali lagi. Jika tidak ada mobil yang keluar dari halaman masjid, aku akan pulang.”

Syukur, sebuah mobil keluar dari masjid tersebut. Dengan dada berdebar Raphael memarkirkan mobilnya di pelataran masjid. Lalu ia menghampiri sekelompok jamaah yang berkumpul di dalam masjid. Mereka menyambutnya sambil mengucap salam.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggandeng Raphael lantas mengajaknya berkeliling masjid. Hingga mengajarinya tata cara berwudhu segala. Raphael terkesima dengan rentetan kejadian ini. “Aku suka cara mereka (Muslim) menyucikan diri, dan semua amalan yang mereka lakukan,” ujarnya.

Lantas kekaguman itu semakin bertambah ketika Raphael memerhatikan gerakan ruku dan sujud, yang dimaknainya sebagai ekspresi makhluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Dalam hatinya muncul keinginan yang kuat untuk berdoa dengan cara yang dilakukan Muslim. “Saat itu saya merasa seperti pulang kembali ke rumah setelah lama bepergian.”

Tanpa menunggu lama, dari pertemuannya yang kebetulan dengan seorang Muslimah di jalan, keluarnya sebuah mobil dari pelataran parkir masjid, hingga seseorang yang mengajarkannya soal wudhu membuat hati Raphael mantap untuk masuk Islam. Ia yakin bahwa semua itu bukan peristiwa kebetulan semata. Ada kuasa Allah di dalamnya.

Kemantapan hati Raphael semakin kuat dengan firman Allah yang berbunyi. “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat,” (QS. An- Nasr).

(Ferry Fauzi Hermawan/ pelbagai sumber)

Kisahmuallaf.com / conversationislam.com, republika

Komentar ditutup.