Rangkaian Milad 12 Tahun Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) Dedikasi untuk Ibu dan...

Rangkaian Milad 12 Tahun Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) Dedikasi untuk Ibu dan Generasi

0 51

Bangsa Indonesia masih memiliki PR panjang terkait Angka Kematian Ibu (AKI). Dalam sosialisasi capaian kerja 2 tahun Jokowi-JK, Menkes Nila Djuwita Moeloek menyatakan angka kematian ibu melahirkan mencapai 4.809 orang pada tahun 2015.

Selain itu, angka kematian bayi pun mencapai 22.267 jiwa. Meski menurun dari tahun sebelumnya, masih jauh dari target AKI berdasarkan Millenium Development Goals (MDGs). Angka yang terbilang masih tinggi tersebut menandai banyaknya permasalahan di dalamnya. Dilansir dari laman tempo.co, salah satu penyebab angka AKI tinggi adalah pengetahuan kesehatan masyarakat yang minim (yang berimbas pada terlambatnya penanganan), kurangnya kesadaran gizi seimbang, juga akses kesehatan yang sulit dijangkau.

Untuk itu, Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) – Sinergi Foundation hadir di tengah kita. Terhitung 12 tahun usianya, RBC berkiprah di ranah kesehatan Ibu dan Anak dari kalangan lemah. Ada lebih dari 6 ribu keluarga yang sudah mencecap manfaat atas keberadaan institusi kesehatan di bidang persalinan ini.

Karenanya, di momentum 12 Tahun RBC ini, Sinergi Foundation menggelar Tausiyah dan Talkshow Parenting “Dedikasi untuk Ibu dan Generasi”, di Masjid Trans Studio Bandung, Selasa (25/10/2016). Acara ini adalah satu dari rangkaian kegiatan yang sedianya dihelat hingga puncaknya hari Ibu, Desember 2016 mendatang.

Menurut Direktur RBC, dr. Erni Trisnasari, tema tersebut sengaja diangkat, sebagai prinsip RBC yang berkomitmen mengabdi untuk kalangan lemah, utamanya di sektor kesehatan ibu dan anak. “Maka sejak kelahirannya 11 Oktober 2004 lalu, hingga kini, 12 tahun setelahnya, RBC tak berhenti, terus menebar energi positif, melalui pelayanan non stop 24 Jam bagi Ibu dan Anak dari kalangan lemah. Sepanjang masa itu pula, selama 7 hari sepekan, 24 jam sehari, tak ada cerita berhenti melayani kaum pinggiran. RBC menjadi saksi kelahiran bayi mungil dari keluarga kurang mampu, yang tengah berkutat dengan problem kemiskinan di negeri ini, yang jumlahnya hampir mencapai 7000 jiwa,” ungkap dokter alumnus Universitas Padjadjaran ini.

Belasan tahun berusaha istiqamah dalam bingkai “mengelola dengan profesional, melayani dengan maksimal” tentu bukan tanpa tantangan. Pahit manis melayani mereka yang papa, adalah menu harian. Yang pahit luruh tatkala atas izin Allah, tangan-tangan cekatan para bidan, dokter, dan segenap tim RBC begitu ringan melayani sesamanya, minus pamrih. Cukuplah senyum sang Ibu dan tangis bayi yang mengea kencang saat pertama lahir ke dunia, menjadi momen kebahagiaan bersama yang tak terungkap dengan kata-kata.

Maka 12 Tahun berkiprah, tentu sudah saatnya meniti tangga berikutnya. Tangga yang lebih dari sekadar mengelola dengan profesional, melayani dengan maksimal. Bukan melulu bicara tentang kompetensi. Bahwa profesional adalah sebuah keharusan, tentu tak bisa dielakkan. Tapi bicara karakter, tak sekadar menjangkau wilayah kompetensi.

“Dalam hal ini, karakter bicara tentang pengabdian, komitmen terhadap kemanusiaan. Bahwa tugas melayani adalah sebentuk pengabdian Pada Sang Khalik, yang dimanifestasikan pada hubungan kemanusiaan yang horizontal. Sebuah relasi yang menyetarakan. Dedikasi untuk Ibu dan Generasi,” ungkap dokter Erni.

Sejumlah pembicara kenamaan hadir dalam event kali ini. Di antaranya: ulama kenamaan Jawa Barat, KH Miftah Faridl; ketua PKK Kota Bandung, Ibu Atalia Praratya; praktisi parenting, Rani Razak Noeman; dan praktisi kesehatan yang juga Kepala DInas Kesehatan Jawa Barat, dr. Alma Lucyati. [rilis]