Ramadhan, Momen Tuntaskan Krisis Pengungsi Suriah

Ramadhan, Momen Tuntaskan Krisis Pengungsi Suriah

ALHIKMAHCO,– Bulan suci Ramadhan telah tiba. Waktunya umat Islam di seluruh dunia menahan diri dari rasa lapar, dahaga, juga hawa nafsu, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Makna Ramadhan, bisa jadi, lebih dari itu. Ini adalah kesempatan bagi muslim menyucikan jiwa, memusatkan perhatian hanya pada Allah, serta mempraktikkan disiplin dan pengorbanan diri.

Pun, ini adalah waktunya umat Islam mengingat saudaranya yang kurang beruntung di belahan dunia sana. Mereka bisa menyisihkan sebagian kekayaan mereka untuk berderma pada sesamanya. Di bulan suci ini, umat Islam juga bisa menyoroti pada krisis pengungsi. Itu adalah topik yang menjadi agenda utama World Humanitarian Summit. Pemerintah Kanada sendiri telah mulai mencoba mengenali, dan menyambut para pengungsi Suriah di negeri mereka.

Perang, konflik berkepanjangan, penganiayaan di Suriah, Irak, Afghanistan, atau Somalia, memaksa lebih dari 60 juta orang penduduknya melarikan diri dari negeri mereka sendiri. Setiap tahunnya, saya menemukan semakin banyaknya keharusan bagi kita sebagai muslim untuk merespon krisis pengungsi. Efek perang di Timur Tengah telah menghancurkan hidup jiwa-jiwa yang tak bersalah dalam kasus ini.

Sebagai seorang relawan kemanusiaan, saya telah mengunjungi berbagai negara di masa-masa konflik. Saya menyaksikan betapa menyayatnya perasaan tak tega dan kasihan yang ditunjukkan warga setempat pada pengungsi di Pakistan, Yordania, dan Libanon. Perasaan simpati itu juga mempengaruhi kebijakan para pemimpin dunia, dan jutaan masyarakat Internasional.

Namun, yang menyedihkan, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan pengungsi, kita melihat justru sebagian masyarakat global justru antipati pada mereka. Jika negeri-negeri seperti Turki, Yordania, Jerman, dan Kanada membuka lebar pintu mereka, negeri-negeri lain malah mengubah kebijakannya, dan membendung warga yang hendak mengulurkan tangannya. Padahal, bagi sebagian lainnya, gambaran para pengungsi ini berjalan ratusan mil, tenggelam di Laut Mediterania, dan tinggal di kamp pengungsian sepanjang hidup mereka sangat menyentuh hati.

Kita selalu terlalu sibuk dengan wacana politik kelas tinggi, tentang bagaimana mengakhiri konflik dan perang. Tapi kita kerap lupa imbasnya pada masyarakat biasa yang melihat kehidupan para pengungsi ini hancur di mata mereka sendiri.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, Islam secara spesifik memiliki aturan-aturan dan tanggungjawab mengenai hal yang berkaitan dengan kepengungsian. Ini terlihat dari cara Rosul saat menyuruh sahabat-sahabatnya menyelamatkan diri, dan berlindung di komunitas Kristen di Abyssinia. Ada satu hadits yang begitu menggugah terkait hal ini:

“Tidaklah kamu sekalian menjadi seorang mukmin, kecuali kamu mencintai saudaramu seperti mencintai diri sendiri.”

Kami, para relawan kemanusiaan, ingin mengingatkan dunia atas tanggungjawab bersama dalam merespon krisis pengungsi ini. Sebagai seorang keturunan Yaman-Inggris yang hidup di Kanada, saya sendiri begitu terpukau dengan kemurahhatian warga Kanada dari berbagai ras, agama, dan latarbelakang yang bersama-sama merangkulkan tangan pada para pengungsi Suriah.

Barangkali, dunia bisa berkaca pada cara Kanada. Tak ada orang yang ingin terlahir menjadi pengungsi. Ini adalah krisis yang akan terhempas sendirinya. Kita,  harus saling bekerjasama, beraksi mencari solusi.

Artikel ini ditulis oleh Zaid Al-Rawni, CEO Islamic Relief Canada di kanal Huffingtonpost. Diterjemahkan dan disunting sesuai kebijakan keredaksian.