Radikalisme Subjektif BNPT Dianggap Rancu dan Picu Resistensi Bangsa

Radikalisme Subjektif BNPT Dianggap Rancu dan Picu Resistensi Bangsa

0 41
pict.arrahmah

ALHIKMAH.CO – Banyak pihak yang menduga, makna radikal yang tertuju pada 22 situs Islam yang diblokir itu definisi subjektif versi pemblokir (red_BNPT). Salah satu pihak yang mengungkapkannya adalah Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya.

“Pemblokiran situs Islam ini sebuah tindakan represif negara, Ini gaya ‘jalanan’,” sindir Harits saat dihubungi Alhikmah, Kamis (02/04/2015).

“Kenapa jalanan, karena seharusnya semua melalui mekanisme pengadilan. Seolah memaksa dan dipaksakan, makna radikalisme ini terlihat hanya subjektifitas. Ini persoalan paradigma mendasar yang cacat yang dimiliki BNPT,” lanjutnya.

Harits beranggapan, terlihat inti dari paradigma BNPT ini tidak menghendaki kebangkitan Islam yang hendak menerapkan syariat secara kaffah di Indonesia. Melalui tindakan ini,  imbuhnya, yang mereka kehendaki Indonesia menjadi negara sekuler yang liberal dan akomodatif kepada kepentingan Barat dan antek-anteknya yang opurtunis.

Selaku pemerhati kontra terorisme, Harits menegaskan langkah BNPT ini tidak akan menyelesaikan akar masalah. Malah, memancing problematika baru sehingga resistensi umat Islam semakin kuat kepada rezim yang berkuasa saat ini.

Harits menyimpulkan, paradigma BNPT yang dirasa tidak fair dalam persoalan terorisme dan politik keamanan, menjadi titik krusial munculnya kebijakan-kebijakan yang kontroversi, seperti saat ini. (Dita/Alhikmah)