Proses, Ketekunan, Harapan  

Proses, Ketekunan, Harapan  

2 89

ALHIKMAHCO,– Mulanya adalah harapan. Membuahkan ketekunan. Ketekunan yang diturunkan menjadi rangkaian-rangkaian proses dalam menjalani kehidupan. Hidup itu adalah perubahan. Namun, bukankah perubahan itu dilandasi oleh proses-proses yang berkelanjutan?

Konon untuk menjadi seorang peneliti tangguh, seperti Albert Einstein misalnya, diperlukan seratus jam terbang penelitian. Proses penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Tanpa henti atau sekadar melemparkan handuk putih ke arena pertarungan.

Kira-kira seperti itulah hari-hari kita dalam menjalani sebuah kehidupan. Mempunyai harapan yang sangat besar untuk menggapai sebuah titik. Klimaks yang menandakan bahwa kita diciptakan tidaklah berwujud sia-sia belaka tapi mempunyai makna. Namun, kepada siapakah kita harus menggantungkan harapan? Lalu harapan apakah yang harus kita wujudkan?

Inilah yang membedakan umat muslim dengan umat-umat yang lain. Dalam Islam, umatnya diajarkan untuk selalu mempunyai harapan. Berpikir positif dalam menjalani kehidupan yang telah diamanahkan. Kemudian menggantungkan harapan tersebut pada yang Mahakuasa dengan jalan mewujudkannya sekuat tenaga.

Namun, kadangkala dalam perjalanannya kita seringkali menyerah. Ketekunan yang dulu kita pupuk sebagai tenaga hilang begitu saja. Ketekunan itu hilang bersama rasa frustasi, depresi hingga ujung-ujungnya kita berkata ‘Aku tidak bisa!’. Padahal doa dan tenaga telah diupayakan. Apakah Tuhan enggan mengabulkan harapan?

Alkisah, di sebuah sudut perkotaan hiduplah seorang nenek renta penjual tempe. Hampir setengah dari usianya ia habiskan untuk membuat makanan yang dihasilkan dari kacang kedelai ini. Tempe-tempe itu ia bikin sendiri dengan tangannya yang telah berlumur urat dan keriput. Tangannya begitu lincah membuat adonan hingga menjadikannya sebuah tempe yang akan ia jajakan di pinggir jalan.

Namun, pada hari itu entah mengapa tempe yang semalaman ia buat tak kunjung mekar. Tempe-tempe itu hanya masak setengah matang. Padahal ia telah menjalani proses pembuatan tempe sedemikian rupa. Tanpa cacat dan ketekunan yang tak terkira. Nenek itu hanya tertunduk lesu. Sadar bahwa hari itu tak akan ada yang hendak membeli tempe buatannya.

Nasi telah menjadi bubur, tempe yang setengah matang ia bawa juga akhirnya ke pinggir jalan tempat biasa menjajakan dagangan. Berkali-kali calon pembeli datang menghampiri tempe buatannya, namun yang ia terima selalu pertanyaan yang sama, ”Nek mengapa tempenya hanya setengah matang?”

Nenek itu hanya menjawab dengan senyuman. Lewat garis matanya yang sayu ia hanya bisa berucap lirih kalimat istigfar. Dalam hati sebenarnya masih terselip sebuah harapan. Digantungkan dengan keyakinan akan ada orang yang membeli tempe setengah matang. Maka pada setiap orang ia tawarkan tempe setengah matangnya. Suaranya serak merobek sudut jalan. Hingga;

“Akhirnya saya temukan juga tempe setengah matang. Aduh, nek saya cari dari tadi tempe seperti ini. Itu anak saya yang di Australi, pengen dikirim tempe dari sini. Kalau misalnya saya beli tempe yang sudah jadi kalau dikirim ke sana nanti pas dibuka takut basi. Kalau setengah matang, kan sampai sana malah jadi matang,” ungkap seorang ibu dengan mata yang berbinar.

Entahlah, terbayang jika seandainya nenek pembuat tempe itu menyerah dari keinginannya untuk menjajakan tempe setengah matangnya. Terbayang jika nenek itu hanya frustasi mengetahui bahwa tempenya hanya setengah matang. Terbayang jika nenek itu enggan untuk berjualan. Mungkin ia tidak akan mempunyai uang.

Dari nenek pembuat tempe itu, kita belajar bahwa masih ada harapan. Di antara satu kesulitan selalu ada dua jalan kemudahan. Asal kita mau menjalani proses, dibumbui dengan ketekunan hingga mencapai titik harapan. Nenek itu bisa, apalagi kita yang masih mempunyai usia yang lebih muda. Gantungkanlah harapan dan sang Mahapencipta pasti akan memeluk harapan itu. Wallahua’lam.

Karena itu bersabarlah engkau. Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan janganlah engkau merasa kecil hati terhadap orang-orang yang tidak meyakini Hari kiamat itu. (Ar-Rum: 60)