Problem Agama di Masa Modern, Makna Beragama dalam Islam

Problem Agama di Masa Modern, Makna Beragama dalam Islam

0 103
mayleni297 BLOG

ALHIKMAHCO,– Ide-ide terkait Pluralisme Agama, Toleransi, Klaim Kebenaran (truth claim), dan Spiritualisme dari waktu ke waktu tak pernah surut. Hadir dengan dinamika yang terus diperbarui, namun esensinya sama.

Mengusung ide semua agama benar. Semua agama tidak boleh merasa benar sendiri, karena kebenaran bersifat relatif. Rasanya itu semua tak pernah surut terdengar dari mulut pelbagai kalangan, khususnya aktivis-aktivis liberal dan orientalis. Belum lagi, istilah spiritualisme yang mengemuka, paham tentang antara mengaku adanya tuhan tapi tidak beragama, dan beragama tapi tidak mengakui tuhan.

Pelecehan cum penghinaan terhadap agama secara keseluruhan pun kerap dilancarkan. Memang bukan barang baru. Para orientalis mengatakan agama hanyalah pengekang pengekspresian manusia terhadap tuhan, orang yang beragama itu dikatakan sakit jiwa, dan sebagainya.

Namun benarkah demikian? Benarkah semua agama benar? Benarkah kebenaran itu relatif? Sebagaimana mengutip gagasan yang dikemukakan Cendekiawan muslim Prof. Naquib Alatas, ia membagi makna agama dalam Al Quran ke dalam empat term penjabaran.

Bermuara pada makna Dien, hilir dari lafadz tersebut dibagi ke dalam empat terminologi, di antaranya:

Keberhutangan

Kekuasaan hukum

Penyerahan diri (aslama)

Kecenderungan alamiah (fitrah)

Keberhutangan

Ada makna yang serupa secara bahasa dari kata Dien, yaitu : Yang berutang (daa’in), yang terutang (daa’in), kewajiban pengutang (dayn), peradaban (tamaddun), masyarakat kota (madinah), pemberian hukuman (idaanah).

  • keberhutangan manusia ini didasari pada dua hal, yakni utang eksistensi (wujud) dan utang pemeliharaan| Wujudnya manusia ke dunia ini tidak wujud dengan sendirinya, tapi ada yang mewujudkan. Pun keberlangsungan kehidupan manusia hingga saat ini, hakikatnya atas qudra dan iradah Allah, bagaimana Ia menyiapkan Tanah, Air, udara dan segenap elemen lainnya untuk kebutuhan hidup manusia. Bukan hanya itu, Allah juga memberikan kita akal dan agama, sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk2 lain.
  • Maka sebuah kewajaran bila manusia menjadi hamba Allah. sebab wujudnya kita dan keberlangsungan kita di sini, atas Maha kebaikanNya. Sebagaimana wujud bakti kita kepada orang tua, khususnya ibu, yang telah melahirkan, menyapih, dan mendidik hingga kita tahu mana hitam dan putih. Wajar bila kita berbakti padanya, jelas bagi sepasang orang tua, tak pernah terbesit mengharap balas dari anaknya, namun disebut apa bila sang anak tak berbakti dengan sedemikian pengorbanan orang tua? Pun hal yang sama berlaku, antara kita dan Tuhan.
  • Sebagaimana yang termaktub dalam surat Yunus ayat 31 dan Fushilat ayat 53, semua ini mejadi tanda ada yang menciptakan dan memelihara kita oleh Zat yang lebih tinggi.
  • Maka utang-utang itu, dalam sudut pandang manusia, menjadi wajib “dibayar” atau dikembalikan kepada yang Memiliki. Lantas dengan apa? Sementara semua yang melekat pada manusia adalah milik Allah Swt., tiada lain dengan menyerahkan diri kita berbakti atau dalam istilah Al Quran, beribadah kepada Allah. menjadi hambaNya.
  • Diin itu menghidupkan manusia, menghidupkan dan memberi kehidupan jiwa manusia dari kematian.
  • Utang yang dibayarkan ini menyebabkan terjadinya perniagaan dengan Allah. Diin sebagai perniagaan dengan Allah >> pengembalian utang (amal ibadah ) ini disebut perniagaan. Setiap kali manusia mengembalikan utang tersebut, Allah akan mengganjarnya dengan pahala (laba). Sehingga disebut perniagaan yang menguntungkan, karena modalnya dari Allah, pembayarannya dengan amal ibadah, dan ketika manusia melakukan itu, Ia akan mengganjar dengan kebaikan. Surat 61: 10, 35 : 29, 2 : 245.

Diin Sebagai Kekuasaan Hukum

  • Dari sisi Allah, karunianya terhadap manusia memberikannya kekuasaan hukum atas manusia. Kekuasaan itu meliputi otoritas raja (kekuasaan memerintah), otoritas peraturan (kekuasaan mengatur), otoritas penghakiman, (kekuasaan menetapkan hitam – putih), otoritas pembalasan (kekuasaan memberikan ganjaran dan balasan).
  • Keberutangan kita menjadikan hak Allah untuk mengatur kita. Surat 4:1, Ia berhak memberikan pembalasan (pengauditan) atas segala perilaku di dunia. Ini merupakan bentuk pengakuan manusia terhadap otoritas Allah Swt (Q.S 7: 172).

Diin Sebagai Penyerahan Diri (Aslama)

Makna Islam yang lebih tepat adalah penyerahan diri. Bentuk kaata dasarnya dari aslama, bukan salama (selamat), walaupun bisa diarahkan ke sana.

  • Seperti sebelumnya yang telah dijelaskan, keberutangan manusia menyebabkan manusia dibebani kewajiban (dayn).
  • Dalam sudut pandang manusia sendiri, ia menjadi harus taat terhadap pemberi utang (Allah),
  • ketaatan ini harus dibayar dengan penyerahan diri secara total, mulai dari hati, lisan, maupun perbuatan. Sebab apa yang kita punya ini hakikatnya milik Allah.
  • Penyerahan diri ini, dilakukan dengan sadar dan penuh kerelaan, tanpa paksaan (laa ikraha fii dien).
  • Sebagaimana simbolik penyerahan diri Jepang pada sekutu pra kemerdekaan, bukan jepang yang mengajukan syarat, melainkan dari sekutu. Pun juga dengan penyerahan diri kepada Allah, manusia yang ikut aturan Allah (wahyu yang diturunkan), tidak semaunya. Surat Al Imran : 85, An Nissa : 125)

Diin Sebagai Kecenderungan alamiah (Fitrah)

Fitrah adalah pola yang mendasari segala sesuatu yang diciptakan Allah. sesuai dengan tujuan penciptaan.

  • Letak ujian manusia diberi hawa nafsu dan akal untuk memilih hidup sesuai fitrah atau tidak.
  • Ketika sesuatu sesuai fitrahnya, disitulah timbul keadilan, semua berdasarkan fungsi yang diciptakan.

Komentar ditutup.