Petik Pelajaran Kematian dari Ibadah Haji

Petik Pelajaran Kematian dari Ibadah Haji

0 84
Pengajian Psikologi Papandayan di Bandung,.

ALHIKMAHCO,– Ada tiga poin pembelajaran yang didapat ketika melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Yaitu: belajar mati, belajar  hidup, dan belajar bahagia. Demikian sepenggal tausiyah dari Ustadz Budi Prayitno kepada segenap jamaah ‘Pengajian Psikologi Papandayan’.

“Ketika melakukan ibadah haji, sebetulnya kita sedang belajar ‘mati’. Hal ini bisa dilihat dari kain ihram yang serba putih bak kain kafan,” ucap ustadz Budi di Masjid Surya Al Athaya Hotel Papandayan Bandung, Kamis, (1/10/2015).

“Ditambah, tergambar dalam Kalimat Talbiyah yang menekankan pujian, kenikmatan, dan kekuasaan yang semata diserahkan kepada Allah Swt,” lanjutnya.

Pengisi Rubrik Inspiring Quran di Tabloid Alhikmah ini mengibaratkan jamaah haji laiknya mayat yang tidak boleh menggerutu, tidak ingin dipuji, bahkan tidak bisa sok kuasa. Bahkan, lanjutnya, di daratan Arafah digambarkan sangat kecil di antara jutaan manusia, yang juga miniatur gambaran Padang Mahsyar. Tempat ketika semua umat dibangkitkan dan dikumpulkan di suatu tempat untuk dihisab amalannya.

“Memang seharusnya manusia selalu ingat akan kematian, bukan hanya ketika berhaji saja, karena hikmah siap mati, akan menjadikan manusia rendah hati, tidak serakah, banyak beramal, banyak beribadah, pokoknya selalu berusaha dekat dengan Allah,” tuturnya.

Selanjutnya, pembimbing haji Miraj Travel ini melanjutkan pembelajaran haji yang kedua adalah belajar hidup. Katanya, pergi haji dan hidup sama artinya dengan ujian. “Sama halnya  ketika menjalankan hidup selalu ada ujian, begitupun saat haji pasti ada saja ujiannya, bisa datang dari mana, dari siapa saja, apakah kita ikhlas dalam menjalani ujian tersebut?” tanyanya.

terakhir, pergi haji sama dengan belajar bahagia. Dalam penjelasan Ustadz Budi, proses tiap proses dari perjalanan ibadah haji selalu dijalani dengan hati penuh kebahagiaan.

“Ketika mulai mendaftar, lalu saat manasik, tiba di Mekkah, Mina, Mudzdhalifah, semuanya dipenuhi kebahagiaan. Karena tidak selalu kebahagiaan didapat dari kesenangan, tapi justru kebahagiaan didapat dari kesusahan dan kesukaran, ‘Inna ma ‘al usri yusro fa inna ma’al yusri yusro’, beserta kesulitan datang kemudahan,” pungkas Ustadz Budi. (Dita Fitri/alhikmahco)