Pesan Damai dalam Sepotong Amanda Brownies

Pesan Damai dalam Sepotong Amanda Brownies

0 31

“…Kala mencetuskan ide itu, ia berharap bisnisnya ini bisa dibesarkan dan diteruskan lagi oleh keluarga besarnya dengan rukun.

Satu kotak brownies itu tersaji di meja. Berwarna gelap, padat, dengan aroma cokelat memikat hidung manapun yang menciumnya. Ema memotong seperdelapan bagian dari kue kukus itu. Pelan-pelan, ia menggigit browniesnya. Satu kunyah, dua kunyah, Ema meresapi rasanya. Lembut, gumamnya. Di samping Ema, kawannya berseloroh, “Memang lembut, karena ini tak dipanggang seperti brownies umumnya!”

Konon, begitulah awalnya Brownies Amanda merebut perhatian masyarakat. Teksturnya empuk, karena ia dibuat dengan cara dikukus. Tersohor karena kelembutannya, Amanda pun dikenal sebagai brownies kukus pertama di Bandung.

Adalah Sumiwiludjeng, sang empu yang melahirkan resep lezat brownies yang kini menasional ini. Sejak dulu, ia yang sempat mengenyam pendidikan di jurusan Tata Boga ini memang getol membuat bisnis kue kecil-kecilan untuk menunjang ekonomi keluarga. Namun, pekerjaan suami yang mengharuskan mereka berpindah-pindah tempat tinggal menyebabkan usahanya tak begitu berkembang.

“Sejak 1964, kami selalu mencoba berbisnis. Saya pernah menjual kue, kacang goreng, atau makanan kecil lainnya,lalu dititip ke warung. Saya tak malu berjualan seperti itu,” kisah wanita yang karib disapa Bu Sum ini.

Pada tahun 2000, kesempatan berbisnis secara serius itu datang. Sang suami tak lama lagi pensiun, dan rencananya akan kembali menetap di Bandung. Sebagai persiapan menuju hari-hari pensiun itu, ia menerima pesanan kue dari kerabat-kerabat mereka. Sang adik yang ikut membantu, memberinya inspirasi cikal bakal brownies kukus.

“Dia sendiri belum pernah mencoba, Awalnya saya kira akan seperti bolu biasa, namun ada beberapa bahan yang membuatnya khas brownies,” lanjutnya.

Karena masih tahap percobaan, ada masa di mana Bu Sum menjajakan kue barunya ini secara gratis. Biasanya, brownies kukus itu ia selipkan di antara kue-kue pesanan yang dibuatnya. Mula-mula, kue itu dicoba oleh kerabat dekatnya, berlanjut pada tetangga-tetangga sekitar rumah, hingga akhirnya banyak orang berminat pada kue buatannya ini.

Sejak itu, dimulailah perjalanan Bu Sum mengembangkan bisnisnya ini. Ia mengaku menyisihkan penghasilan dari pesanan kue untuk dijadikan modal utama menyeriuskan usaha brownies. Saat itu, keluarganya mau tak mau harus mengencangkan ikat pinggang demi berhasilnya usaha sang ibu yang masih seumur jagung.

Seiring dengan perkembangannya, ia pun menamai produk browniesnya ini “Amanda’, yang berarti Anak Mantu Damai. Kala mencetuskan ide itu, ia berharap bisnisnya ini bisa dibesarkan dan diteruskan lagi oleh keluarga besarnya dengan rukun.

“Sebagai orangtua, saya berharap kalau anak-anak saya bisa membangun suatu keluarga yang damai. Kemudian, suasana damai itu bisa diturunkan kepada anak-anak mereka,” ungkapnya.

Berbekal ketekunan, kerja kerasnya itu menuai hasil. Menginjak tahun ke-16, masyarakat kian menggemari brownies Amanda. Bahkan, browniesnya ini sempat secara tak langsung dijadikan sebagai makanan khas Bandung.

Kendati telah berkembang pesat, Bu Sum mafhum jika kelak masyarakat akan bosan dan jenuh dengan brownies. Ia tak lantas kehabisan akal menginovasi Amanda. Ia membuat 47 item kue yang dipersiapkan sebagai antisipasi, juga pengganti jika masyarakat tak lagi ingin memakan brownies yang begitu-begitu saja.

“Buat inovasi, dan yang paling penting, kualitas harus terus terjaga,” tukasnya.

 

Bisnis Keluarga

Mimpi Bu Sum menjadikan bisnis Amanda sebagai penopang perdamaian keluarga, rupanya perlahan terwujud. Setelah sang suami meninggal, ia merasa sudah waktunya untuk menyerahkan perkara bisnis ini pada empat anaknya. Bu Sum menyerahkan tampuk manajemen secara merata pada anak-anaknya.

Sebagaimana misi awal agar ‘anak mantu damai’, ia sangat berharap tak ada konflik ketika keempat anaknya mengambil alih perusahaan. Ia kerap mengingatkan anak-anaknya bahwa jatuh bangun usaha ini telah menginjak usia 16 tahun, dan satu keluarga ikut andil dalam perjuangannya. Sehingga, mereka tak fokus pada perbedaan pendapat yang berpotensi pada konflik.

Sejak dulu, ia memang sangat memperhatikan masalah keluarga. Selain persatuan, ia berprinsip untuk harus berlaku adil pada mereka. Pun dalam masalah Amanda, ia mengajarkan anak-anaknya agar berlaku adil pula pada para karyawan. Amanda harus dikelola secara profesional, namun tidak otoriter. Ibarat keluarga besar, tak boleh ada kesenjangan antara pihak manajemen yang dipegang anak-anaknya dengan karyawan.

Kini, di tangan keempat anaknya, Amanda terus melambungkan namanya. Di kancah nasional, mereka memiliki 60 outlet di seluruh Indonesia. Untuk mempermudah persebaran distribusi, Amanda pun mendirikan pabrik di lima kota besar selain Bandung, yaitu Surabaya, Palembang, Balikpapan, Makassar, dan Medan.

“Amanda menjadi besar seperti sekarang, tidak lepas dari campur tangan anak-anak saya,” cetusnya.

Dalam berbisnis, Bu Sum menyadari bahwa hakikatnya apa yang selama ini diusahakannya itu juga demi membuka pintu rezeki orang lain. Seiring dengan terus majunya Amanda, ia bersyukur bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi karyawan-karyawannya. Memang belum banyak, namun keluarganya bisa membantu sesama.

Bu Sum terus men-support anak-anaknya agar bisnis Amanda ini maju. Dengan begitu, semakin banyak orang yang terbantu dengan dibukanya lowongan pekerjaan. Juga, ia bisa menolong para petani yang menjadi penyedia bahan baku mereka.

“Amanda bisa menginjak posisinya saat ini, semata dengan bantuan keringat mereka juga,” pungkasnya. (Aghniya/Alhikmah)