Perjalanan Hidup Aa Gym dalam Episode’Move On’ dari Geger Kalong

Perjalanan Hidup Aa Gym dalam Episode’Move On’ dari Geger Kalong

0 984

Episode ’badai’ telah berlalu. Aa Gym berusaha ‘Move On’, bangkit kembali menyongsong hari depan. Membangun keikhlasan, tanpa topeng diri, dengan cara semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

ALHIKMAH.CO–Kumandang adzan menggantung di langit Daarut Tauhid, Bandung, memanggil setiap insan berjumpa dengan Rabbnya. Senja yang syahdu, dibasuh beningnya air wudhu, menyegarkan wajah-wajah yang bersiap menegakkan shalat Ashar di sana beberapa waktu lalu. Tak lama, keluar sosok bersarung dengan kepala berbalut sorban, memimpin barisan ma’mum tunaikan kewajiban.

“Allahu akbar..” suara yang khas memimpin shalat. Ialah Founding Father sekaligus Pimpinan Pesantren Daarut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar. Lepas shalat, Alhikmah berkesempatan berbincang ringan dengannya, tentang pasang surut perjalanan kehidupan satu di antara sedikit tokoh negeri ini yang wajahnya pernah menghias sampul majalah kenamaan dunia, Time.

Tak pernah terbayangkan dalam benak, DT akan kembali ‘hidup’ seperti sedia kala, bahkan lebih. Senyum para santri yang menghias hari-hari, ribuan Jamaah yang menyesaki Masjid hingga pelatarannya demi mereguk manisnya ilmu yang terpancar dari lisan para Assatidz, di antara atmosfir yang kembali hadir setelah sekian lama tak begitu terasa.

Badai ujian yang mengguncang diri dan keluarga beberapa waktu ke belakang, menjadi titik balik untuk bangkit. Bagaimana seorang Abdullah Gymnastiar menghadapi badai ujian kehidupan, lalu bangkit menyongsong hari depan? Adakah perbedaan Aa Gym dulu dan sekarang?

Inilah episode Move On Sang Da’i Dari Geger Kalong.

Pada Mulanya ‘Bengkel Akhlak’

Kontrakkan mungil dua kamar milik Pak Sobarna yang disewa Aa Gym dan istri (Teh Ninih Muthmainnah) di bilangan Geger Kalong Bandung itu kian didatangi para mahasiswa, terutama dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan/IKIP  (Kini Universitas Pendidikan Indonesia/UPI). Mereka menyebutnya ‘Bengkel Akhlak’, lantaran materi kajiannya yang relatif ringan, namun menyejukkan jiwa. Kamar depan digunakan untuk mushala kecil, tempat Aa berbagi ilmu kepada para mahasiswa dan masyarakat sekitar. Satu kamar lagi, ia tempati bersama sang istri, yang baru saja dinikahi beberapa waktu sebelumnya.

Sambil usaha kecil-kecilan, alumnus Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani (AKA, Sekarang Unjani) ini terus berdakwah hingga masuk ke pelosok kampung. Mulai dari berjualan buku di Masjid Al Furqon UPI, sambil mendengar kajian, membuat handicraft, hingga menjual bakso yang kemudian gulung tikar, Aa Gym lakoni semua itu.

Pantang menyerah, Aa Gym pun menabung agar dapat membeli mesin jahit. Teh Ninih dengan keterampilan menjahit, membantu membuat pakaian, hingga terkumpul beberapa tetangga menyokong usaha mereka. Pahit getir kehidupan berdua dinikmati, dijalani.

Pada tahun 1990 pula, ia mendirikan Pondok Pesantren Daarut Tauhid di rumah orang Tua Aa, di daerah Masjid KPAD, Geger Kalong.

Sambil mencoba beragam usaha, pengajian Aa Gym mulai ramai didatangi. Hingga tahun 1992, ia memberanikan diri mengontrak sebuah rumah lagi, di samping kontrakanya, lantaran tak muat tempat menampung jama’ah. Pemilik kontrakan kemudian menawarkan untuk membeli saja rumah yang mereka sewa, agar lebih leluasa.

“Pikiran dan tenaga saya benar-benar dikuras mencari uang. Usaha saya selama itu belum lah sampai 100 juta (harga rumah saat itu-1992). Saya lebih banyak menggantungkan diri pada pertolongan Allah sembari terus berikhtiar,” kenang Aa Gym. Ke sana kemari, ia berikhtiar, bahkan sempat mengirim surat kepada KH Zainuddin MZ.

“Surat itu tak pernah berbalas,”kenang Aa Gym. Malah, yang terjadi ekpos media terhadap permasalahan ini. “Alhasil, sumbangan yang luar biasa dari umat mengalir lantaran pemberitaan ini…Alhamdulillah,” tambah Aa Gym.

Tahun 1993, Pondok Daarut Tauhid pindah dari rumah orang tua Aa Gym ke rumahnya sendiri. Rumah mungil tempat mengaji 20 tahun silam, buah sedekah kaum muslimin inilah tempat Masjid Daarut Tauhid dua lantai berdiri tegak hingga kini. Cikal bakal pesantren Daarut Tauhid.

 Di Puncak Popularitas

Dakwah Aa Gym, yang membahas hal-hal sederhana, ringan, aplikatif mulai dikenal masyarakat. Usaha demi usahanya pun berjalan dengan baik. Pesantren DT pun dirancang agar dapat mandiri. Akhir tahun 1990, Aa Gym aktif di dunia pergerakan Islam di Bandung, dan juga dakwah dari satu tempat ke tempat lain. Hingga awal tahun 2000-an, sosok Abdullah Gymnastiar mulai dikenal di layar Televisi dengan ceramahnya yang menyentuh kalbu.aa gym“Manajemen Qolbu bukanlah karangan saya. Saya sebetulnya hanya mengutip dari Al Quran. ‘Amat beruntung orang yang menyucikan dirinya dan merugi yang mengotorinya (QS As Syams: 9-10), dan hadits Rasulullah tentang ada satu bagian tubuh jika baik maka baik seluruhnya, jika buruk, buruk seluruhnya, itulah yang dinamakan kalbu. Menyimak dari itu, dikemaslah dalam bahasa yang lebih aktual, Manajemen Qolbu,” kenang Aa Gym.

2001, Aa Gym melepas pelaksana harian DT, dan menjadi Pembina Yayasan Daarut Tauhid. Sejak saat itu pula, beliau fokus membesarkan bisnis pribadinya, MQ Corporation. Nama Aa Gym semakin dikenal, hingga kerap muncul di layar TV, digandrungi ibu-ibu, jamaah yang tak henti-hentinya datang ke DT. Jadwalpun semakin padat, hingga Aa Gym diundang berdakwah ke mancanegara, bahkan diliput media-media Barat.

Badai Ujian

Hingga pada satu titik, tahun 2006. Ketika Sang Da’i memutuskan berpoligami. Hal tersebut, dianggap sebuah ‘dosa’ oleh sebagian media mainstream, ‘penguasa’ opini di negeri ini. Hingga biduk rumahtangganya ‘diserang’ dari pelbagai arah. Kondisi pun, diakui Aa Gym berubah. Jama’ah mulai berkurang cukup drastis, hingga ia tenggelam selama sekian waktu dari layar kaca.

Diguncang badai bertubi-tubi, Aa Gym berusaha tegar. Ia menganggap itu sebagai bagian dari ujian, bukti kasih sayang Allah Ta’ala pada hambanya. “Tentang jamaah, waktu ada ujian masih ada yang datang, cuma jamaah yang datang kali ini mereka yang hanya memang mau belajar tauhid, akhlak, jadi walaupun ada gonjang ganjing tidak pernah nol,” kata Aa Gym.

Enam tahun berlalu, 2013 Aa Gym kembali diterpa isu miring tentang keluarganya, namun Aa Gym dapat melaluinya dengan memasrahkan kepada Allah. Kepada Alhikmah, Aa Gym mengaku bahwa dulu dirinya sempat terlena dengan dunia yang Allah bukakan untuknya.

“Dulu awalnya saya sempat terlena, hanyut oleh kesenangan duniawi, ketika diuji popularitas sangat diperbudak, merasa enak. Namun kemudian saya sangat disibukkan dengan penilaian makhluk (manusia), jujur kondisi seperti itu sangat meletihkan, membuat kita hanya sibuk dengan bungkus. Dan Allah yang Maha Baik, tahu apa yang ada dalam hati saya, Allah memberikan jalannya agar saya bisa lepas dari jeratan itu semua. Mudah-mudahan dengan adanya karunia Allah dalam bentuk yang mungkin bagi orang lain ini mengaggapnya ini kejatuhan duniawi, tapi bagi keluarga kami adalah keberkahan tiada tara,” papar Aa Gym.

Alih-alih putus harapan, episode ‘Badai’ dalam kehidupannya itu justru membuat membuat Aa Gym justru kian dekat dengan sang Pemberi Ujian. “Betapa bersyukurnya saya diberikan episode dicaci maki, difitnah, dan ini bagi saya merupakan episode yang sangat menyelamatkan dari illah-illah dunia, melepaskan dari tuhan-tuhan yang lain. Jadi saya menganggap apa yang saya alami dulu merupakan karunia dan kecintaan Allah terhadap saya,” tambah Aa Gym.

Episode Move On

Episode ’badai’ telah berlalu. Aa Gym berusaha ‘Move On’, bangkit kembali menyongsong hari depan. Membangun keikhlasan, tanpa topeng diri, dengan cara semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. “Bangkit itu adalah perubahan pada diri seseorang dari yang awalnya bergelimang dosa, atau menuhankan kepada selain Allah (syirik), menjadi bertauhid.  Itulah kebangkitan yang paling penting. Dari lalai menjadi ingat, dari lemah menjadi bersungguh-sungguh, dari kemunafikan menjadi shidiqiyah,” tegas Aa Gym.

Tujuh tahun lamanya, Aa Gym berusaha ‘Move On’, memulai ‘hidup baru’. Kini, Aa Gym baru, berbeda dengan sebelumnya. Selain kuasa Allah, diakui Aa, banyak pihak yang membuat dirinya bisa tegar menghadapi ujian yang menerpa.

“Mereka yang pertama memberikan semangat dan inspirasi di tengah ujian adalah guru. Guru-guru saya itu luar biasa. Mereka senantiasa mendidik, membimbing dan memantau dengan ikhlas. Lalu pihak keluarga yang mensupport untuk menjadi ulama betulan, bukan ulama yang larut dalam penilaian makhluk. Selain itu, umat, khususnya kawan-kawan yang ada di Daarut Tauhid ini. Merekalah yang membantu istiqamah dalam menapaki ketauhidan ini,” ucap Aa Gym.

Kini, saat Daarut Tauhid kembali hidup, Aa Gym kembali mengingatkan agar kejadian serupa tak terulang. “Bahwa ujian sekarang lebih besar, kita diuji dengan keberhasilan dunia, usaha yang sukses, jamaah yang menitipkan anak-anaknya lebih banyak, ini jauh lebih berbahaya. Harus dengan kesadaran penuh agar tidak terkecoh kembali.”

Ketika ditanya  perbedaan Aa Gym baru, dengan sebelumnya, ia menjawab :“Sekarang lebih sederhana, perbaiki diri lillahi taala, tidak pusing orang menilai apa pun, yang paling penting Allah menyaksikan usaha saya memperbaiki diri sebelum ajal datang.” (alhikmah.co)

 

Penulis: Muhri

Penyunting: hb sungkaryo

Tim liputan: Pipin Nurullah, Faisal F, Muhri

Sumber: Wawancara dan Buku “Aa Gym Apa Adanya