Pentingnya Peranan Ibu dalam Mendidik Langsung Anaknya

Pentingnya Peranan Ibu dalam Mendidik Langsung Anaknya

0 154
pictfrom_kabarmuslimah.com

oleh  Maesaroh el Aliya, Ibu Muda cum Inisiator FLP cabang Purwakarta

SUDAH selaiknya seorang anak mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua. Tidak mengenal kapan, di mana dan usia berapa. Dari bayi sampai dilepas untuk menikah, anak harus mendapatkan kasih sayang utuh tanpa pamrih.

Dari keutuhan kasih sayang tersebut maka anak akan tumbuh  menjadi seseorang yang taat, berbalik kasih dan sayang terhadap orang tuanya. Sederhana kiatnya, kenalkan yang paling utama kepada anak siapa tuhannya, harus bagaimana sikapnya terhadap Allah maka yakinlah anak akan sholih dan sholihah.

Namun kini, banyak sekali orangtua yang menyepelekan peranannya bagi tumbuh kembang anak, terutama peran ibu. Mereka hanya memikirkan soal sandang, pangan, dan papan untuk buah hati mereka, akan tetapi pertemuan dan komunikasi hanya memiliki sedikit waktu. Bahkan banyak juga yang menitipkan anaknya sedari bayi kepada pengasuh. Alasan klasik, memilih berkarir untuk masa depannya semata. Ibu yang seperti ini merasa bangga dengan pilihan bekerja di luar. Apalagi jika sudah menempuh pendidikan tinggi. Merasa sayang jika hanya menjadi ibu rumah tangga saja, tidak ada penghasilan yang didapat.

Dari banyaknya kasus, ibu-ibu yang memilih untuk terus bekerja di luar dengan tugas kerjaannya, komunikasi dengan keluarga terutama anak semakin tidak jelas. Rasa lelah yang menghinggapi jasmani dan rohani, tak jarang membuatnya merasa anak yang baru berusia satu sampai tujuh tahun selalu menjengkelkan. Dengan tingkahnya yang, misalkan, selalu membuat rumah berantakan, berlari ke sana ke mari, bernyanyi dengan suara keras, bertanya tentang banyak hal. Karena tidak siap, atau mungkin terlampau capek oleh pekerjaan karirnya, sang ibu menjadi mudah marah, membentak, bahkan acuh. Sampai akhirnya anak tidak kerasan bersama ibunya sendiri dan memilih bersama pengasuh, yang belum tentu pendidikannya lebih baik dari ibunya itu.

Melihat hal ini, pembaca, penting sekali bagi pasangan suami istri membicarakan mengenai konsep rumah tangga yang sesungguhnya. Mungkin wajar, sebelum memiliki anak sebagai wanita ingin sekali dinomorsatukan oleh suami, dengan banyak tuntutan dan pengertian. Akan tetapi, ketika sudah memiliki anak, sangat baik sekali bila keduanya bekerja sama memusatkan perhatian kepada sang buah hati. Penuhilah keinginannya selama masih dalam batas wajar. Itu karena, anak adalah penerus dan penentu keluarga, agama, juga negara. Bimbinglah ia dengan  dasar ilmu  yang kuat, bukan “kata orang” tapi kata hati dan kata ilmu.

Pembaca, jika pilihan bekerja di luar menjadi beban pikiran dan anak malah diurus oleh orang yang tak berilmu maka lebih baik jangan bekerja. Bekerja bukan untuk menjadi beban apalagi merusak masa depan anak. Ibu di rumah bukan berarti diam, tidak mendapat gaji, tidak belajar dan tidak mendapatkan apa-apa. Seorang ibu di rumah mengerjakan banyak hal, belajar membimbing anak sesuai dengan porsi usianya.

Menjadi ibu yang kreatif membutuhkan proses maka nikmatilah peran yang sudah digariskan, tanpa harus memaksakan fisik dengan ingin melakukan banyak hal, jika pada akhirnya anak, suami, serta rumah tidak terurus.

Seperti yang saya alami sebagai ibu dari putri pertama kami yang jelita. Yang saya pelajari, anak itu lahir dan tumbuh memiliki patokan dalam perkembangannya. Contohnya adalah di usia tiga bulan bayi sudah mulai bisa menggerakan badannya dengan mampu tengkurap, sudah bisa tersenyum. Karena itu, pembaca, jika ada keterlambatan dalam tumbuh kembang harus segera dipelajari dan dicarikan solusinya. Hal ini tidak akan terjadi bila orang tua khususnya ibu, sibuk bekerja di luar tanpa mengindahkan kewajiban utamanya.

Syahdan, terakhir saya ingin berpesan, anak lahir bukan sekadar hidup, namun anugerah ini harus hidup dengan layak dan tumbuh dengan semestinya. Oleh orang tua yang cerdas, bertanggung jawab, serta telatenlah hal ini bisa tercipta.[]

(*tulisan ini telah melalui proses penyuntingan redaksi seperlunya)