Pengalaman Pahit, Hantarkannya Jadi Pegiat Parenting

Pengalaman Pahit, Hantarkannya Jadi Pegiat Parenting

0 114

“Kalau orangtuanya baik, maka anak pun akan mencontoh. Pengalaman pahit saya ini jangan sampai dialami orang lain juga,”

 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah ini biasa digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang mencerminkan akhlak orangtuanya. Barangkali, pepatah yang sudah banyak dikenal ini laik disematkan pada kisah Irawati Istadi, yang kini menjadi pegiat parenting setelah sempat mengalami kegagalan dalam mendidik buah hatinya.

Selepas mengisi di Seminar Bincang Keluarga Hebat, Irawati pun menuturkan secuplik kisahnya pada Alhikmah. Semua ini berawal saat ia memiliki anak pertama. Ia yang menikah saat kuliah, tak memiliki bekal apa pun dalam mendidik anak. Ilmu parenting yang masih nol tersebut mengakibatkan anak sulungnya tersebut menjadi sosok yang manja dan pemarah. Ira sempat mengalami masa berat saat menghadapi sang anak.

Kondisi tersebut membuat Ira termenung. Ia merasa, anaknya begitu serupa dengan dirinya. Ia yang begitu pemarah, emosional, dan juga ambisius, rupanya menjadi contoh laku anak sulungnya itu. Maka, ia memacu dirinya agar berubah. Ira berkeyakinan, untuk menjadi orangtua yang baik tak hanya harus cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas emosi dan spiritual. Untuk meredakan kebiasaan marahnya tersebut, Ira memutuskan untuk melakukan terapi. Bahkan untuk mengubah kebiasaan marahnya, Ira rela melakukan terapi selama empat tahun.

“Kalau orangtuanya baik, maka anak pun akan mencontoh. Pengalaman pahit saya ini jangan sampai dialami juga orang lain,” tutur Ira di Aula wakafpro99-Bandung, di sepenggal Januari 2015.

Tak hanya terapi, ia pun akhirnya banyak mengkaji buku perihal pendidikan anak-anak. Ira mengkaji secara otodidak buku-buku psikologi populer dan parenting. Demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya menjadi orangtua yang baik. Ia pun mengalami perjalanan yang panjang dalam memelajari dan memilih buku yang tepat untuk diterapkan pada anak-anaknya.

Memang, yang sejak awal ia sadari, kendala dalam membimbing anak-anaknya adalah kurangnya ilmu. Berbenturan dengan metode didik yang salah justru membuat Ira semakin ingin belajar kala mendapat masalah dari anak-anaknya. “Kita jangan pernah berhenti belajar saja,” imbuhnya.

Kesenangannya mengkaji masalah parenting dan pendidikan anak, mengantarkan Ira mengazamkan dirinya berdakwah melalui tulisan. Baginya, buku menjadi media yang baik dan efektif, karena bisa terus dibaca kapanpun orang ingin mempelajarinya. Lain hal ketika menghadiri kajian tertentu, yang perlu kapasitas memori agar bisa terus diingat dan diterapkan.

Ia pun berharap bisa diberi kesempatan untuk berdakwah di masyarakat kalangan ke bawah. Menurut Ira, kebanyakan dari mereka masih mendidik sesuai naluri dan masih banyak kesalahpahaman didikan. Kesadaran orangtua yang minim mengakibatkan mereka justru marah saat anak melakukan kesalahan, atau bahkan merasa bangga saat anaknya memiliki dan gemar memainkan ponsel.

Pada akhirnya, setelah lama mengkaji, masalah pendidikan anak dan parenting menjadi tantangan sendiri bagi istri Hamim Thohari itu. Menurutnya, saat ini masih banyak orang yang belum memahami, dan Ira ingin membagi pengetahuan yang ia dapatkan melalui buku-buku yang ia tulis.

Kini, setelah serangkaian proses pembelajaran, ia telah menuangkan idenya dengan menulis sekira 15 judul buku. Dan, salah satu buku yang banyak menginspirasi para orangtua adalah, ‘Mendidik Anak dengan Cinta’. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya ini, menguraikan metode mendidik anak tanpa perlu menggunakan emosi atau kekerasan. (Aghniya/Alhikmah/ed.Kevin/pict.solopos)