Pendidikan Indonesia dan Mayanya Kini

Pendidikan Indonesia dan Mayanya Kini

Oleh: Hamri Muin *)

Pendidikan merupakan suatu hal yang harus di tempuh oleh setiap manusia mulai dari anak sampai orang dewasa. Pendidikan tidak akan pernah lepas dalam diri setiap insan. Apakah pendidikan tersebut bersifat positif ataupun negatif? Ketika manusia menyadari bahwa pendidikan tidak akan pernah lepas dalam dirinya maka disitulah seorang insan harus memperhatikan pendidikan itu.

Teringat tiga perkataan tokoh pendidikan nasional Ki hajar Dewantara yang tercatat hingga sekarang. Yang pertama “Ing Ngarso Sung Tulodho” yaitu ketika di depan publik, kita harus bisa memberikan contoh atau teladan yang baik untuk orang lain. Yang kedua adalah “Ing Madyo Mangun Karsa” ketika di tengah atau di antara publik, kita harus mangun karso atau bekerja keras dan membangun kinerja yang baik. Yang ketiga adalah “Tut Wuri Handayani” yaitu ketika kita ada di belakang, kita harus memberi semangat dan motivasi untuk orang lain.

Dari pernyataan tersebut menggambarkan, bahwa disitulah pentingnya pendidikan bagi setiap manusia agar bisa menjadi teladan. Bagi seorang anak berusahalah menjadi teladan bagi teman-temannya. Bagi seorang ayah berusahalah menjadi teladan untuk keluarganya baik itu istri dan anaknya. Bagi seorang kakak berusahalah menjadi teladan untuk saudara-saudaranya. Begitu juga dengan para pemimpin (pemerintah, direktur dll) berusahalah menjadi teladan bagi rakyat, dan para karyawannya.

Karena menjadi teladan yang baik telah di contohkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada umat-Nya sebagaimana yang terabadikan di dalam Al Quran:

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS Al Ahzab: 21)

Olehnya itu, diantara pendidikan terbaik yang harus di tempuh oleh manusia adalah bagaimana agar mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Apakah keluarganya, temannya, anak-anaknya, bahkan sampai kepada pemimpinnya sekalipun.

Namun, ketika kita melihat kondisi sekarang hampir sangat sulit melihat siapa yang bisa menjadi contoh dan teladan. Kenapa pernyataan ini muncul? Mari kita melihat dan renungkan kondisi anak-anak sekarang. Berapa banyak sekarang anak-anak yang tergabung dengan kelompok genk motor atau begal? Berapa banyak anak-anak yang sudah tidak perawan? Berapa banyak anak-anak yang senang membantah orang tuanya? Berapa banyak anak-anak yang sudah terjerumus dengan obat-obatan berupa narkoba? Apatah lagi ketika dilihat dari segi religiusnya berapa banyak anak-anak atau manusia tidak melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala berupa sholat 5 waktu, membaca Al Quran dll?

Mari kita melihat data akan kusamnya kondisi anak-anak sekarang. Salah satu media sempat menerbitkan laporan bahwa. Kepolisian resor kota besar Bandung mengeluarkan data yang menunjukkan 40 persen dari enam ratus remaja kota Bandung, sudah bergabung bersama geng motor. (TEMPO.CO)

Data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengemukakan data yang sangat mencengangkan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Survei Komnas Anak di 12 Provinsi (4500 remaja sebagai responden) 93,7% pernah berciuman hingga petting (bercumbu), 97 % pernah nonton porno dan situs yang dilarang, 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan, 21,2% remaja SMA pernah aborsi.

Belum reda keterkejutan kita terhadap data dan fakta di atas, data dan fakta yang lain tentang sejumlah siswi SMP di Jakarta yang menjadi pelacur, bukan karena paksaan atau himpitan ekonomi tetapi semata-mata dalam rangka memenuhi tuntutan hedonisme.

Sebagaimana diungkapkan Kompas Minggu edisi 28 Desember 2008, tentang kasus 22 siswi SMP Negeri di kawasan Tambora, Jakarta Barat, yang menjalani kehidupan sebagai pelacur di luar jam sekolah. Sebelum menjalani kehidupan sebagai pelacur, mereka mengawalinya dengan menjual kegadisannya seharga Rp 2 juta kepada pria pelaku zina. Selanjutnya, mereka meneruskannya menjadi pelacur dengan tarif setiap kencan Rp 300.000, di bawah koordinasi seorang mucikari/ germo yang biasa nongkrong di Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat.

Inilah kondisi anak-anak, remaja sekarang, begitu banyak data dan fakta yang lain akan hancurnya moral remaja saat ini.

Entah siapa yang akan disalahkan, dengan terjadinya kondisi seperti ini kepada generasi muda kita (orang tua, guru, teman, masyarakat). Pada hakikatnya semua ini tidak terlepas dari sistem pendidikan yang tidak berjalan secara maksimal. Apakah pendidikan yang selama ini di terimanya baik secara formal atau non formal, baik dari orang tua, teman, guru atau yang senantiasa dekat kepada mereka.

Ketika kita telah merenung melihat kusamnya wajah pendidikan saat ini. Maka disitulah akan muncul pemikiran-pemikiran untuk mengambil sebuah langkah dan peran dalam perbaikan sistem pendidikan, agar berjalan secara maksimal. Karena sesungguhnya orang orang yang senantiasa menggunakan akalnya yang akan diberikan petunjuk oleh Rabbul Alamin sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran:

(yaitu) orang orang yang mengingat allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit langit dan bumi (seraya berkata). Ya Tuhan kami, tidak lah engkau menciptakan semua ini sia-sia, mahasuci engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Ali Imran: 191)

Maka dari sinilah kita harus berpikir tentang langkah yang harus ditempuh untuk pendidikan kita agar bisa berjalan dengan maksimal. Jalan terbaik untuk mengatasi segala problematika dalam sistem pendidikan dan kehancuran moral remaja saat ini adalah kembali melihat bagaimana sistem pendidikan yang diberikan atau di contohkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Segala sesuatu yang telah di contohkan oleh Rasulullah telah tersampaikan melalui Al Quran dan Sunnah.

Maka sekarang hal yang harus di pelajari sebagai dasar awal dalam menempuh pendidikan dan mengatasi permasahan saat ini adalah mempelajari Alquran dan Sunnah. Dan inilah yang pernah di wasiatkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwa “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kemudahan untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya. Namum, pendidikan yang paling utama yang harus kita tempuh adalah apa yang terdapat di dalam Alquran dan Sunnah dan semoga itulah yang akan memudahkan diri kita untuk memasuki syurga Allah azza wajalla.

 

Wallahu A’lam Bishshawab. []

 

 

*) Ketua Umum Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia1439-1441 H/2017-2019 M