Penasihat PW Pemuda Persis: Bid’ah Bukan Soal Hasanah atau Dlalalah

Penasihat PW Pemuda Persis: Bid’ah Bukan Soal Hasanah atau Dlalalah

3 118

ALHIKMAHCO,– Bid’ah, menurut bahasa, berarti mengadakan sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Rasul. Terkait makna Bid’ah, Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua jenis: Bid’ah Mahmudah dan Bid’ah Madzmumah.

Demikian kutipan tersebut diuraikan oleh Nashruddin Syarief dalam acara bedah buku “Islam Tanpa Sesat”. Menurutnya, bid’ah menjadi mahmudah (baik) apabila terdapat dasar-dasar dalilnya. Sebaliknya, bisa menjadi madzmumah (buruk) apabila bertentangan dengan pokok ajaran Islam.

“Yang mahmudah misalnya ketika Imam Syafi’i menganjurkan takbiran semalam suntuk. Haditsnya dhaif, tapi dasar dalilnya membolehkan peribadatan di malam hari itu boleh,” terangnya, di Masjid Persis Viaduct, Sabtu (7/3/2015).

Ia menjelaskan, para ulama kerap menjadikan perumpamaan takbir tersebut sebagai bid’ah hasanah. Kendati demikian, ia menekankan bahwa permasalahannya bukan pada hasanah atau dlalalah (sesat)-nya. Semua bid’ah yang ada saat ini, katanya, pasti ditujukan untuk kehasanahan.

“Ya coba tanya saja aliran lain, mereka pasti bilang bid’ah mereka hasanah, minimal dengan mengandalkan hadits dhaif,” ungkap penasihat PW Persis Jabar ini.

Yang menjadi permasalahan, lanjutnya, apakah bid’ah tersebut masuk kategori syariah dan ibadah atau tidak. Jika masuk kategori syariah, maka melakukan bid’ah tersebut pun menjadi ibadah. Adanya perbedaan pendapat mengenai konsep bid’ah, Nashruddin berharap agar umat tidak sampai menyalahkan satu sama lain.

“Apalagi sampai menuduh sesat,” katanya. (Aghniya/Alhikmah)