Pemilihan Rektor UPI, Tanggung Jawab Siapa?

Pemilihan Rektor UPI, Tanggung Jawab Siapa?

0 111

*Muhammad Guntur P, Menteri Dalam Negeri BEM REMA UPI 2015

Tahun 2015 akan menjadi awal sejarah baru bagi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sebab tahun ini kampus yang concen mencetak pendidik-pendidik unggulan ini akan melakukan hajat Pemilihan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia periode 2015-2020.

Adalah ProfDr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd yang telah menjabat dua periode yaitu berawal dari periode 2005 dan periode kedua pada tahun 2010. Dalam perjalanan kepemimpinan beliau, tentu banyak prestasi yang tertoreh dalam lembar sejarah Universitas ini dan ada pula beberapa goresan hitam yang menjadi catatan penting untuk perbaikan UPI ke depannya.

Title UPI sebagai kampus terbaik dalam bidang pendidikan harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Salah satu caranya dengan memilih rektor yang benar-benar ingin membawa UPI menuju kampus pelopor dan unggul dalam dunia pendidikan dan menjadi World Class University pada tahun 2026.

Pembicaraan mengenai pemilihan rektor ini telah berlangsung dari awal tahun, termasuk pembicaraan di tengah-tengah mahasiswa. Hal ini tercermin dari gerakan-gerakan yang digalakan oleh mahasiswa yang dikomandoi oleh BEM REMA UPI, seperti halnya; penempelan propaganda pada kerangka gedung FPEB yang bertuliskan #SAVEPILREKUPI, dan #PILREKUPIBERSIH mengisyaratkan bahwa mahasiswa berharap pemilihan rektor ini bersih dari politisasi oknum. Selain itu tertulis pula tuntutan mahasiswa bahwa rektor yang terpilih haruslah rektor yang pro terhadap civitas akademika UPI.

Peran Mahasiswa dalam Pilrek UPI

Sesuai peraturan  Pemerintah Republik Indonesia No 15 tahun 2014 tentang STATUTA Universitas Pendidikan Indonesia, dan dijelaskan lebih terperinci dalam peraturan MWA UPI no 4 Tahun 2015 dijelaskan mengenai Mekanisme  Pemilihan Rektor. Dalam mekanisme tersebut hanya ada suara MWA yang berhak memilih rektor, dengan komposisi 35% suara menteri dan 65% terbagi rata dalam suara MWA lainnya.

Komposisi suara ini akan menjadi dilema tersendiri bagi pelaksanaan Pemilihan Rektor tahun ini apabila pemilihan rektor tidak diselenggarakan secara profesionalitas dan mengunggulkan kualitas. Misalnya, salah seorang calon mendapat 16% suara MWA selain menteri dan calon lainnya mendapatkan suara 49%. Jika suara menteri sebesar 35% memilih calon rektor yang pertama, maka jelas suara calon rektor pertama akan menjadi 51% dan kemenangan mutlak diraih oleh calon rektor pertama. Artinya, jika unsur kepentingan-kepentingan lain selain untuk kemajuan UPI diunggulkan misalkan unsur kedekatan atau unsur politik, maka pemilihan rektor tahun ini hanya akan menghasilkan rektor yang kurang berkualitas secara kinerja. Maka dari itu perlu adanya pengawalan dalam pelaksanaan pemilihan rektor tersebut.

Perlu kita ketahui bahwa anggota MWA berjumlah 21 orang yang terdiri atas; Menteri, Rektor, 9 orang mewakili unsur SA, 9 orang mewakili unsur masyarakat, dan 1 orang mewakili unsur tenaga kependidikan, dan unsur MAHASISWA TIDAK DILIBATKAN dalam MWA. Sehingga proses pemilihan rektor kali ini akan bias di mata mahasiswa, dan cenderung tidak terlihat oleh kaca mata mahasiswa. Maka dari itu perlu adanya pengawalan secara tidak langsung oleh mahasiswa terhadap proses pemilihan rektor UPI periode 2015-2020

Pengawalan tersebut dirasa perlu demi terciptanya pemilihan rektor yang tetap dalam koridor kebenaran sebagaimana mestinya, tetap menjunjung tri dharma perguruan tinggi, dan tetap mengutamakan kualitas dari para calon rektor. Selain itu, pemilihan rektor kali ini harus bersih dan transparan di hadapan publik.

#PILREKUPIBERSIH
#SAVEPILREKUPI
@Zona_Aksi
@BEMREMA_UPI