Pelukan Hangat

Pelukan Hangat

1 147

ALHIKMAH.CO–Mahalnya sebentuk perhatian. Sang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan yang tampak menggudang. Pagi hari sebelum terjaga, sudah berlalu dari hadapan mata. Tak ada acara pamitan, terlebih permintaan untuk saling mendoakan agar semuanya ada dalam kelancaran. Sarapan pagi bersama? Jauh angan dari harapan.

Sang ibu pun demikian. Tak bekerja, memang. Namun, seolah tak mau kalah dengan suami, kesehariannya begitu padat. Sejak fajar terbit, hingga tenggelam di batas cakrawala, suaranya  belum juga terdengar. Konon, kegiatan sosial yang ditekuni, menuntut untuk pergi ke sana kemari, sepanjang hari.

Materi  tak pernah kurang. Segala apa yang diinginkan, sejauh itu bisa dipenuhi dengan uang, tinggal disampaikan. Tak pernah ada pertanyaan macam-macam. Cukup jawab sekehendaknya ketika ditanya  ‘untuk apa? Apakah itu sudah menjadi kebutuhan?’ Dengan terpenuhinya keperluan material anak-anak, kewajiban mereka seolah sudah tertunaikan.

Soal ibadah? Sebatas rutinitas ritual.  Tanpa menyisakan ruh spiritual. Maknanya pun sekedar pelengkap, bukan menjadi kesatuan tak terpisahkan, panduan meniti jalan kehidupan. Ia hadir di ruang marjinal, yang nyaris terlupakan. Dunia seolah dalam genggaman. Tak pernah terpikir hubungan yang saling mengait antara keduanya. Yang ada hanya garis imaji, yang dalam pandangan mereka, tegas memisahkan.

Sesekali menyengaja terjaga hingga malam nyaris berganti. Bunyi klakson mobil terdengar dim … dim…  Pak tua, pembantu yang selalu sabar menanti dalam kantuknya, bergegas membukakan pintu pagar dan garasi. Sang ibu baru saja datang, disusul sang ayah sekian waktu kemudian. Mereka datang dari tempat yang berbeda, dengan agenda yang juga berlainan.

Batin berharap, salah satu di antaranya menyempatkan diri untuk mampir ke kamar, sebelum merebahkan badan di pembaringan. Sekedar memastikan kondisi anak-anak. Syukur jika bisa sekaligus merapikan posisi selimut yang tersingkap, sambil mengecupkan bibir di kening masing-masing.

Namun, simpan dulu itu sebagai sebuah harapan. Daun pintu kamar tak kunjung berbunyi. Langkah kaki mereka terdengar semakin menjauh. Dan, Klik! Lampu yang tadi menyala, sudah padam seketika.

Cobalah ingat, kapan terakhir kali kita memberikan pelukan terhangat dan belaian terlembut penuh cinta kepada belahan jiwa?  Bukankah teladan umat, Rasulullah Muhammad SAW, pun demikian gemar memeluk istri, anak, bahkan cucu-cucunya!

Sederhana.


lIKE & SHARE berita ini untuk berbagi inspirai