Pelajaran Berharga Bagi Ahlus Sunnah: Di Balik Runtuhnya Dinasti Syiah Fathimiyyah

Pelajaran Berharga Bagi Ahlus Sunnah: Di Balik Runtuhnya Dinasti Syiah Fathimiyyah

0 1954
Alwi Alatas ( pic:bukugaleri)

Dalam sejarah, aliran Syiah pernah mencapai masa gemilang, dengan berdirinya sebuah negara besar yang membentang dari Afrika Utara, Mesir, Syam, hingga Hijaz (Mekah dan Madinah). Negara itu dikenal dengan Daulah Fathimiyyah. Namun, negara yang begitu kuat dan besarnya, akhirnya tak kuasa mengalami kemunduran, dan akhirnya runtuh, hingga hilang tak berbekas.

Apa itu Daulah Syiah Fathimiyyah? Mengapa Peradaban Syiah yang begitu kuatnya akhirnya runtuh juga? Bagaimana peran ulama saat itu? Apa yang mereka lakukan dalam menghadapi Syiah? Simak wawancara Alhikmah dengan Sejarawan Muslim, Alwi Alatas MHSc ihwal seluk beluk Dinasti Fathimiyyah dan tentunya pelajaran apa yang bisa dipetik dari runtuhnya Dinasti Fathimiyyah. Selamat membaca!

Bisa tolong ceritakan, apa itu Daulah Fathimiyyah dan bagaimana sejarah kemunculannya?

Daulah Fatimiyah muncul dari suatu pemberontakan politik terhadap Dinasti Abbasiyah. Daulah ini didirikan oleh Ubaydullah al-Mahdi yang mengaku sebagai keturunan Fatimah ra. dan Ali ra. dari jalur Ismail bin Ja’far al-Sadiq. Ia dan pengikutnya berpaham Syiah Ismailiyah.

Ia berhasil melakukan revolusi di wilayah Tunisia yang jauh dari pusat Pemerintahan Abbasiyah di Baghdad, kemudian mendirikan Dinasti Fatimiyah di wilayah itu pada tahun 909 M. Enam dekade kemudian, Dinasti Fatimiyah berhasil meluaskan kekuasaannya ke Mesir dan memindahkan ibu kota pemerintahannya ke Kairo.

Kalangan Syiah Fatimiyah pada era itu dikenal di dunia Sunni sebagai kaum Batiniyah. Mereka mengembangkan tradisi esoteris yang menekankan pada penafsiran batin dari aspek lahiriah ajaran Islam.

Karena itulah, menurut mereka, diperlukan adanya imam yang menjadi rujukan dalam memahami makna batin di dalam ajaran Islam. Sebagaimana Syiah Imam Dua Belas, mereka juga meyakini para imam yang maksum dari kalangan Ahlul Bait, hanya saja mereka berbeda dalam hal siapa yang menjadi imam setelah Ja’far al-Sadiq.

Bagaimana tanggapan Daulah Abasiyyah dan Umayyah di Andalusia  atas munculnya Daulah Fathimiyyah?

Munculnya Daulah Fatimiyah tentu dilihat sebagai ancaman oleh Kekhalifahan Abbasiyah yang ada di Timur (Baghdad) serta Kesultanan Umayyah di Barat (Cordova), yang kedua-duanya berpaham Ahlus Sunnah. Daulah Fatimiyah tidak mengakui Kekhalifahan Abbasiyah dan pemimpin Fatimiyah mengklaim dirinya sendiri sebagai Khalifah di dunia Islam.

Daulah Fatimiyah berusaha meluaskan kekuasaannya ke Barat dan terutama ke Timur, sehingga masing-masing dari Abbasiyah dan Umayyah berusaha menahan laju perluasan Fatimiyah itu di perbatasan wilayahnya masing-masing. Abbasiyah dan Umayyah yang sama-sama Sunni tidak pernah bersatu dalam menghadapi ancaman Fatimiyah, disebabkan permusuhan politik yang lama di antara mereka sendiri.

Bagaimana respon para ulama Ahlus Sunnah atas munculnya Daulah Fathimiyah?

Para ulama Ahlus Sunnah tentunya menolak paham Syiah yang dibawa oleh Fatimiyah, tetapi mereka tidak mampu berbuat banyak saat berhadapan dengan kekuasaan politik Fatimiyah. Tambah lagi, dunia Sunni ketika itu, termasuk para ulamanya, juga sedang mengalami kemunduran.

Bagaimana nasib masyarakat Ahlus Sunnah dalam pemerintahan Dinasti Fathimiyyah? Sejauh apa kekuasaan Fathimiyyah? Jika sangat besar, mengapa itu bisa terjadi

Pada era Fatimiyah, terjadi juga penindasan dan pemaksaan keyakinan Ismailiyah terhadap masyarakat Ahlus Sunnah di wilayah pemerintahannya. Bagaimanapun, masyarakat Ahlus Sunnah dan para ulamanya tetap mampu eksis di Mesir dan wilayah-wilayah yang dipimpin oleh Daulah Fatimiyah. Bahkan ada juga kalangan Ahlu Sunnah yang bekerja di dalam pemerintahan Fatimiyah.

Kita bisa mengambil contoh misalnya al-Qadhi al-Fadhil di akhir masa pemerintahan Fatimiyah yang kemudian ikut membantu Salahuddin al-Ayyubi dalam mengubah Mesir menjadi negeri Sunni serta menjadi pejabat penting di sepanjang pemerintahan Salahuddin.

Keadaan ini berbeda dengan apa yang terjadi di Iran di bawah pemerintahan Dinasti Safawi (Syiah Imam Dua Belas) sejak awal abad ke-16. Masyarakat Sunni yang sebelumnya mayoritas di negeri itu tidak mampu bertahan terhadap penindasan yang keras serta konversi paksa yang dilakukan oleh Daulah Safawi sehingga pada akhirnya Sunni menjadi minoritas di wilayah itu.

Pada puncak kekuasaannya, yaitu pada paruh pertama abad ke-11, wilayah kekuasaan Daulah Fatimiyah mencakup wilayah Mesir, Afrika Utara, Syam (Suriah, Palestina, dan sekitarnya), hingga Hijaz (Makkah dan Madinah). Hal ini di satu sisi disebabkan oleh kemampuan Daulah Fatimiyah untuk mengokohkan dan meluaskan kekuasaannya.

Di sisi lain, hal ini juga dimungkinkan karena terjadinya kemunduran yang serius di dunia Sunni (Abbasiyah) pada masa itu. Keadaan baru mulai berbalik dengan masuknya Dinasti Turki Saljuk ke pusat pemerintahan Abbasiyah dan menegakkan kembali pemerintahannya.

Bagaiamana akhirnya Daulah Fathimiyyah bisa runtuh?

Daulah Fatimiyah, sebagaimana kebanyakan daulah lainnya di dunia, baik Muslim ataupun kafir, Sunni ataupun Syiah, runtuh karena kemunduran internalnya sendiri. Pada akhir abad ke-11, Khalifah Fatimiyah mulai menjadi boneka yang berada di bawah kendali wazirnya.

Ia tidak lagi memiliki kekuasaan riil sebagaimana sebelumnya. Sejak itu pergantian kekuasaan di dalam pemerintahan Fatimiyah hampir selalu berdarah-darah dan keadaannya terus melemah dan merosot.

Pada akhir masa pemerintahannya, Mesir yang lemah menjadi incaran tentara salib, sehingga mereka terpaksa minta bantuan pada Nuruddin Zanki di Suriah. Tentara Nuruddin akhirnya berhasil mengamankan Mesir dan pemimpin tentaranya, yaitu Salahuddin, diangkat sebagai wazir Fatimiyah yang baru.

Daulah Fatimiyah ketika itu sudah terlalu mundur untuk dipertahankan, dan tentu saja tidak ada kepentingan bagi Salahuddin yang Sunni untuk memertahankan pemerintahan Syiah Fatimiyah. Maka secara bertahap selama dua tahun lamanya terjadi proses peralihan pemerintahan dari Syiah kepada Sunni di Mesir, dan pada tahun 1171 Daulah Fatimiyah resmi berakhir.

Bagaimana peran ulama Ahlus Sunnah pada proses runtuhnya Fathimiyyah?

Sebenarnya, para ulama Ahlus Sunnah-lah yang memainkan peranan paling besar dalam hal ini. Tetapi peranan mereka tidak ditujukan kepada ancaman yang datang dari luar, seperti Fatimiyah, melainkan kepada masalah internal di dalam Ahlus Sunnah sendiri.

Hal ini bermula di pusat peradaban Ahlus Sunnah di Baghdad, bukan di Suriah atau Mesir, oleh Imam al-Ghazali, kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan para ulama lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Majid al-Kilani di dalam bukunya Hakadza Dhahara Jiil Salahuddin.

Saat para ulama dan gerakan islah yang mereka lakukan berhasil membangkitkan kembali Ahlus Sunnah, maka dampaknya pun sampai juga ke Suriah dan Mesir. Banyak para ulama yang bergabung dalam pemerintahan Nuruddin dan Salahuddin yang tumbuh seiring dengan kemunduran dan keruntuhan Daulah Fatimiyah.

Apa pelajaran berharga dari runtuhnya DInasti Fathimiyyah?

Setidaknya ada dua pelajaran yang ingin saya kemukakan di sini. Pertama, semua peradaban, sebesar dan sekuat apa pun peradaban itu, akhirnya akan mundur dan runtuh juga. Hal itu telah terjadi pada Daulah Fatimiyah, dan peradaban-peradaban lainnya.

Kedua, hal yang paling penting bagi masyarakat Ahlu Sunnah, terutama ulamanya, adalah memfokuskan perhatian mereka pada perbaikan internalnya, bukan pada tantangan yang datang dari luar. Saat Abbasiyah mengalami kemunduran, ketika itulah Fatimiyah berkembang. Saat Ahlus Sunnah kembali bangkit, maka pada saat yang bersamaan Fatimiyah mengalami kemunduran.

Begitu pula permasalahan Ahlus Sunnah pada hari ini. Masalah utamanya sebenarnya ada di internal Ahlus Sunnah sendiri. Jika para ulamanya berhasil mengubah keadaan ini, insya Allah pada saatnya Ahlus Sunnah akan kembali bangkit, dan semoga itu adalah kebangkitan yang indah dan rahmatan lil alamin. 

(mru/Alhikmah.co)

*akan ada artikel lanjutan: Umat Islam Indonesia dan Pelajaran Berharga dari Revolusi Syiah di Iran