Pasukan Myanmar Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh

Pasukan Myanmar Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh

0 25
Reuters

ALHIKMAHCO,– Selama tiga hari terakhir, militer Myanmar diduga meletakkan ranjau darat di perbatasan Bangladesh. Diperkirakan, ini dilakukan untuk mencegah warga Rohingya kembali pasca melarikan diri dari Rakhine.

Dilansir dari Reuters, Rabu (6/9/2017), pemerintah Bangladesh hendak mengajukan protes resmi atas ranjau-ranjau yang diletakkan pemerintah Myanmar. Dari pantauan mereka, terdapat sekelompok orang Myanmar tengah menggali dan memasukkan sebuah benda yang diduga ranjau ke dalam tanah.

“Pasukan perjaga perbatasan kami melihat sekelompok orang menempatkan ranjau darat di wilayah perbatasan bagian mereka yang di dekatnya juga terdapat pagar kawat berduri,” ujar pemerintah Bangladesh.

Meski sekelompok orang yang menempatkan ranjau di perbatasan Myanmar tidak mengenakan seragam militer, Bangladesh meyakini itu bukanlah kelompok militan Rohingya. Ledakan dari benda berbahaya itu juga terdengar dalam dua hari terakhir di wilayah yang di antaranya dijaga ketat oleh tentara Myanmar.

Sementara itu, seorang warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh juga sempat melihat area yang terdengar ledakan di wilayah perbatasan pada Senin (4/9/2017). Di sana, ia menceritakan bahwa ada pria yang menggali tanah dan meletakkan sesuatu seperti cakram logam dengan diameter 10 sentimeter dan sisanya tertutup karena sudah terkubur.

Selain itu, ada saksi mata lainnya yang mengatakan kepada Reuters bahwa dua tentara Myanmar berada di area jalan setapak yang dipakai warga sipil Rohingya untuk melarikan diri ke Bangladesh. Di sana, mereka nampak mengerjakan sesuatu, hingga beberapa saat kemudian terdengar ledakan tepatnya pukul 02.25 dini hari waktu setempat.

Hingga saat ini, Myanmar menjadi negara yang belum menandatangani Perjanjian Internasional Larangan Ranjau yang dibuat pada 1997. Meski demikian, penggunaan senjata berbahaya ini dalam kekerasan terhadap warga Rohingya sebelumnya tidak pernah terdengar ada.

Situasi di Rakhine semakin memburuk dengan adanya laporan pembakaran desa-desa yang menjadi tempat tinggal warga Rohingya di sana. Kelompok aktivis Human Rights Watch mengatakan banyak bangunan dan area lingkungan warga, khususnya di Maungdaw, wilayah utara negara bagian itu yang terlihat terbakar dan ditunjukkan melalui media sosial.

Diperkirakan ada 123.600 warga Rohingya saat ini telah melarikan diri ke Bangladesh. Namun, tak sedikit di antaranya yang mengalami luka parah karena tembakan yang dilepas oleh pasukan militer Myanmar dalam perjalanan mereka.

Selama ini warga Rohingya diyakini menjadi salah satu etnis minoritas Myanmar yang kerap menjadi korban kekerasan dari pemerintah negara itu. Lebih dari 140 ribu diantaranya yang tewas sejak terjadi konflik di Rakhine, tempat kebanyakan etnis tersebut menetap.