Pahlawan di Sekitar Kita

Pahlawan di Sekitar Kita

Ilustrasi (wini/ALHIKMAH)

Pahlawan dalam lingkup yang tak tersekat definisi formil sebuah negara. Ia hadir di tengah-tengah kita, dekat dengan setiap  hela napas kehidupan. Buah perjuangannya begitu nyata, tapi sering terlupa. Tak ada kesah di setiap langkah, meski tak jarang badai datang mengguncang. Duri dan kerikil tajam, memelankan langkahnya, tapi bukan berarti menyerah. Ia pantang putus harapan, walau di mata orang kebanyakan sudah tak ada lagi kesempatan.

ALHIKMAH.CO– Air mata haru masih membekas pada pelupuk warga Indonesia, ketika bulan kemarin, saat Ramadhan menyapa, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan ke seluruh Nusantara. Senyum tersimpul, riuh gaduh saling berpelukan merayakan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Rakyat keluar jalan, melucuti senjara para tentara Jepang yang takluk menyerah pada sekutu,

Belum lama merayakan kemerdekaan, bayang-bayang Sekutu dibonceng Belanda masuk ke Indonesia sudah di depan mata. Belanda, seakan tak rela Indonesia merdeka. Beribu-ribu kapal berdatangan memasuki Indonesia, meminta rakyat untuk menyerahkan  senjata rampasan Jepang ke Belanda dan mengosongkan kota-kota. Mereka siap bercokol kembali menanamkan Kolonialisme.

Masyarakat pun bergolak. Belum sampai sebulan, serbuan penjajah kembali dirasakan. Api peperangan masih menyala setengah- setengah, apalagi Soekarno dan lainnya bergegas pindah ke Yogyakarta dan praktis pemerintahan darurat sementara tak bisa berjalan normal.

Kalender menunjukkan tanggal 22 Oktober 1945 di Kantor Nahdlatul Ulama (NU) Surabaya. Ratusan ulama se Jawa Madura dan ratusan laskar, juga ustadz-ustadz berdesakan memasuki ruangan. Mereka semua berkumpul, memikirkan negeri ini. Negeri yang baru seumur jagung saja. Surabaya, saat itu dipenuhi selebaran yang turun dari langit, perintah mengosongkan kota dan menyerah kepada Belanda yang akan datang kembali, menjajah negeri ini.

Rais Akbar NU, yang juga Ketua Majelis Syuro Masyumi, KH Hasyim Asy’ari memimpin musyawarah Ulama, bersiap membina umat, mengeluarkan arahan atas upaya Sekutu dan Belanda yang datang kembali ke negeri ini. Akhirnya, dengan memohon Rahmat Allah, keluarlah keputusan super penting masa itu. Keluarlah fatwa wajibnya melawan penjajah, Resolusi Jihad!

Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam, termasuk sebagai kewajiban bagi tiap –tiap  orang Islam….“memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaja menentukan suatu sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap usaha-usaha jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia terutama terhadap fihak Belanda dan kaki – tangannya. supaja memerintahkan melandjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.”

Segera setelah dikeluarkannya Resolusi Jihad, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura yang menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah pun bergerak.

Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Umat Islam bergerak ke Surabaya. Pekik takbir “Allahu Akbar…  Allahu Akbar… Allahu Akbar” mengiringi rentetan peristiwa penting, seperti pembajakan kereta api berisi senjata api milik tentara Inggris oleh pasukan Hizbullah Pos Surabaya Barat, penyobekan warna biru pada bendera merah-putih-biru yang berkibar di hotel Yamato oleh Cak Asy’ari, anak muda Ansor NU, pembunuhan Jenderal Mallaby oleh seorang santri Tebuireng hingga memuncak pada peperangan besar 10 November 1945.

10 November 1945, pekik takbir menggema di bumi Surabaya. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berjihad, melawan penjajah yang terus berdatangan. Wangi darah syuhada bertaburan, merahnya memenuhi jalanan Surabaya. Bung Tomo, terus menerus memekikkan takbir “Allahu Akbar!” membakar semangat para mujahidin, rakyat Indonesia.

10 November, berbilang tahun, akhirnya dijadikan sebagai ‘Hari Pahlawan’. Hari dimana para syuhada pembela agama dengan gagah melawan para penjajah. Dengan semangat jihad, dan bekal imanlah mereka turun berjuang, hingga namanya dikenang. Tanggalnya tercatat rapi dalam kalender sebagai hari pahlawan.

***

70 tahun berlalu, perjuangan umat Islam mempertahankan kemerdekaan terus dikenang setiap tahunnya, sebagai Hari Pahlawan.  Pahlawan, sebuah gelar yang dianggap ‘sakti’, luar biasa. Kehormatan tertinggi yang disandang oleh seseorang di masa silam, yang telah memperjuangkan cita-cita besarnya mengorbankan harta, hingga jiwa.

Pahlawan, sebuah istilah yang terkesan ‘sangar’, menciutkan orang-orang yang mendengarnya. Walau begitu, para pahlawan itu sama seperti kita, ia manusia biasa, manusia laiknya seperti halnya kita: makan, minum, tidur, bersosialisasi, dll, namun ada yang berbeda ‘sedikit’, ada yang berbeda dari sebagian umum orang-orang.

Pertengahan September silam, kepada Alhikmah, Guru Besar Sejarah Unpad, Prof. Dr. Nina Lubis menjelaskan bahwa makna pahlawan ialah perjuangan dan pantang menyerah. Ia menjelaskan kriteria tentang pahlawan Nasional dalam beberapa poin.

“Pertama tentu saja ia warga negara Indonesia, atau yang pernah tinggal di Indonesia. Kedua, telah melahirkan gagasan yang jangkauannya nasional. Ketiga, berjuang melebihi tugas yang diembannya. Keempat, memiliki akhlak dan moral yang tinggi. Kelima, perjuangannya bertendesi memperjuangkan harkat martabat negara. Keenam, saat berjuang, ia tidak pernah menyerah kepada musuh, ini yang penting.” Kata Prof. Dr. Nina Lubis.

Menurut Prof. Nina, dengan adanya istilah ‘Hari Pahlawan’ atau gelar Pahlawan Nasional menjadi penting, karena masyarakat membutuhkan sosok teladan yang nyata dan ada di tengah mereka. “Apresiasi terhadap pahlawan sangat diperlukan. Selain sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih, juga untuk memberikan keteladanan bagi masyarakat. Sebab, kondisi bangsa sekarang ini sangat memerlukan teladan. Sehingga apresiasi terhadap pahlawan sangatlah dibutuhkan,” ungkapnya.

Guru Besar Sejarah Unoad Prof. Dr. Nina H Lubis
Guru Besar Sejarah Unoad Prof. Dr. Nina H Lubis

Di masa sekarang, masa mengisi kemerdekaan, menurut Prof. Nina yang perlu kita lakukan ialah melanjutkan spirit ‘kepahlawanan’ para pahlawan yang sudah tiada. Keteladanan, ialah kunci kepahlawanan zaman sekarang. Dengan berkobarkan semangat perjuangan, diharapkan muncul ‘pahlawan-pahlawan’ abad ini. “Diharapkan dengan begitu, muncul generasi penerus yang perjuangannya lebih dari pahlawan yang sudah tiada.” Tegas Prof. Nina.

Pahlawan dalam Pandangan Islam

Akademisi Hukum Unpad, Nashr Budiman yang juga pengamat Fenomena Sosial-Sejarah Islam kepada Alhikmah medio Oktober 2014 lalu pun menambahkan bahwa dalam Islam seseorang dapat disebut pahlawan jika semata-mata yang ia lakukan ia ikhlaskan kepada Allah. Seperti halnya peristiwa 10 November silam, dimana para pejuang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah.

“Orang yang berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), itulah yang pantas disebut pahlawan. Seorang ustadz atau kyai yang Lillah mengajarkan Islam ke banyak murid, bertahun-tahun tanpa pamrih, memberikan perubahan kehidupan yang nyata, baik personal maupun komunal,” ungkap Sarjana Hukum Unpad ini.

Nasr Budiman
Nasr Budiman

Menurutnya, dengan semangat keikhlasan itu, perngorbanan akan terwujud. Nilai-nilai inilah, yang menurutnya harus terus dihidupkan di masyarakat, harus diajarkan dalam pendidikan, tak bisa dibiarkan begitu saja. Karenanya, aspresiasi Hari Pahlawan ialah hal yang baik agar umat teringat nilai-nilai kepahlawanan, yang patut untuk diteladani.

“Dalam pengertian agama, tidak ada kriteria selain tadi, lillah,” katanya. “Yang paling penting kita lakukan dengan hal yang lebih kongkret, menjaga negeri ini dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak bangsa (fasad). Kita jaga, jangan ikut merusak,” tambahnya.

Keteladanan, pengorbanan, pantang menyerah, nilai-nilai yang terus diwariskan bangsa ini dari generasi ke generasi. Nilai yang terus turun, mengisi ruang-ruang suram di negeri ini. Bahwa para ‘pahlawan’ itu tak hanya ada di masa silam. Nilai-nilai kepahlawanan itu pun ada yang merawatnya, menyiramnya hingga tumbuh subur walau mungkin kita tak sadar.

Para pahlawan ini, kini ada dan hadir di sekitar kita, walau kerap terlupa. Entah itu ibu, ayah, suami, istri, anak, guru, hingga orang-orang di sekitar kita. Merekalah yang telah berjuang dan menjadi teladan kita. Orang-orang yang hadir dan berjasa di tengah-tengah kita, dalam ruang keikhlasan. Mereka hanya mengharap ridha Allah, maka merekalah pahlawan kita.

Pahlawan dalam lingkup yang tak tersekat definisi formil sebuah negara. Ia hadir di tengah-tengah kita, dekat dengan setiap  hela napas kehidupan. Buah perjuangannya begitu nyata, tapi sering terlupa. Tak ada kesah di setiap langkah, meski tak jarang badai datang mengguncang. Duri dan kerikil tajam, memelankan langkahnya, tapi bukan berarti menyerah. Ia pantang putus harapan, walau di mata orang kebanyakan sudah tak ada lagi kesempatan.

Ia tak merasa diri pahlawan, bahkan tak ingin disebut pahlawan. Ia sadar, semua adalah amanah Sang Maha. Amanah yang wajib diperjuangkan, walau harus dibayar dengan darah dan airmata. Wallahu a’lam.

Penulis: Muhriu

Penyunting: hbsungkaryo

Tim Liputan: Senandika, Ahmad Fauzi, Dhea Nadhira