Owner Wardah, Buah Istiqamah Meniti Jalan Syariah

Owner Wardah, Buah Istiqamah Meniti Jalan Syariah

0 105

Kala pertama membawa label halal dalam produknya, tak sedikit orang ragu, bahkan mempertanyakan. Dibilang menjual agama demi uang, atau apalah cibiran lainnya.

Bagi kebanyakan wanita tampil menarik menjadi hal penting yang memiliki nilai prioritas tersendiri. Bukan sekadar balutan busana yang eye catching, namun juga polesan kosmetika yang dapat mencerminkan kepribadiannya. Produk-produk kecantikan seperti itu, dewasa ini kian mendapatkan tempat. Tak jarang, kaum hawa rela merogoh kocek lebih dalam demi memiliki kosmetika tersebut.

Namun kini, pertimbangan itu sudah jauh lebih berkembang. Banyaknya produk  palsu dan merusak membuat kaum hawa mulai waspada. Kini para wanita, khususnya muslimah akan jauh lebih tenang menggunakan produk-produk yang berkualitas nan syar’i.

Wardah, satu nama yang terlintas dalam benak masyarakat jika memikirkan produk kosmetika halal. Tentu penting memilih kosmetik berbahan halal bagi masyarakat Indonesia yang mayoritasnya Islam. Pertimbangan inilah yang jauh-jauh hari, di tahun 1995, sudah terpikir Nurhayati Subakat, owner sekaligus pencetus kosmetik Wardah.

Wardah, bunga mawar yang kian mekar. Namanya sangat dikenal di belantika produk kecantikan. Mulai dari lipstik, bedak, hingga jenis-jenis lainnya, sangatlah lengkap. Beberapa selebritas ternama juga ikut menjadi brand ambasador produk ini, sebut saja Inneke Koesherawati.

 Tapi, tak banyak yang tahu jatuh bangun Nurhayati kala merintis bisnis ini. Kepada Alhikmah, di satu event di sepenggal Juli 2015 kemarin, wanita yang sempat kuliah di Farmasi ITB ini berkisah ihwal perjalanan Wardah dari yang tak dikenal hingga menjadi produk kecantikan yang digandrungi wanita yang ingin tampil lebih cantik lagi.

Meringkas kisah. Sebelum menjejak di industri kosmetik, wanita kelahiran Sumatera Barat ini pernah memiliki bisnis home industry. Produk yang pertama ia lahirkan adalah Shampo Putri. Sangat berbekas di hatinya, perjalanan bisnis yang dipasarkan secara door to door, dari rumah ke rumah, dari salon ke salon di Jakarta.

Cukup lama ia melakukan itu dibantu asisten rumah tangganya. Hingga perlahan produknya mulai dikenal dan mendapatkan tempat di hati para pelanggan. Satu persatu karyawannya bertambah, pun ia memiliki pabrik untuk memproduksi shampo putri dalam kuantitas yang lebih banyak.

Nurhayati mulai merasa bisnisnya ini akan langgeng. Namun, harapan itu sirna seiring jilatan api membakar pabriknya di tahun 1990. Hati siapa yang tak terserak melihat puing-puing asa hangus teronggok tanpa sisa. Apalagi, memikirkan nasib karyawannya yang akan terlunta, serta utang pada bank yang masih berlipat ganda.

Tak sampai hati menelantarkan karyawannya, meski masih tergilas rasa sedih dan kecewa, ia merangkak kembali. Ia percaya Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kapasitasnya. Ia pun meminjam gaji suaminya untuk kembali menjalankan roda bisnisnya, terutama membayar upah karyawan yang belum sempat ditunaikan.

Lantas, apa rahasia di balik bangkitnya semangat Nurhayati? Kala Alhikmah menanyakan itu, dengan mantap dijawab, bersilaturahim. “Silaturahim yang membuat saya bisa menggawangi bisnis hingga seperti sekarang,” kata ibu dua anak ini.

Ya, pembaca, rupanya ide menjejak kosmetika halal muncul saat Nurhayati bersilaturahim dengan seorang kawan. Darinyalah, ia disadarkan akan kebutuhan muslimah ihwal produk kosmetik yang tak menyalahi aturan agama. Nah, dari pertemuan inilah lahir kosmetika halal dengan brand Wardah, yang kita kenal saat ini.

Kala pertama membawa label halal dalam produknya, tak sedikit orang ragu, bahkan mempertanyakan. Dibilang menjual agama demi uang, atau apalah cibiran lainnya. Namun, Nurhayati mencoba istiqamah. Tetap meyakinkan para pelanggannya untuk memilih produk kecantikan yang halal. Selain baik bagi mereka, tentu ini menjadi bagian dari menjalankan syariatNya.

Pelan-pelan, sambil menanamkan pemahaman pentingnya menggunakan kosmetik halal, mulailah banyak masyarakat yang kerasan dengan produk Wardah. Bahkan di tahun-tahun pertama kelahirannya, Wardah mampu bersaing dengan produk kosmetik lain yang tak mencantumkan label halal. “Awal-awalnya memang sulit, karena produk masih baru dan belum ada produk lain berlabel halal. Namun semua itu bisa kami lewati,” kisah Nurhayati mengenang.

Buah Bergantung Pada Ketetapan Ilahi

Karir bisnis Nurhayati terus melejit. Ditambah maraknya fenomena hijab, produk kosmetik halal memiliki arus angin tersendiri. Bersama keluarganya, terkhusus dibantu kedua anaknya, Wardah merangsak ke komunitas-komunitas muslimah, menjadi sponsor pelbagai event dan tayangan layar lebar, hingga melakukan pelbagai tutorial make up.

Selain memanfaatkan momentum, Nurhayati bertutur, juga menerapkan kunci 4P: Price (harga), Product (produk), Promotions (promosi), dan Pertolongan Allah. Ia mengaku, selama tiga puluh tahun menjalani bisnis, aspek terakhirlah yang selalu menjadi tumpuan utamanya.

Dengan usaha yang demikian, kini Nurhayati bisa melihat keberhasilannya. Allah kembali menunjukkan sifatNya yang Maha Pengasih, dan Maha Kaya. Omset ratusan miliar disabetnya, pelbagai penghargaan diraihnya, dan ia kerap menjadi pembicara di banyak event, mengurai cerita kisah suksesnya.

Saat ini, Nurhayati telah memberdayakan lebih dari 4.500 karyawan di tiga puluh daerah operasional yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menganggap, jumlah besar ini sebagai ladang ibadahnya.

Teruntuk pembaca Alhikmah, ia juga menyelipkan pesan, agar senantiasa berusaha dan tetap memilihara asa, bahwa pertolongan Allah tak pernah terhenti bagi yang senantiasa bergantung pada ketetapan Ilahi. (Aghniya/Alhikmah)