NTB, Pesona Wisata di Bumi Seribu Masjid

NTB, Pesona Wisata di Bumi Seribu Masjid

0 155
pic source: Republika

“Potensi wisata syariah atau wisata keluarga di NTB itu sangat besar. Bukan hanya karena mayoritas penduduk Islam, tapi karena potensi alam dan budaya yang menarik para wisatawan cukup banyak di daerah ini,”

Fajar masih malu menyingisng. Kilaunya membelai biru hamparan laut yang membentang sampai 29.159 km2. Nun, di bawah air, ragam jenis biota seperti gerombolan ikan, bintang laut, maupun gurita menggembirakan kehidupan laut. Naik ke pesisir pantai, deburan ombak menjilat lembut kaki yang menjejak di hamparan pasir putih.

Pesona Nusa Tenggara Barat memang akan memikat siapapun pelancong yang datang ke sana. Keramahan warga yang mayoritas muslim dalam Festival Senggigi yang rutin dilakukan di bulan Juli. Parade seni budaya, pameran kuliner, dan deretan pagelaran seni lainnya tak pernah sepi dikunjungi wisatawan.

Memang, jika dibandingkan, wisata di provinsi NTB belum seramai Bali. Namun, potensi wisata di NTB sungguh luar biasa. Sebut saja, kekayaan alam, kuliner, khazanah budaya, serta religi tak bisa luput dari perhitungan wisatawan yang ingin mencari tempat berlibur.

Rupanya, potensi bak mutiara ini membuat Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi mencanangkan proyek besar untuk NTB yaitu menjadi Destinasi ‘Wisata Syariah’ Indonesia dan Internasional. NTB sudah diresmikan sebagai destinasi Wisata Syariah tahun ini.

“Potensi wisata syariah atau wisata keluarga di NTB itu sangat besar. Bukan hanya karena mayoritas penduduk Islam, tapi karena potensi alam dan budaya yang menarik para wisatawan cukup banyak di daerah ini,” kata Gubernur NTB seperti dilansir Antara saat seminar “Nusa Tenggara Barat Menuju Destinasi Wisata Syariah dan Wisata Keluarga Dunia”.

Siapa sangka juga,  menurut Gubernur, wisata NTB yang juga menjadi buruan wisatawan luar negeri tersebut menyediakan ruang bersahabat bagi wisatawan muslim yang datang. Kini, NTB mengembangkan wisata syariah yang dapat mempermudah wisatawan muslim dalam beribadah, menikmati makanan halal, dan aktivitas lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam.

Meski baru beberapa waktu lalu ditunjuk sebagai destinasi wisata syariah bersama dengan 12 provinsi lainnya, NTB tetap percaya diri mengelola wisata syariah ini. Salah satu penunjangnya, dengan jumlah 92% masyarakat NTB yang menganut agama Islam, pemerintah NTB tak khawatir para turis muslim akan kesulitan menemukan makanan halal di sana.

Jika Aceh kerap dijulukiSerambi Mekah, karena penduduknya yang mayoritas muslim ini pula, NTB berani menjuluki dirinya sebagai Pulau Seribu Masjid. Sebab, sepanjang masuk kota sampai pelosok provinsi NTB,terutama di Lombok, wisatawan diyakini tak akan kesulitan mencari masjid. Ini membuat para wisatawan tak perlu bersusah payah jika ingin melaksanakan shalat berjamaah.

NTB pun dijuluki sebagai Negeri Para Sultan. Alasannya jelas, karena bumi NTB yang sempat diduduki kerajaan Islam di Mataram, mewarisi ribuan peninggalan kesultanan tersebut. Mulai dari air mancur Masjid Bengak, sampai dengan ornamen-ornamen kebudayaan yang menghiasi masjid-masjid bersejarah di sana. Tempat-tempat tersebut tak hanya bersejarah, namun juga memberikan gambaran pada para wisatawan mengenai kehidupan Islam di masa lalu.

Promosi hingga Siapkan Fasilitas Penunjang

Dinas Pariwisata dan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB  dan pun kian menggiatkan promosi wisata syariah di destinasi yang dianggap memiliki nilai jual. Dari berbagai destinasi, pemerintah membidik wisata unggulan yang paling banyak dikunjungi wisatawan: kawasan Mataram Metro, Sengigi Tiga Gili, Kuta Mandalika, Rasimas Sembalun, Alasutan, Pototano Maluk, Batu Hijau Dodorinti, Samota, Teluk Bima, dan Waworada Sape.

Kepada Alhikmah, Kepala BPPD NTB Taufan Rahmadi mengatakan bahwa pihak pemerintah sudah melakukan prmosi sejak tahun 2014 silam seiring dengan persiapan fasilitas penunjang Wisata Syariah.

“Kami siapkan makanan halal dan tempat ibadah pastinya, karena 92% warga NTB adalah muslim juga. Juga, kami masih mengembangkan 10 hotel dengan label syariah. Untuk Mandalika sendiri, memang masih dibangun. Tapi memang salah satu zona untuk muslim traveler kami tempatkan di sana. Tapi biasanya, dengan sendirinya, pihak hotel di sana pun sudah paham.,” katanya saat dihubungi via sambungan telepon medio Juni 2015 lalu.

Selain itu, menurut Taufan, warga NTB sendiri yang 92 % beragama Islam sangat terbuka dan siap menerima tamu dengan baik. “Oleh warga NTB,  pariwisata dijadikan sebagai jalan untuk menjamu tamunya dengan ramah. Ini nilai-nilai Islam yang ditanamkan,” tambahnya.

Sebab menurut Taufik,  wisata syariah tak bisa hanya terbatas pada makanan halal atau penyediaan alat ibadah. Lebih jauh, wisata syariah perlu merepresentasikan perilaku dan nilai keislaman. Bahkan, ia menyatakan, jauh sebelum didaulat sebagai destinasi wisata syariah, NTB sudah menerapkan nilai-nilai ini. Sebab, penerapan nilai ini didukung dengan  banyaknya pesantren dan julukan Pulau Seribu Masjid yang melekat pada NTB.

Taufan pun mencontohkan, konsep Wisata Syariah yang misalnya diterapkan di Pantai –pantai di NTB yang selalu ramai dikunjungi. “Kami banyak dikunjungi oleh masyarakat dari Middle East (Timur Tengah) dan mereka meminta untuk disediakan tempat untuk muslim. Sehingga, para wisatawan muslim ini memiliki tempat khusus dan ekslusif di Mandalika,” tambahnya.

Usaha NTB dalam mengelola wisata syariah ini tak cukup sampai di sana. Pemerintah NTB juga melakukan upaya edukatif pada masyarakat agar bisa lebih ramah pada wisatawan. Di banyak tempat, pemerintah NTB memasang berbagai iklan layanan masyarakat yang kental dengan nilai kejujuran dan keramah-tamahan. Tak hanya bagi turis muslim, marketing tools ini akan membuat semua wisatawan merasa nyaman, dan aman.

Pemerintah NTB menyadari potensi budaya dan alam yang sangat banyak ini. Dengan mengelola wisata syariah, mereka justru dapat memperluas segmen pariwisata di Indonesia. Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi, bahkan mengakui wisata syariah sudah banyak disorot negara-negara lain. Maka sepatutnya, ia menilai Indonesia sebagai negara muslim, tak ketinggalan mengembangkan bisnis wisata syariah.

Dalam memajukan pendapatan wilayah sendiri, provinsi NTB telah menjadikan wisata syariah sebagai salah satu prioritas. Tak hanya menampilkan citra destinasi wisata religi dan budaya lainnya, pemerintah NTB berupaya melahirkan branding dalam wisata syariah yang bisa menjadi identitas NTB. Kendati demikian, wisata syariah ini tak akan mengganggu aspek wisata konvensional yang lebih dulu ada.

Begitu besarnya pasar yang ditawarkan wisata syariah, pemerintah NTB bahkan menargetkan dua juta wisatawan datang ke Lombok pertahun 2016. “Harapannya, NTB bisa menjadi percontohan wisata syariah secara nasional, atau internasional. Pariwisata NTB mampu: satu, meningkatkan derajat masyarakatnya. Dua, wisata syariah tidak identik dengan teroris. Tiga, pariwisata itu bukan hal negatif, tapi mampu menjadi rahmatan lil alamin,” pungkas Taufan Rahmadi.

(Aghniya/Alhikmah)