Nadiya Rahmah, ‘Agen’ Syi’ar di Negeri Kanguru

Nadiya Rahmah, ‘Agen’ Syi’ar di Negeri Kanguru

0 115

Pengalaman-pengalaman ini menjadi wadah untuk menggali dalam diri apa itu Islam? Bagaimanakah seharusnya saya sebagai muslim memahami Islam, dan bagaimana agar menjadi agen Islam yang baik?

ALHIKMAH.CO–Assalamualaikum pembaca Alhikmah, ada rasa haru yang terselip sesaat masih berkesempatan menyapa kekawan, serta saudara muslim di tanah air. Sebab kini (saat tulisan ini dibuat) saya masih menempuh studi di Australia, tepatnya di Universitas Queesland (UQ)-Brisbane.

Ketika seorang kawan, meminta menuliskan segurat pengalaman di sini, rasanya senang sekali. Berbagi pengalaman sebagai kaum minoritas, tentu sebuah perjalanan yang asyik untuk diceritakan.

Seperti kesan pertama di Brisbane ini, mengejutkan. Aktivitas hidup di sini berjalan sangat lambat. Suasananya sepi. Brisbane mungkin lebih luas dari pada kota Bandung, tapi populasinya hanya 2,5 juta orang. Saya tidak bisa menerka kenapa mereka membangun semua infrastruktur yang mahal hanya untuk akomodasi sekian masyarakat ini.

Menambahkan, UQ adalah sebuah unversitas kecil di Brisbane. Tapi dari sinilah sumber pendapatan kota (bayangkan 12.000 mahasiswa internasional setiap tahun dengan budget ratusan juta rupiah perbulan).

Ada banyak mahasiswa internasional di sini. Termasuk saya yang berasal dari Indonesia. Setiap orang bertanya, kenapa UQ? saya selalu menjawab: karena saya mau belajar Design Studia dan Research Elective secara bersamaan. Itulah yang sedang saya pelajari sekarang.

Eum, bercerita kehidupan Muslim di Australia, berada di lingkungan di mana muslim adalah minoritas, bisa membuat seseorang lebih menyadari identitasnya sebagai seorang muslim. Hal tersebut terjadi kepada saya, ketika saya memasuki kuliah hari pertama di semester pertama.

Saya adalah satu-satunya mahasiswi berjilbab di dalam kelas. Wajar bila saat itu muncul perasaan khawatir tidak diterima secara sosial. Apalagi mengingat hari itu adalah pembentukan kelompok untuk mengerjakan tugas studio. Syukurnya, mereka terbuka dan ramah.

Saya mendapati teman kelompok yang kooperatif. Namun, saya sadar hal ini juga beriringan dengan kewajiban untuk menjadi agen muslim yang baik. Untuk tidak terlambat dan selalu menepati janji, untuk menjadi orang yang terbuka dan peduli, serta untuk memaksimalkan potensi dalam setiap pekerjaan.


11755650_10207505367538277_4084847647510862259_n

Pengalaman berikutnya yang pasti dirasakan juga oleh pelajar muslim di negara lain, adalah mencari waktu dan tempat shalat. Bagi saya, shalat menjadi kebutuhan melebihi makan, di sini saya kemudian terbiasa untuk shalat “di mana saja”: di sebuah lobby tangga di menara lantai enam, di taman, di lapangan parkir, di pantai, di sudut ruangan, di studio, dan di kelas yang kosong.

Mendekat pada Allah juga menjadi kebutuhan sebab tidak seperti di kampung halaman, di sini hal tersebut tidak banyak difasilitasi oleh institusi. Saya masih bersyukur UQ mempunyai sebuah mushala yang dinamakan Multi-Faith Chaplaincy, sebuah gedung yang ruang-ruangnya dibagi untuk mewadahi kegiatan peribadatan berbagai agama.

11050276_10206344161188844_860397182446746280_n

Mahasiswa muslim Indonesia juga sering mengadakan kajian dan mentoring. Senin sampai Sabtu, mushala ini dapat digunakan untuk shalat, mengkaji Qur’an, atau sekadar bertemu sesama muslim dan beristirahat.

Sekali seminggu ada sebuah inisiasi kajian berjudul Friday Night Class, untuk belajar Ushul Fiqh, mendiskusikan Tafsir Qur’an, dan mendengarkan kisah teladan muslim terdahulu. Bertemu dengan teman-teman muslim dari negara lain, bertukar pikiran, dan berdiskusi adalah pengalaman yang menyegarkan.

Satu lagi yang tak boleh dilewatkan, benar makanannya. Makanan halal ada di mana-mana (tapi anda harus menggali dan mencari dengan sangat hati-hati dan teliti). saya beritahu yah, bahwa makanan adalah hal yang mudah untuk diatur (apalagi kalau anda bisa masak, saya tidak bisa, tapi saya baik-baik saja). Lucunya, buah dan sayur lebih mahal daripada daging.

Anggur lebih murah daripada pisang, bahkan lebih murah daripada timun. Harga minyak zaitun hampir sama dengan minyak kelapa. Jadi tentu saja saya memilih minyak zaitun dan minyak canola.

Pembaca Alhikmah yang budiman, hidup di sini, mengingatkan saya pada betapa Islam menyatukan kita dengan Tauhid, meski kita memiliki sejarah dan situasi politik yang berbeda. Kami mendekat karena kami butuh, dan kami yakin bahwa Allah itu dekat.

Di sini, Ramadhan dan Iedul Fitri adalah pengalaman yang tak terlupakan. Iedul Fitri pertama saya di Brisbane bertepatan dengan hari pertama kuliah semester kedua. Saya meliburkan diri dan mengorbankan studi, tapi saya berkesempatan merasakan safari lebaran ke rumah-rumah keluarga Indonesia di Brisbane dan Gold Coast.

Merasakan masakan Indonesia dan suasana lebaran seperti di rumah, bersama orang-orang yang benar-benar baru. Intensitas kesadaran saya terhadap identitas muslim juga meningkat ketika saya mendengar berita pengeboman atau penyerangan di berbagai tempat di Australia dan mancanegara.

Oiya, teman-teman Australia saya tahu betul bahwa penyanderaan di toko Coklat, pengeboman, dan penyerangan adalah tindak kriminal yang sangat mungkin sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan muslim.

Tapi, tak sedikit juga yang berakibat diskriminasi terhadap muslim dan perlakuan kasar di tempat umum. Seorang ditarik jilbabnya di mall, orang yang membuang muka, seorang yang diancam di sebuah taman, masjid dikotori dengan graffiti, dan perlakuan diskriminasi lain.

Pengalaman-pengalaman ini menjadi wadah untuk menggali dalam diri apa itu Islam, bagaimanakah seharusnya saya sebagai muslim memahami Islam, dan bagaimana agar menjadi agen Islam yang baik.

[senandika MK/alhikmah]