Nabi, Sahabat dan Canda

Nabi, Sahabat dan Canda

0 101

ALHIKMAH.CO–Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam jika bertemu dengan Abu Umair, adik Anas bin Malik-ketika ia masih kanak-kanak-sering mencandainya tentang anak burung yang ia pelihara. “Abu Umair, apa yang dilakukan anak burungmu?” Demikian beliau mencandai.

Abu Dawud meriwayatkan, seseorang mendatangi Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, bawalah saya,” pintanya, “Kami akan membawamu di atas anak unta,” Jawab Nabi, “Apa yang dapat ku lakukan dengan anak unta?”, tanyanya kebingungan. Maka Nabi berkata, “Bukankah unta dewasa itu adalah anak unta juga.” (HR. At Tirmidzi).

Terkadang Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam nimbrung berkelakar dengan para shahabatnya seusai shalat Shubuh setelah matahari terbit. Simak bin Harb bertanya kepada Jabir bin Samurah, “Apakah ia sering menyertai Nabi.” Jabir mengiyakan dan ia bercerita bahwa Nabi tidak beranjak dari tempat shalat Shubuhnya, kecuali jika matahari telah terbit.
Terkadang para Shahabat duduk-duduk menceritakan tentang kisah-kisah di masa Jahiliyah, mereka tertawa, sedangkan Nabi hanya tersenyum. (HR. An-Nasai).

Di dalam riwayat lain, oleh Imam An-Nasai dan Ahmad disebutkan, “Terkadang mereka melantunkan syair.”Adalah Nu’aiman bin Amr bin Rifa’ah termasuk shahabat besar pertama, ikut perang Badar, sangat dikenal dengan candanya. Ibnu Abdil Barr menyifati candanya terkadang kelewatan, du’abah zaidah. (Al Isti’ab 4/1526).

Rasulullah hidup bersama dengan para shahabatnya yang memiliki karakter berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Di antara mereka ada yang bersifat hazm, serius, tegas dan amat berwibawa semisal Umar bin Khaththab. Sebaliknya ada pula yang dikenal suka berkelakar seperti Nu’aiman dan Nabi pun tidak mengingkarinya.Tertawa yang dibuat-buat, terbahak-bahak atau tertawa tidak pada tempatnya adalah dibenci agama. Ibnu Umar pernah ditanya tentang shahabat Nabi apakah mereka juga tertawa, maka dia menjawab, “Ya! Dan keimanan mereka seumpama gunung.”

Sufyan bin Uyainah ditanya apakah canda itu termasuk perbuatan tercela? Ia menjawab tidak, “Bahkan termasuk sunnah bagi yang dapat mengondisikan canda sesuai dengan aturannya. (panduan dakwah sekolah/alhikmah)