MUI Papua: Masih Terjadi Kristenisasi dan Pemurtadan di Papua

MUI Papua: Masih Terjadi Kristenisasi dan Pemurtadan di Papua

0 597

ALHIKMAH.CO,– Tanah Papua masih menjadi sasaran kristenisasi, pemurtadan, dan aliran sempalan dari para misionaris. Banyaknya masyarakat Papua yang kembali murtad, disebabkan mereka masih belum merasakan perubahan, kedamaian yang ia dapatkan dari Islam. Demikian sepenggal pendapat yang diutarakan Ketua MUI Papua, Saiful Islam al Payage.

“Orang akan mencinta dan membela kalau merasakan kenyamanan dan mendapatkan pengetahuan secara mendalam makna Islam sesungguhnya. Namun karena tidak mendapatkan itu, banyak yang tergoda dan kembali murtad,” ungkap Ustadz Payage di sela Kongres Umat Islam Indonesia beberapa waktu kemarin.

Selain itu, imbuh Ustadz Payage, sebagaimana sabda Rasul, orang bisa menjadi kafir karena kemiskinan.  Ketiga, peranan misionaris juga gencar dalam menyebarkan paham mereka.

Menurut Ketua MUI Papua ini, semestinya spirit umat muslim Papua dalam berdakwah tidak boleh kalah oleh misionaris. Selain itu, perhatian saudara muslim lainnya juga sangat dibutuhkan. “Saya juga mengharapkan para aghniya yang ada di luar Papua bisa menyalurkan rezekinya, agar para mualaf ini merasa diperhatikan. Ini yang perlu dilakukan,” tandasnya.

Selain perhatian secara materi, untuk menjaga agar tidak murtad, Ustadz Payage menilai pembinaan mualaf di sana juga adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Mesti digalakan lembaga-lembaga pendidikan yang memberikan pencerahan dalam keagamaan, agar para mualaf tidak murtad kembali dan merasakan kenikmatan Islam.

Selanjutnya, imbuh Ustadz Payage, perlu ada sinergitas antara umat Islam yang asli Papua dengan pendatang. Sebagaimana yang dicontohkan para sahabat Muhajirin dan kaum Anshor. Ustadz Payage pun kemudian menukil beberapa data demografi umat Islam di Papua. Katanya, umat Islam asli papua itu baru berkisah 10-20 persen, tapi kalau digabung dengan Papua Barat menjadi 40 persen.

“Makanya saya selalu mengatakan, berbicara Islam bukan berbicara ormas, tapi berbicara Laa Illaha Illalah. Itu yang perlu di lakukan di Papua ini, karena kita jangankan berbicara kekuatan menghadapi tantangan dari luar, perpecahan dari dalam saja kita masih berat,” tandasnya. (pnurullah/alhikmah)