MTXL, Penjaga Oase Iman Di Tengah Belantara Ibu Kota

MTXL, Penjaga Oase Iman Di Tengah Belantara Ibu Kota

0 97

Siapa bilang  eksekutif muda selalu lekat dengan hingar bingar dunia yang glamor, melenakan? Di tengah belantara hutan beton ibu kota, Jakarta, ada segelintir eksekutif muda, penjaga oase iman yang menyejukkan. 

ALHIKMAH.CO–Kumandang adzan membelah langit Ibu Kota, Kota Metropolitan yang tak pernah berhenti berdetak siang dan malam. PanggilanNya, menembus lorong-lorong kota, melewati gedung-gedung nan pongah yang menjulang, menantang langit. Berhamburan lalu-lalang, sekejap, jalanan Ibu Kota menjadi lautan manusia.

Panggilan terus bersahut, namun gemerecuk perut begitu menggoda, hingga kumandangnya nan syahdu terlupa begitu saja. Sambil berlalu menikmati santapan nan lezat, dan pertanyaan-pertanyaan “hendak kemana kita makan siang? HI? Pasar Festival? Epicentrum?” menyeruak. Di antara gedung-gedung mengkilap pencakar langit, di Bilangan Kuningan, sedikit orang membasuh wajahnya, memenuhi panggilan yang begitu nyata, panggilan kebahagiaan, adzan.

Di selipan gedung nan luas, di ruangan mungil yang hanya sebesar 2 x 2m itu, beberapa pemuda bertakbir, rukuk, nan sujud. Nampak cahaya melarik melalui pintu masuk, tertutup antrian beberapa orang, lantaran mungilnya tempat untuk menghadap RabbNya.

Kalender menunjuk 1 September 2008, ketika tiga orang eksekutif muda yang baru saja shalat, berbincang sederhana  akan kebutuhan nilai spiritual. Bahwa selain bekerja profesional, seorang muslim pun harus difasilitasi beribadah dengan nyaman. Perbincangan Imam Rahadi, Anwar Faruq dan Ikhwan di mushola kantor provider layanan komunikasi ternama XL itu berlanjut usulan perluasan mushola dan dijadikannya mushola sebagai pusat keilmuan Islam untuk para karyawan.

Sejak detik itu, Majelis Taklim XL (MT XL)pun lahir di tengah kepungan gedung menjulang, mengisi paceklik spiritual, menemukan kedamaian, bak oase di tengah dahaga ilmu. Enam tahun berlalu, kini kumandang adzan begitu syahdu, membuat orang-orang berduyun-duyun berdatangan mereguk manisnya shalat dan ilmu.

MT XL, satu klub dari sekian klub komunitas di perusahaan ini saban hari kain riuh dan mandiri.  Ada banyak klub di  XL Axiata, meski tidak ada kewajiban seluruh karyawan untuk bergabung di dalamnya. Mulai dari klub olahraga, klub kuliner, klub petualangan, dan MT XL bertengger di sana.

Di temui Alhikmah, sepenggal September 2014 lalu di Kantor XL di Mega Kuningan Jakarta, Ketua MTXL, Feri Firman mengatakan bahwa kini, MT XL sudah melakukan kajian keislaman secara rutin. Kajian-kajian semisal: pelatihan bahasa arab, tahsin dan tahfidz setiap Senin, kajian special fikih dan sejarah Selasa hingga Kamis, dan pengajian khusus akhwat pada hari Jumat, yang dilakukan usai shalat zuhur, pada jam istirahat, rutin digelar di tengah hutan beton ibu kota.

Tak ketinggalan, para pembicara kondang pun berdatangan untuk mengisi dahaga spiritual para karyawan yang mayoritas para eksekutif muda. Sebut saja Aa Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Haryono, Ustadz Arifin Ilham, Peggy Melati Sukma, dan pembicara lainnya.

Picture11

Feri Firman yang juga General Manager Touchpoint XL mengatakan bahwa adanya klub MTXL ini bukan sekadar untuk belajar, lalu akhirnya karyawan kembali ke rutinitas. “Tujuannya tidak lain hanya untuk mengantarkan karyawan dan keluarga untuk mempersiapkan bekal menuju surga,” tambah Feri

Dengan visi menjadi fasilitator sarana kegiatan untuk meraih pribadi yang sholeh, professional dan berdaya guna bagi karyawan muslim di perusahaan XL Axiata Tbk, Majelis Taklim XL yang beranggotakan eksekutif muda ini juga kerap  melakukan kegiatan sosial seperti khitanan masal, pembagian zakat, bakti sosial, dan berbuka puasa bersama dengan kaum dhuafa di kala Ramadhan tiba.

“kegiatan ini semata-mata lillahi ta’ala. bagaimana kami ini berupaya agar tidak hanya menjadi fasilitator dan bermanfaat bagi internal (karyawan) namun juga kepada eksternal (masyarakat)” ungkapnya.

Picture222Picture222jgPicture1111

kegiatan sosial kemasyarakatan MT XL (foto: dok.pribadi)

Masih dalam satu kesempatan,  Redi Rindayadi Ahmad, Ketua Bidang Kegiatan MTXL,  sekaligus Manager Marketing Postpaid XL, mengatakan bahwa dalam perjalanan MT XL yang hampir 7 tahun ini ternyata tidak lepas dari sebagian kecil orang yang memandang sebelah mata. Sikap iri dan risih kerap kali datang ketika MTXL mulai melakukan pendekatan-pendekatan dalam melakukan dakwahnya. Selain itu, tidak dapat dipungkiri pengaruh klub MTXL  juga bisa dikatakan sangat besar kepada perusahaan, mulai dari ide-ide yang tetap berjalan berbarengan dengan etika hingga kejanggalan-kejanggalan dalam perusahaan selalu diminta dari pendapat  para pemuda MTXL.

“banyak yang bilang ‘apaan sih ni MTXL?’ ketika mulai berdakwah. tapi semua itu adalah penyemangat kami, bahwa kami harus terus belajar lagi bagaimana pendekatan yang pas dan baik untuk sasaran dakwah kami. kami akan melakukannya pelan-pelan. Lagi pula bukan dakwah namanya kalau dilakukan kepada orang yang nurut,” ujar Redi

Feri dan kawan-kawannya juga sangat berterimakasih kepada pendiri MTXL, dulu tantangannya tentu lebih banyak dibanding sekarang. Jika saja para pendiri tidak melakukan dakwah ini secara konsisten, boleh jadi sekarang MTXL sudah tinggal nama.

Peran Para Pemuda

Feri dan Redi juga mengakui bahwa peran pemuda untuk memajukan MTXL sangat berpengaruh dalam setiap perjalanannya. Terkadang mereka yang sudah berkeluarga ini butuh sekali dorongan dari para pemuda yang bergabung, seperti dorongan semangat dan ide-ide segar yang ditawarkan untuk menciptakan kegiatan yang lebih menarik dan inspiratif namun tetap based on AlQuran.

Aditya Bayu Nand Chandra, Marketing XL dan pengurus Kaderisasi MTXL, mengatakan dirinya sangat beruntung bisa bergabung di dalam klub MTXL ini. Seperti saat pertama kali bergabung, para eksekutif muda diberikan arahan seputar kajian profesional bekerja, menjadi pekerja yang baik, hingga pelatihan-pelatihan dan dauroh pengembangan karakter dan kepemimpinan selama 2 hari. Bahkan, program perusahaan seperti ‘Family Day’ bulan ramadhan lalu diserahkan kepanitiannya kepada pemuda-pemuda MTXL.

“jadi apa yang kami dapat dari MTXL tidak sia-sia begitu saja, tetapi langsung diaplikasikan dengan mempercayakan kami sebagai panitianya” ujar Adit.

Pada prinsipnya, MTXL juga selalu menegaskan bahwa tujuan utama MTXL ialah perubahan para karyawan ke arah yang lebih baik, yaitu hijrah. Tiga konteks hijrah bagi anggotanya. hijrah pertama, yakni hijrah menjadi muslim dan muslimah yang berilmu, seperti diadakannya kajian setiap hari. Kedua, menjadi muslim dan muslimah yang professional, baik pada aspek agama maupun pekerjaan. Dan terakhir, menjadi muslim dan muslimah yang bermanfaat bagi dunia.

“kami berani mengklaim dunia karena tidak hanya berupaya bagi Indonesia, kami juga sedang mengupayakan bermanfaat kepada dunia, seperti melakukan bantuan social ke Palestina dan Suriah,” tambah Redi.

adit feri redi

Aditya Bayu, Feri Firman, dan Redi Rindayadi (foto: dhea nadira/Alhikmah)

Urusan membagi waktu, Feri dan Redi mengaku tidak menemukan kesulitan. “Tidak ada yang tidak sibuk jika bekerja di perusahaan provider seperti ini. namun, tidak ada alasan untuk tidak menunaikan kewajiban seperti shalat, di sela-sela waktu kosong yang disediakan perusahaan. terlebih lagi, jam istirahat disedikan sekitar satu setengah jam, mulai dari adzan zuhur hingga pukul 13.30 wib.”

Menurutnya, berdakwah memang tidak perlu terburu-buru, bahkan diutamakan berdakwah kepada kerabat terdekat terlebih dahulu. MTXL memang tidak menguntungkan bagi para anggotanya secara materi, namun Feri dan Redi mengaku sangat terpuaskan rasa batinnya ketika mereka melakukan semuanya karena Allah,  belajar dan bekerja dijalan yang Allah Ridhoi. setidaknya, menjadi karyawan yang baik dan berakhlakul karimah, integritas meningkat, komunikasi semakin tertata, semua didapatkan dari MTXL. satu ayat Quran yang menjadi pedoman MTXL ;

“dan katakanlah : “bekerjalah kamu, maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang  Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakNya kepada kamu apa yang kamu kerjakan” (QS. 9:105)

Inilah peneguh hati segelintir pemuda Ibu Kota yang terus bergerak dalam riuh dan ramainya dunia metropolis yang menggoda. Karena, bekerja hanya untuk memuaskan keinginan yang tak pernah puas, ialah suatu yang melenakan.

Para pemuda ini berkeyakinan, semuanya harus diniatkan lurus, mengingat lagi tujuan diciptakan manusia, bahwa bekerja ialah ibadah, dan untuk itu, diperlukan ilmu dan amal. “kami berusaha terus untuk memperbaiki diri selagi masih dikaruniai umur oleh Allah, dan mengantar orang lain untuk memperbaiki dirinya juga. intinya selamat dunia akhirat, Fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah” Doa Feri di akhir pembicaraannya. Wallahu a’lam.

(Dhea/ed: rizkilesus/Alhikmah)

Komentar ditutup.