Minimalisir Ikhtilat, Raih Kemenangan Perjuangan

Minimalisir Ikhtilat, Raih Kemenangan Perjuangan

0 187
ilustrasi form rohis.itsar

Oleh : Faqih Adam, Jurusan Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam UPI Bandung 2014

ISLAM merupakan agama yang memerhatikan adab. Apa yang dipandang baik bagi Allah adalah baik seluruhnya, begitupun sebaliknya. Karena itu, tiada alasan berbaur dengan lawan jenis (ikhtilat) demi ‘kepentingan umat’. Ini pula yang menjadi landasan, lembaga-lembaga dakwah kampus (LDK) kerap menggunakan hijab saat menggelar rapat sekalipun.

Seperti yang nampak di salah satu lembaga dakwah di UPI-Bandung. Mengutip pendapat salah satu kader LDK UPI Bandung Abdullah Syafi’I, tidak membaurnya di antara mereka, dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah dan pada akhirnya akan membawa kepada perzinahan, khususnya zina mata atau hati.

Syahdan, pembaca, saat ini banyak mahasiswa, khususnya yang muslim belum sadar akan syariat Islam dan bahayanya berbaur dengan lawan jenis. Bahkan, tak jarang pula ditemui sedang duduk berdampingan antara laki-laki dan perempuan tanpa malu dan ragu, kendati bila duduk agak berjauhanpun tidak mengurangi efektifitas mereka dalam berkomunikasi.

Meminimalisir ikhtilat ini dilakukan, semata merupakan syariat Islam juga. Mengutip penjelasan Taqiyuddin An Nabhani, dalam kitab An Nizhamul Ijtima`I Fil Islam, Rasulullah Saw., mencontohkan dalam shalat jamaah di masjid, barisan (shaff) laki-laki dan perempuan diatur secara terpisah. Yakni shaff laki-laki di depan dekat dengan imam, sementara yang perempuan berada di belakang shaf laki-laki.

Demikian pula setelah selesai shalat, Rasulullah Saw., mengatur agar jamaah perempuan keluar masjid lebih dahulu, baru kemudian laki-laki. Ketika beliau menyampaikan ajaran Islam di masjid pun, laki-laki dan perempuan juga terpisah. Ada kalanya terpisah secara waktu (hari pengajiannya berbeda), atau terpisah secara tempat. Yaitu jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki, atau kadang jamaah perempuan diatur terletak di samping jamaah laki-laki.

Kendati telah diatur, ajaran Islam juga tetap bersifat universal dan fleksibel terhadap keadaan. Ada beberapa kondisi yang kemudian statusnya menjadi diperbolehkan untuk berikhtilat karena hal lain. Di antaranya ketika di rumah sakit, belajar mengajar di sekolah, atau berjualan di pasar. Sehingga, dalam kondisi seperti ini, ketika bisa dipisahkan, akan mempunyai nilai tambahan tersendiri di mata Allah.

Demikian pembaca, syariat Islam dalam mengatur interaksi laki-laki dan perempuan. Bila sesuatu yang mudharat bisa diminimalisir, mengapa tidak? Semoga Allah merahmati kita semua yang menjaga izzah dan kesucian ajaran-ajaran Islam. []