Meski Waktu Ibarat Pedang…

Meski Waktu Ibarat Pedang…

0 423

Waktu semakin tipis. Tapi kesabaran tak bertambah tebal. Waktu kian habis. Namun belum juga kita sampai pada titik nalar yang benar.

Kita dituntut untuk selalu sadar. Sadar dalam menjalani waktu, karena sesungguhnya kita sedang mencipta sejarah. Sejarah apa yang telah kita cipta setahun, sebulan, atau seminggu yang lalu? Sebuah pertanyaan yang laik untuk dilayangkan berulang-ulang. Bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga pada karib, kawan, bahkan lawan. Sejarah apa yang sedang disulam?

Sejarah tak selamanya harus kisah-kisah besar, heroik, atau yang mengagumkan. Bisa saja hanya sejarah lokal yang beredar di antara penduduk sebuah kota kecil. Bisa juga sejarah yang lebih kecil, yang cukup dikenang anak dan cucu dikemudian hari. Tapi sungguh, mencipta sejarah adalah sesuatu yang harus dipikirkan.

Hidup bukanlah rangkaian waktu yang terjadi begitu saja. Dari tiada, lalu lahir, besar, tua, lantas menghilang. Sungguh tak seperti itu yang terjadi sebenarnya. Kita akan ditanya tentang waktu yang telah berlalu. Ke mana saja waktu dihabiskan selama ini?

Waktu adalah pedang, begitulah pepatah Arab berkata. Tapi sekali lagi, meski waktu adalah pedang, tak pernah kita punya perasaan bila sewaktu-waktu bisa terpenggal karenanya. Kita masih banyak menjalani waktu tanpa rencana. Kita masih menghabiskan waktu tanpa kesadaran mencipta sejarah. Kita menjalani waktu, seolah kesemuanya itu tanpa ada pertanggung jawaban. Waktu akan terus mengapung dalam ruang hidup, meminta jawab dan selalu mengajukan pertanyaan.

Sungguh kita tak diajarkan untuk menjalani hidup apa adanya. Rasul saja merancang hidupnya, merencanakan dakwahnya begitu matang. Tabiat merancang kehidupan pun terwarisi oleh sahabat danuswah teladan lainnya. Hidup mereka tidak mengalir begitu saja. Mereka memikirkan apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang dan peran apa yang harus dimainkan.

Peranan dalam sejarah harus kita tentukan. Kita tak bisa lagi membiarkan waktu berlalu tanpa peran dan jejak-jejak kaki kita. Tentu saja sejarah yang cemerlang yang diingat dan dituturkan dengan bangga. Dan untuk itu, hanya ada satu cara membangunnya. Seperti kata Nabi, kita harus menjadikan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Bulan ini harus lebih baik dari bulan kemarin, dan hari ini, harus lebih cemerlang dari hari kemarin. Bismillah… (senandika/alhikmah) []

 

*dirangkum dari buku Herry Nurdi ~Living Islam~, Lingkar Pena: 2011

Komentar ditutup.