Merengkuh Ilmu Akhirat di Negeri Cyprus

Merengkuh Ilmu Akhirat di Negeri Cyprus

0 6

 

Allah SWT membimbing saya agar tak hanya meraih ilmu dunia, tapi juga mendapat ajaran ilahiyah di universitas akhirat itu. Alhamdulillah.

Sungguh kemuliaan bagi mereka, yang berkeinginan kuat untuk menimba ilmu. Terlebih, jika rumah pendidikan yang dituju memerlukan jarak tempuh panjang agar bias dicapai. Rasanya serupa mengingat para ulama salaf yang rela berpeluh kelelahan, menyisiri ribuan kilometer demi meraih ilmu.

Pembaca, hal itulah yang belum lama ini baru saya lalui. Tentu tak bisa disamakan dengan hikmah yang dicapai para salafussalih. Namun, menimba ilmu jauh dari kampung halaman, melahirkan berkas-berkas keharuan, syukur akan anugerah pengetahuan yang Ia limpahkan. Warna-warni peristiwa selama mereguk ilmu di negeri seberang, menjadi pengalaman hidup yang tak mungkin terbayarkan dengan materi.

Sebelum saya bertutur panjang mengenai kisah tak terlupakan ini, perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Abdurrahman Al Muhammadi, pria asal Bandung yang beruntung mendapat kesempatan untuk mereguk ilmu nun jauh di daratan biru sana. Sebelumnya, sehari-hari saya mengajar di salah satu universitas swasta di Kota Bandung.

Menyoal menimba ilmu, sedikit banyak saya dipengaruhi nasihat Sang Nabi yang banyak digaungkan, ‘tuntutlah ilmu dari buaian dari liang lahat’. Betapa Islam begitu menganjurkan umatnya agar menjadi orang berilmu. Bukan untuk berperilaku meninggi, namun agar seorang muslim mengetahui alangkah agung tanda kebesaran-Nya. Dan agar dengan hikmah ilmu itu, bisa diamalkan untuk bermanfaat pada sesama.

Sebab itu, saya bertekad mereguk ilmu sebanyak-banyaknya, sekemampuan saya sampai diri ini tak lagi berdaya. Dan, peluang mengamalkan nasihat Nabi itu saya dapatkan di pulau kecil di sebelah timur Laut Mediterania.

Ya, tempat itu adalah Cyprus. Sebuah negeri mungil yang menjadi ‘rebutan’ dua bangsa besar, Yunani dan Turki. Tak seperti di Indonesia, agama Islam di sini bukanlah mayoritas. Hanya sekira 18% dari total penduduk, itupun sangat dipengaruhi oleh negara tetangganya, yang dipimpin oleh Erdogan itu.

Pembaca, agar tak bingung, saya jelaskan sedikit mengenai situasi politik di Cyprus, yang mau tak mau berpengaruh juga pada keyakinan masyarakatnya. Dahulu, pada 1974, Yunani melakukan gerakan ekspansi yang mengancam keberadaan muslim, terutama mereka yang berada di utara Cyprus.

Sebagai antisipasi, Turki pun mengirimkan pasukannya untuk memberi perlindungan bagi muslim di Cyprus. Di tahun yang sama pula, dilakukan referendum yang hasilnya Cyprus terbelah menjadi bagian utara dan selatan. PBB sendiri pernah mengupayakan reunifikasi Cyprus, sayangnya hal itu ditolak mayoritas rakyat. Jadilah saat ini, pemerintahan terbagi dua antara Republik Cyprus dan Turkish Republic of North Cyprus (TRNC).

Saya sendiri, mengenyam pendidikan di European University of Lefke. Letaknya berada di utara Cyprus, wilayah yang penganut Islamnya cukup banyak. Sebab dilindungi Turki, wilayah ini terjaga akidahnya. Bahkan penyebaran ajaran Islam terbilang cukup masif.

Terutama di Distrik Lefke, tempat saya menetap. Ia terkenal hingga seluruh dunia. Banyak pelajar berdatangan menimba ilmu, terutama bagi mereka yang tertarik belajar tasawuf, atau berminat dengan sejarah para sufi.

Tak heran, jika di sini terdapat pula semacam pondok ziarah, masjid serta asrama bagi orang-orang yang ingin belajar tasawuf. Pondokan itu disebut Dergah. Pusat Sufi Naqsabandi, khususnya Aiyah ada di sini. Dzikir, sohbet atau tausiyah diadakan setiap hari dan dipimpin langsung oleh Syeikh Mehmet Adil Rabbani.

Saya pun hanya tinggal satu bulan di asrama kampus. Seterusnya, menetap untuk itikaf di Dergah. Allah SWT membimbing saya agar tak hanya meraih ilmu dunia, tapi juga mendapat ajaran ilahiyah di universitas akhirat itu. Alhamdulillah.

Dalam dunia sufisme yang diajarkan di sini, ada satu ajaran yang sangat melekat, yaitu Adab Ya Hu. Suatu sikap merengkuh sesama, juga etika kesopanan yang dijunjung tinggi. Di tempat ini, kami berbagi tempat tinggal, makan bersama, bekerja sama melakukan tugas sehari-hari, seperti mengurus masjid, Dergah, dapur, kamar mandi, taman, dan kebun. Kala waktu shalat datang, kami pun mengumandangkan azan secara bergantian.

Adab Ya Hu ini pula yang menarik para pelajar dari seluruh penjuru dunia. Setiap saat, selalu berdatangan muslim dan muslimah dengan berbagai warna kulit, dari berbagai negara, yang mampir berziarah atau mondok beberapa hari di Dergah.

Ajaran seperti ini penting, karena salah satu inti ajaran Islam adalah akhlak. Rasulullah pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya,”. Saya meyakini, ini bisa menjadi solusi atas pandangan keras dunia dan bantahan bagi julukan ‘teroris’ yang disematkan terhadap umat Islam.

Sungguh pengalaman yang berkesan. Tak hanya mendapat pengetahuan, ikatan silaturahim pun terbuka luas dengan muslim dari berbagai negeri. Saudara-saudara seiman dari Jerman, Inggris, Italia, Perancis, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, bahkan Afrika, turut menemani saya mengisi hari dengan sama-sama mereguk mukjizat ilmu.

Kini, dalam waktu kurang dari satu tahun, saya dapat menyelesaikan studi di Cyprus. Waktunya kembali ke tanah air. Ijazah kelulusan di genggaman tangan. Namun jauh dari itu, pengalaman selama di sana bagai buah tangan manis yang siap dibawa pulang.

Ada banyak kisah lainnya yang tak sempat saya tulisan selama pengembaraan saya di Negeri Cyprus. Namun, semoga pembaca bisa memetik hikmah dari pengalaman saya ini. Aamiin.

Seperti yang dikisahkan Abdurrahman Al Muhammadi pada jurnalis Alhikmah, Irfan Saeful Wathon dengan beberapa suntingan redaksi.