Mensyukuri Nikmat yang tak Kasat

Mensyukuri Nikmat yang tak Kasat

0 214
pict.google

“…wajar rasanya ketika kita hanya bersyukur pada nikmat-nikmat yang langsung terasa, tapi abai terhadap nikmat yang sebetulnya melingkupi diri kita. Hanya karena panca indera tidak merasakannya, kita anggap nikmat itu menjadi tidak ada.”

DI satu kultum di sebuah pesantren. Selepas memimpin dzikir dan doa bersama, sejenak ia meminum beberapa teguk air yang tersimpan di dekat mimbar. Setelah santri terdiam, ustadz ini mulai angkat bicara. Ia kemudian menunjukkan gelas tadi kepada para santri.

“Anak-anakku, coba perhatikan gelas yang saya pegang ini. Apakah ia setengah terisi atau setengah kosong?” tanya Ustadz tersebut dengan bijak.

Santri-santri merespon antusias. Ada yang mengatakan setengah terisi, ada juga yang mengatakan setengah kosong.

“Setengah terisi, atau setengah kosong?” tanya ustadz itu sekali lagi.

Tetiba ruang masjid yang tak seberapa itu cukup riuh dengan jawaban-jawaban para santri. “Setengah terisi air, stadz!” jawab santri muda yang berada di shaff kedua. Ada yang menimpal, setengah kosong, tapi dengan nada yang ragu. Ustadz ini nampak tersenyum.

“Benarkah setengah terisi air? Di dalam gelas ini, apakah semuanya terisi air, atau tidak?” lanjutnya.

Semua santri serempak mengatakan Tidak Stadz. “Airnya tinggal setengah, kan sudah diminum,” sahut yang lain.

“Apakah di dalam gelas ini hanya ada unsur air?” tanya ustadz lagi.

“Tidak, ada unsur udaranya juga,” jawab para santri kompak.

“Jadi, bagaimana setengah terisi setengah kosong?” tanya ustadz menggoda.

“Penuh ustadz, karena di bawahnya ada unsur air di atasnya udara,” jawab santri lain yang mulai paham arah pertanyaan yang dilontarkan.

“Ya, betul. Gelas ini terisi penuh. Hanya di dalamnya ada dua unsur. Yaitu setengah unsur air, dan setengah unsur udara. Tapi bukan itu persoalannya, apa hikmah yang bisa dipetik dari pertanyaan tadi?” sambung ustadz, yang membuat suasana mendadak hening.

===

Syahdan, pembaca yang dirahmati Allah. kisah di atas hanyalah ilustrasi. Kendati demikian, tiada salah bila kita ikut menjawab apa hikmah yang bisa dipetik dari filosofi setengah terisi, setengah kosong tersebut.

Jika kita seksama melihat analogi yang dilontarkan sang ustadz, rasanya sangat erat kaitannya dengan kehidupan. Kita mengatakan gelas tersebut setengah terisi air, karena itulah yang kita lihat. Sementara walaupun ada unsur lain, tapi itu sesuatu yang tidak bisa kita lihat, sentuh, atau cecap. Ini juga yang membuat kita menafikan hal itu, seolah semua yang kita lihat menjadi kebenaran absolut. Kita lupa, ada unsur yang tak kasat mata yang memenuhi gelas tersebut.

Demikianlah bila kita hanya berpikir sepotong berdasarkan logika dan pengamatan semata. Dengan kemampuan terbatas yang dimiliki, tentu hanya akan menyimpulkan hal-hal yang bisa kita lihat. Seolah, Allah Swt., hanya memberikan nikmat yang kasat dipandang. Sesuatu yang tidak langsung kita rasakan, itu bukan kenikmatan.

Maka wajar rasanya ketika kita hanya bersyukur pada nikmat-nikmat yang langsung terasa, tapi abai terhadap nikmat yang sebetulnya melingkupi diri kita. Hanya karena panca indera tidak merasakannya, kita anggap nikmat itu menjadi tidak ada. Sama seperti kita melihat gelas itu setengah terisi air, dan abai terhadap unsur udara di dalamnya.

Maka yang menjadi pertanyaannya, nikmat apakah gerangan yang tak kasat itu? Mari selami pada diri kita sendiri. Nikmat apa yang Allah berikan, tapi kita tidak bisa melihat, mendengar, mencecap nikmat itu. Nikmat kenyang, nikmat sehat, nikmat harta berlimpah, itukan nikmat-nikmat yang bisa dirasakan panca indera. Tapi nikmat apa yang tidak terlihat itu? Atau nikmat yang tidak terlihat itu hanya ilusi? Fiktif? Mengada-ada?

Tidak pembaca, nikmat yang tak kasat itu sungguh ada. Nikmat yang bisa kita temukan dengan menyusur jauh ke dalam lubuk hati. Nikmat yang bisa ditemukan dengan benar-benar merenung, apa yang telah Allah berikan, sehingga kita bisa menjadi seperti sekarang ini.

Ketika kita berlelah-lelah mencari ilmu, bersusah payah mencari nafkah, apa yang menggerakan itu semua? Ketika kita memilih hadir di majelis ilmu tinimbang nongkrong di pinggir jalan. Ketika kita memilih berbakti pada orang tua, ketimbang pacaran? Apa yang menggerakan kita memilih itu semua, kalau bukan karena kita dianugerahi nikmat iman dan Islam?

Ya, nikmat iman dan Islam. Itulah nikmat yang tak kasat tersebut. Nikmat yang kerap kita abaikan. Lalai kita syukuri.

Nikmat itu yang justru membuat kita bisa seperti sekarang ini. Karena nikmat iman dan Islam, ketika di hadapkan pada suatu masalah, kita memilih terus berjuang hidup daripada mengakhirinya. Karena nikmat inilah, kita memilih beribadah daripada mengingkariNya. Nikmat ini jugalah yang mengantarkan kita menyembah Tuhan yang Ahad.

Ketika Allah memanggil dengan kalimat-kalimat takbir, lalu kita terpanggil untuk segera memenuhi undangannya. Apa yang menggerakan itu, kalau bukan karena nikmat iman dan Islam yang ada pada diri. Karena bagi yang tidak memiliki nikmat tersebut, tentu akan tidak acuh terhadap adzan yang didengarnya.

Pembaca yang dirahmati Allah, nikmat iman-Islam inilah yang menghantarkan kita pada ketentraman yang sebenarnya. Kita tidak perlu jauh-jauh plesir ke suatu tempat sunyi untuk mendapatkan kedamaian. Bersyukur atas nikmat Iman-Islam yang diberi, kita akan merasa tentram dalam menjalani kehidupan ini. Tentu sikap syukur yang bukan sekadar di bibir. Rasa syukur yang dipandu oleh Al Quran dan As Sunnah. Wallahu a’lam, semoga bermanfaat. [] (senandika/alhikmahco)

Penulis adalah jurnalis Tabloid Alhikmah cum alumnus UIN Bandung 2008