Mengupas Makna ‘Al Ikhlas’ (2)

Mengupas Makna ‘Al Ikhlas’ (2)

0 29

sambungan dari bagian pertama

ALHIKMAH.CO–Setelah membetulkan niatnya itu baru ia boleh meneruskan amalnya. Apabila sifat ikhlas ini telah ada dalam diri kita, maka jumlah anggota organisasi dakwah akan bertambah pada saat-saat krisis dan akan menyusut pada saat akan mendapatkan kemenangan dan keuntungan. Mereka akan berlomba untuk beramal, tapi akan menghilang pada waktu mendapatkan keuntungan.

Mereka enggan memburu dunia, tetapi berlomba–lomba mengejar keuntungan akhirat. Jika demikian, maka semua amal atau kegiatan akan menjadi berkah dan shaf akan bersatu padu”. Dengan demikian, yang harus kita lakukan adalah luruskan niat, rapatkan barisan. Barisan perjuangan kita akan solid manakala kita berjuang dengan niat yang lurus (ikhlas).

Selanjutnya, keikhlasan akan membuat seseorang selalu melakukan kebaikan, baik pada saat sulit maupun saat senang, ada yang memuji atau malah banyak yang menghina, bahkan dia tidak peduli, apakah amal itu akan menguntungkan secara duniawi atau malah merugikan, dan orang yang ikhlas juga akan merasa senang bila orang lain mencapai kemajuan dan kenikmatan, meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa.

Mereka yang tidak memiliki iman sejati di hati akan merasa frustrasi jika untuk memper­oleh ridha Allah harus melak­sanakan tugas yang mereka merasa sulit me­lak­sanakannya. Mereka menunjukkan keeng­ganan dan ke­tidak­acuhan dengan melakukan tugas itu dengan setengah hati.

Mereka sering meng­anggap bahwa kerja suka­rela atau peng­abdian sebagai kegiatan yang membu­ang-buang waktu, tanpa menghargai bahwa memperoleh ridha Allah adalah balas­an terbaik dan paling berharga. Maka mereka merasa seolah-olah telah memi­kul tanggung jawab besar, atau melaku­kan pengorbanan besar.

Pada titik ini muncul­lah sifat khusus berupa semangat orang beriman. Apakah sukar atau sederhana, tugas apa pun tidak pernah mem­buat frustrasi orang ber­iman, karena dia dengan sepenuh hati dan senang hati ber­ibadah kepada Allah. Sema­ngat ini termani­festasi dalam sikap kegem­biraan dan kebaha­giaan. İnilah manifestasi dari ikhlas.

Bahwa orang beriman mengharapkan balas­an hanya dari Allah juga dinyatakan oleh Rasulullah saw. Ditanya balasan apa bagi orang yang mendambakan popularitas dan kompensasi atas perjuangannya di jalan Allah, Nabi saw. bersabda, “Tidak ada balasan bagi dia.” Kemudian beliau bersabda, “Allah menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas dan untuk mencari ridha-Nya.” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i).(Maroji’: Sejarah Nabi Muhammad SAW karangan M. Husain Haekal)