Mengintip Masjid Jenderal Sudirman, Oase di Jantung Ekonomi Dunia

Mengintip Masjid Jenderal Sudirman, Oase di Jantung Ekonomi Dunia

0 475

Masjid Jenderal Sudirman

Kompleks World Trade Center (WTC) Jakarta

“Dinamakan Jendral Sudirman, karena ingin seperti semangat Sudirman, seorang syuhada muslim, dan menjadi lokomotif umat. Di tengah pusat bisnis di Sudirman, kita akan menjadi pusat kajian ekonomi syariah,”

ALHIKMAH.CO–Jakarta. Dan din  klakson, raungan knalpot, hingga kendaraan yang nyelonong dari sebelah kiri, pemandangan sehari-hari. Masuk ke jantung Ibu Kota, kawasan segitiga emas: Kuningan- Sudirman- Thamrin. Gedung-gedung menantang langit, menjulang. Kaca-kaca memantulkan cahaya mentari. Mobil-mobil antri, berlomba memasuki badan jalan yang sesak, bikin penat.

Manusia hilir mudik, di salah satu pusat bisnis dan perkantoran terbesar di Jakarta, World Trade Center (WTC) yang dulunya dikenal Kompleks Wisma Metropolitan. Nama WTC, mengingatkan kita akan gedung yang menjulang sebagai pusat perputaran uang. Anggapan tersebut bisa jadi benar, ketika kita memasuki kompleks WTC yang luas di Jalan Sudirman ini.

Terik masih menggantung di langit WTC Sudirman. Masuk ke sana wajib menggunakan ID. Para eksekutif muda seliweran, menenteng tas, rapikan dasi dan kemeja, melangkah dengan sepatu mengkilapnya.

Gedung-gedung di dalamnya menjulang tinggi. Palem, trotoar, dan rumputnya tertata rapi. Ada beberapa gedung seperti WTC 1, WTC 2, WTC-4 & WTC-5, dan juga kafe. Orang-orang bule, paras india, Cina, dan etnis lainnya pemandangan biasa. Di sinilah, kantor pusat perusahaan nasional dan multinasional bersemayam: PT Jakarta Land, Permata Bank, HSBC, PT Total E&P Indonesie,  Standard Chartered Bank, Avrist Assurance, Commonwealth Bank, Mandiri, dan sebagainya.

Hari itu Jum’at. Kewajiban kaum muslimin sedunia untuk shalat hampir dimulai.  Ribuan orang tampak menenteng sejadah, menyusur trotoar di kompleks WTC, menyemut ke sebuah Masjid yang menawan di sudut kiri kompleks. Luar biasa, kapasitas masjid sejumlah 2400 jamaah, tak mampu menampung para eksekutif di lingkungan perkantoran itu, hingga mereka terpaksa duduk, berdiri, di ruang-ruang yang tersisa di pelataran.

“Ini Masjid di Pusat ekonomi dunia,” M Iskandar Umar, Ketua Pengurus Harian Masjid Jenderal Sudirman Kompleks WTC Jakarta, membuka perbincangan dengan Alhikmah di dalam Masjid selepas shalat Jum’at, Maret 2015 lalu. “Padahal ini Jumat kedua, tapi sudah nggak muat, bisal kita lihat, sampai luar-luar,” kata Iskandar yang juga karyawan perusahaan minyak multinasional PT Total E&P Indonesie.

Antusiasme para penghuni kompleks perkantoran WTC akan kehadiran Masjid yang baru saja diresmikan di penghujung Februari 2015 ini begitu besar. Karena, kata Iskandar,. “Perjuangan masjid ini melewati masa yang panjang sekali sampai akhirnya Masjid ini berdiri,” katanya.

Dari Sudut Basement hingga Impian Pusat Ekonomi Syariah

Syahdan, di sudut basement sudut basement yang bernama Gedung Wisma Metropolitan 1 itu, kalam Allah berkumandang, memanggil setiap insan agar rehat sejenak, bersama menghadap TuhanNya. Di sanalah, sebuah mushala di kompleks besar WTC berada, selain mushala-mushala kecil lainnya yang tersebar di pelbagai gedung di sekitarnya.

Di sepetak ruang itu, para karyawan berdiri, rukuk, sujud, dan sejenak menikmati siraman iman, usai zuhur pada hari Senin & Kamis. Di sudut basement itu pula, saat adzan Jum’at memanggil, ribuan manusia tumplek blek di sana.

Mushala basement yang hanya berkapasitas 1000 lebih itu pun akhirnya tak muat menampung jamaah Jum’at yang membludak. Banyak jamaah, ratusan orang terpaksa berdiri, sampai keluar basement. Hingga PT Jakarta Land, pengelola WTC, pun membuatkan tenda-tenda sementara setiap Jum’at.

Secuplik kenangan Bambang Muhadi, Ketua Divisi Bidang Informasi dan Komunikasi Masjid Raya Jenderal Sudirman kini. Masjid yang dulunya hanyalah sebuah Mushola besar di sudut Basement itu, kini dikelola Yayasan Masjid Raya Wisma Metropolitan. “Sebelum Masjid ada, semua aktivitas di Basement. Kalau shalat Jumat penuh, kasihan memang,” kata Muhadi.

PENGURUS HARIAN MASJID JENDERAL SUDIRMAN

Ketua Pengurus Harian Masjid Jenderal Sudirman sekarang, Muhammad Iskandar Umar, yang saat itu aktif sebagai Ketua Badan Dakwah Islamiyah (BDI) TOTAL E&P Indonesie bersama kawan-kawan sepemikiran melihat hal ini tak bisa dibiarkan terus menerus, jama’ah shalat membludak hingga berdiri. Atas prakarsa teman-teman dari PermataBank, dibentuk Forum Silaturrahim sebagai wadah bertukar pikiran antara organisasi keislaman di tiap perusahaan seperti Badan Dakwah Islmiyah (BDI), Kerohanian Islam (ROHIS), Kelompok Studi Islam (KSI) dan Yayasan.

PARA PEMBINA

“Kita nggak bisa begini terus. Kami semua bertemu, kita undang, rancang, dan propos ke Manajemen. Dan untuk sementara diberikan tenda-tenda,” ungkapnya. perwakilan tiap perusahaan pun, berjumpa dengan pengurus Yayasan Masjid Raya Metropolitan,

Sementara itu Yayasan Masjid Raya Metropolitan dengan para tokoh seperti Bapak. Try Sutrisno,  Bapak Hoesein Soeropranoto, Bapak Fuad Bawazier, Bapak Ismail Sofyan, selalu mendorong dan berjuang agar pembangunan Masjid disegerakan. Bahkan pada tgl 23 Desember 2012 dilaksnakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Wisma Metropolitan yang dilakukan oleh Bapak Nasruddin Umar selaku Wamen Agama waktu itu bersama dengan Bapak Jend. Purn. Try Sutrisno sebagai Pembina Yayasan dan Bapak Murdaya Poo (Owner PT. Jakarta Land).

“Tahun 2013, bulan Agustus dan Oktober, ada pertemuan Senior Manajemen gabungan seluruh tenant di WTC dengan Pimpinan PT Jakarta Land yang menyampaikan akan segera membangun Masjid di kompleks WTC. “Dan akhirnya, mulailah dibangun april 2014 tahun lalu oleh PT Jakarta Land. Dari segi softwarenya, kami yang menyiapkan, dibentuk Pokja yang beranggotakan 29 orang yang terdiri dari gabungan BDI/ROHIS/KSI seluruh tenant dikompleks WTC untuk menyusun konsep Masjid, Visi, Misi, aktivitas, Organisasi dan segala hal hingga peresmian Februari 2015,” tambah M Iskandar Umar yang juga ketua Pokja Masjid Raya Jenderal Sudirman.

Dalam masa pembangunan ini, Masjid yang berada di Jalan Jenderal Sudirman ini diberi nama Masjid Jenderal Sudirman oleh Pembina Yayasan. ‘Dinamakan Jendral Sudirman, karena ingin seperti semangat Sudirman, seorang syuhada muslim, dan menjadi lokomotif umat. Dalam skala pusat bisnis di Sudirman, kita akan menjadi pusat kajian ekonomi syariah sekaligus implementasinya dalam amal sosial nyata,” tegas M Iskandar.

SUASANA DI DALAM

Melengkapi Iskandar Umar, ketua Bidang Informasi dan Komunikasi, Bambang Muhadi mengatakan bahwa Masjid Raya Jenderal Sudirman ini merupakan besar pertama yang berada di lingkungan Masjid perkantoran swasta di Jakarta dan dibangun dalam waktu yang sangat cepat. . “Saya kira mungkin ini Masjid besar tingkat empat yang pertama kali dalam kompleks perkantoran swasta di Jakarta. Biasanya ada di basement, atau kalau BUMN punya, tapi ini di swasta baru ini,” kata Bambang Muhadi.

Ia pun menilai, kini PT Jakarta Land mengurus fisik masjid dengan baik. “Standar Masjid sama dengan standar gedung. Baik keamanan maupun kebersihannya, ini menariknya Masjid ini. SOP (Standard Operating Procedure)nya sama persis dengan gedung, ga boleh bau, kotor, dll. Setiap hari dirawat,” ungkapnya.

Karenanya, Bambang Muhadi menegaskan bahwa bukan tak mungkin Masjid ini akan menjadi masjid percontohan, bahkan menjadi rujukan, seperti visi Masjid ini, Sebagai pusat pembinaan dan pengembangan umat, serta menjadi rujukan masjid perkantoran dalam membangun peradaban yang Islami’

Ikhtiar Mewujudkan Masjid Rujukan Perkantoran

Walau baru seumur jagung, namun rencana-rencana, bahkan hingga visi tahun 2025 Masjid Raya Jenderal Sudirman kompleks WTC sudah dirancang dalam Pokja yang diketuai M Iskandar Umar. “Tagret 2025, insya Allah kita berusaha menjadi rujukan Masjid perkantoran di Jakarta. Artinya, masjid ini harus jadi masjid yang terbaik di Jakarta,” tegasnya..

Beberapa divisi untuk menunjang visi pun dibentuk di Masjid ini. Seluruh anggota pengurus DKM Masjid pun semua para profesional dari pelbagai bidang, saat ini mencapai hingga 60an orang. Nilai-nilai utama dipegang, agar Masjid ini menjadi masjid sebenarnya milik umat.

Nilai-nilai Masjid yang ditegaskan ialah : Ahlu sunnah wal jama’ah , keikhlasan, ukhuwah, sabar, istiqamah, dan profesional.”Jadi, masjid ini kita jadikan pusat segala aktivitas. Ibadah, dakwah, pendidikan, pelayana umat dan ekonomi. Rasul pun mengatur strategi perang di Masjid. Lebib luas lagi, kita ikut membangun peradaban yang lebih baik,” ungkap  M Iskandar Umar

Ia pun, menekankan, bahwa nilai profesionalisme  diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para aktivis Masjid.  “Kita umat Islam harus lebih dari yang lain, karena punya sistem nilai, moral, yang mutlak, bagus, dan pasti benar, lihat saja yang aktif di BDI, dia kerjanya bagus,” kata M Iskandar Umar.

Ia menyebutkan beberapa nama pengurus Masjid, namun cemerlang pula di karirnya. “Pak A.K. Permana (Dirut Bank Permata Syariah), Pak Kukuh Budisaroso (Senior Vice President di HSBC), Pak Alfianto Domy Aji (Exterrnal Comm-Corp Affairs PermataBank), dll.

Ustadz Muhammad Setiawan yang selalu menjadi Imam Rawatib sejak Masjid Jenderal Sudirman-WTC diresmikanpun menjelaskan akan ada banyak program dakwah di Masjid kantor ini, juga program-program sosial yang diharapkan pengurus Masjid bisa mengaplikasikan kajian ekonomi syariah seperti BMT, Koperasi, juga proyek-pryek penerapan ekonomi syariah

“Yang utama, sesuai nilai pertama kita ini akidah ahlus sunnah waljama’ah. Kita cukup khawatir dengan bahaya Syiah dan lainnya. Nilai yang kita sepakati ialah ahlus sunnah, selama dia ahlus sunnah, seperti kata Pak Iskandar, semua perbedaan yang bersifat furu’ cabang kita saling tolerir,” katanya.

Dalam nilai lainnya, seperti ukhuwah, M Iskandar Umar menegaskan Masjid ini tidak membawa kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. “Masjid ini juga sebagai lambang persatuan dan kesatuan umat. Menampung segala macam latar belakang, berbagai bidang, seperti saya Geologi ITB, ada yang Ekonomi UI, Unpad, UGM dan sebagainya,” tegas Iskandar.

Bagi Iskandar, mengurus Masjid memiliki kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Saat yang menyenangkan ketika berkumpul, bertemu, bertukar fikiran dan melakukan amal dengan teman-teman dengan latar belakang berbeda tapi punya niat yang sama untuk mencari Ridha Allah semata. Kami banyak belajar dan saling sharing dengan teman-teman. Dirinya mengakui, sampai sekarang di rumahnya pun ia ikut menjadi pengurus Masjid, juga sejak dulu masih di kampung dan saat kuliah, ia sudah menjadi ‘marbot’ di Masjid Salman ITB.

“Bahkan juga saat kami tinggal  di Luar Negeri, di Norway (>3 tahun) dan di Prancis (>4 tahun). Rumah kami menjadi tempat teman-teman mengaji . Di Stavanger Norway kami mengajar ngaji pakai buku ‘Iqra’ dan shalat berjamaah diselenggarakan di rumah kami apa adanya karena kecilnya komunitas muslim disana. Saat di Perancis, kalau ada ustadz datang ke Eropa, kami selalu undang mampir dulu ke Prancis,” kenang Iskandar.

Dan kini, dengan ‘kegemaran’nya mengurus Masjid, Iskandar berharap dengan program-program yang sudah dirancang Pokja, impian untuk mewujudkan Masjid Rujukan Perkantoran se-Indonesia bisa terwujud, mungkin sebagaian kami sudah tiada.

“Agar Masjid ini dapat menjadi rujukan. Diperlukan kerja keras secara bersama-sama agar dapat menerapkan ekonomi syariah, bermanfaat bagi masyarakat sekitar, sedang dirancang dan akan diadakan kajian-kajian sekaligus implementasi ekonomi syariah dalam amal sosial nyata,” pungkasnya. Kita doakan bersama. Aamin.

(rizki lesus/alhikmahco)