Menggaungkan Islam di Negeri Perancis

Menggaungkan Islam di Negeri Perancis

0 14

Sekira tahun 1995-1996, ada pemboman yang terjadi di Paris. Kejadian ini kemudian dinisbatkan pada sekelompok orang yang masyarakat sebut sebagai ekstrimis Islam. Tak ayal, semua mata kemudian menyorot pada umat Islam kala itu. Konon, kejadian ini pun kemudian menjadi pengalaman awal Perancis dalam mengawasi kelompok radikal Islam.

Terhitung telah hampir dua dekade saya meninggalkan Perancis. Namun, kenangan-kenangan tak terlupakan selama di sana tersimpan rapi dalam memori otak. Dulu, sejak 1993 hingga 1999, saya menuntut ilmu di sebuah kota bernama Besançon, sebuah wilayah di timur Perancis yang berbatasan dengan negara Swiss.

Berada di negeri orang, apalagi isinya mayoritas non-muslim, saya tidak ingin iman dan akidah saya sampai tergerus pergaulan yang salah. Sebab itu, tak sedikit waktu yang saya habiskan untuk bergaul dengan muslim-muslim dari Maroko, Aljazair, Libanon, atau negeri Afrika lainnya. Maklum, muslim Indonesia yang sekolah di Besançon kala itu hanya sedikit.

Bersama mereka pula, saya sering mengikuti taklim-taklim, diskusi keislaman, termasuk liqa. Karena sering bergaul dengan muslim lintas negara, saya melihat betul bagaimana perbedaan-perbedaan karakter begitu nyata di antara kami.

Terutama, yang saya rasakan, adalah sikap mereka ketika ada perkumpulan. Misalnya mahasiswa asli Maroko, yang menurut saya sedikit banyak menunjukan sikap represif jika ada kegiatan, seperti diskusi keislaman. Karena di negeri asal mereka sering terjadi krisis politik, mereka sering merasa cemas dan ketakutan.

Saya lihat, mereka khawatir jika sampai harus berurusan dengan polisi. Maka, jika ada perkumpulan, mereka tak pernah ikut. Padahal sih kegiatannya tidak membahayakan, tapi mereka begitu berhati-hati. Sering sehabis shalat, mereka memutuskan langsung pulang. Namun tentu, seluruh perbedaan sikap itu luruh jua di bawah naungan ukhuwah. Kami tetap bersilaturahim dengan baik.

Nah pembaca, untuk mewadahi komunitas muslim di sana yang tak seberapa banyak, saya pun ikut merintis Union Islamique des étudiants de France atau Persatuan Mahasiswa Islam Perancis dari seluruh negara di kampus saya. Di sana, kami juga sekaligus memperjuangkan aspirasi-aspirasi muslim agar didengar mayoritas di senat universitas.

Jika mendapat suara, tentu kami bisa menempatkan perwakilan di senat. Namun, selain itu, kami kemudian bisa mendapat dana, yang salah satunya untuk mendirikan tempat shalat di kampus. Dengan cara ini, alhamdulillah, ibadah kami lebih lancar dan termudahkan.

Tapi, rupanya yang kami jalani ini bukan berarti tak sulit. Sekira tahun 1995-1996, ada pemboman yang terjadi di Paris. Kejadian ini kemudian dinisbatkan pada sekelompok orang yang masyarakat sebut sebagai ekstrimis Islam. Tak ayal, semua mata kemudian menyorot pada umat Islam kala itu. Konon, kejadian ini pun kemudian menjadi pengalaman awal Perancis dalam mengawasi kelompok radikal Islam.

Meski terjadi di ibukota, tragedi ini berimbas pula di kota saya. Akhirnya, untuk mengantisipasi organisasi kami dihubung-hubungkan dengan pemboman ini, kami memutuskan berganti nama. Yang semula bernama Union Islamique des étudiants de France, ia kemudian beralih menjadi Étudiants Musulmans de France (EMF) atau Mahasiswa Muslim Perancis.

Bagi saya, yang melalui masa-masa itu di Perancis, kejadian ini sarat sekali dengan propaganda media. Tak sedikit pers yang membesar-besarkan, men-generalisir, hingga mendiskreditkan muslim, sehingga nama Islam itu sendiri tercoreng. Padahal, itu hanya sekelumit oknum saja.

Saya sendiri melihat, masyarakat Perancis sangat menghormati muslim. Buktinya, hingga pulang ke Indonesia sebelum berganti milenia, tak pernah sekalipun saya mengalami diskriminasi atau tindak Islamophobia. Banyak dari mereka adalah penganut Nasrani, meski tak terlalu taat, dan mereka menghargai kami.

Interaksi sosial yang terjadi pun tak mengarah ke hal negatif. Jika ada kegiatan bersama, mereka paham jika muslim memiliki pantangan-pantangan tertentu dan harus beribadah di waktu-waktu tertentu. Lalu, mereka akan memfasilitasi kebutuhan kami itu.

Bisa jadi pula, ini tergantung bagaimana muslim itu sendiri menjelaskan tentang keyakinan mereka. Tak perlulah merasa malu, apalagi takut dengan pandangan orang lain, hingga merasa harus mengasingkan diri. Bukankah belum tentu pula orang-orang non-muslim ini akan bersikap buruk? Bisa jadi, ini malah menjadi langkah kita mengeratkan hubungan. Terangkanlah Islam dengan baik, sehingga mereka bisa mengerti.

Nah, tahun 1999, saya kembali ke Indonesia. Kini saya sibuk menjadi akademisi dan mengajar di sebuah universitas di Bandung. Akan tetapi, ghirah untuk menggerakkan Islam itu terus tumbuh dalam sanubari saya. Semangat membumikan nilai Islam di tengah masyarakat tak hanya saya gelorakan di Perancis, tapi juga di Indonesia.

Ghirah itu saya bangun dengan berkontribusi di sebuah partai. Saya menilai, bergabung di sini akan memudahkan saya dalam membuat kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan keislaman. Masuk ke dalam sistem, untuk kemudian memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Insya Allah, doakan saya terus amanah.

Itulah sekelumit kisah yang bisa saya bagi. Memang, kejadiannya sudah cukup lama, namun semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari semua cerita yang saya sampaikan ini. Insya Allah, meski telah lampau, pelajarannya masih tetap bisa dihayati, terutama bagi pembaca yang hendak bertandang ke negeri mayoritas muslim.

Seperti dikisahkan Dr. Ir. H. Dedi Lazuardi, DEA., pada jurnalis Alhikmah, Aghniya Ilma Hasan dengan beberapa suntingan redaksi.