Mengenang Muslim Aljazair di Peristiwa ‘Pembantaian Paris’ Tahun 1961

Mengenang Muslim Aljazair di Peristiwa ‘Pembantaian Paris’ Tahun 1961

0 790

ALHIKMAH.CO–Pada 17 Oktober 1961, 30.000 warga Perancis- Aljazair mengadakan demonstrasi damai di Paris, Ibu Kota Prancis untuk mendukung kemerdekaan Aljazair yang telah dijajah Prancis sejak tahun 1830 (lebih dari satu abad).

Meskipun jam malam yang diberlakukan terhadap “Muslim Perancis dari Aljazair” sejak 5 Oktober, pengunjuk rasa berkumpul di dekat sungai Seine dengan damai menuntut kemerdekaan. Namun, malam itu dilalui dengan sangat buruk. Polisi Prancis dengan keras bergerak membubarkan massa dengan pentungan dan senapan!.

paris massacre

Para pengunjuk rasa digiring ke arah jembatan Saint-Michel dan dipukuli. Mayat dibuang ke sungai Seine dengan banyak masih hidup dan diborgol tenggelam sampai mati. Saksi mata menggambarkan bagaimana sungai menjadi penuh dengan mayat-mayat dan tubuh mayat terus megambang satu persatu bahkan selama satu minggu.

Here_are_drown_the_Algerians

The Saint-Michel Bridge in 1961: “Ici on noie les Algériens” (“Here we drown Algerians”).

Kemuraman tersebut ternyata berlangsung sekitar monumen nasional, termasuk Menara Eiffel dan Notre Dame Cathedral kemudian akan datang dikenal sebagai Paris Massacre (Pembantaian Paris)

Meluasnya pembantaian itu ditolak dan disembunyikan oleh pejabat Prancis selama bertahun-tahun dengan korban tewas resmi dimasukkan hanya tiga orang tapi komisi pemerintah setelah 37 tahun pada tahun 1998 mengklaim bahwa 40 pengunjuk rasa tewas. Angka ini diperdebatkan oleh para sejarawan yang menyebutkan korban tewas mencapai ratusan orang.

 

paris massacre 2

Raymond Darolle / Europress

Pada 2012, itu adalah pertama kalinya seorang presiden Perancis dengan terbuka menerima bahwa pembantaian muslim Aljazair terjadi ketika Presiden Perancis François Hollande menyatakans secara resmi:

“Pada tanggal 17 Oktober 1961, orang Aljazair yang memprotes kemerdekaan tewas dalam penindasan berdarah. Republik mengakui fakta ini dengan kejernihan … saya membayar penghormatan kepada korban 51 tahun kemudian. “

Maurice Papon, kepala polisi Paris pada saat yang secara pribadi mengawasi peristiwa 17 Oktober palsu bersikeras bahwa Aljazair menembaki polisi menyalahkan kekerasan pada demonstran. Dia tidak pernah melalui proses hukum untuk Pembantaian Paris tapi malah dihukum pada tahun 1998 untuk kejahatan yang berbeda.

Darah ratusan orang itu ternyata berbuah hasil. Aljazair menerima kemerdekaan setahun kemudian setelah tetapi sampai hari ini masih diingat oleh Aljazair sebagai hari ketika para pengunjuk rasa damai yang keras dipadamkan oleh mantan penjajah dari tanah air mereka.

 

Oleh: Rafiq ibn Jubair / IF