Mengenang KH. Ali Mustafa Yaqub; Ulama Besar, Pakar Hadits Kebanggaan Indonesia

Mengenang KH. Ali Mustafa Yaqub; Ulama Besar, Pakar Hadits Kebanggaan Indonesia

0 144
Ali Mustafa Ya'qub (pic.kiblat)

Tak pernah terlintas dalam benak Kyai Ali bahwa kelak suatu saat ia akan diserahi amanah sebagai imam besar masjid termegah se-Asia Tenggara, Istiqlal.

ALHIKMAH.CO,– Puluhan buku tersimpan rapi di antara sekat-sekat. Terbuat dari rotan yang apabila terkena cahaya matahari akan tampak mengilap. Sampulnya berwarna warni dengan pengantar bahasa yang beraneka pula. Dari bagian atas terlihat nama si pengarang, “Ali Mustafa Yaqub”. Belum puas Alhikmah memerhatikan rangkaian buku itu tiba-tiba terdengar celetukan;

“Menyusun hiasan buku ini sangat sulit dibanding menata hiasan lain. Perlu waktu 26 tahun hingga jumlahnya sebanyak ini. Kalau dijumlahkan ada 37 karya saya yang diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, selama kurun waktu itu.” Demikian ungkap Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub saat disambangi Alhikmah di kediamannya, Ciputat, Tangerang, medio Juni 2012 lalu.

Matanya berbinar memandangi buku-buku tersebut. Senyumnya melebar. Di sela kesibukannya sebagai orang nomor satu di Masjid Terbesar di dunia setelah Masjid Nabawi dan Al Haram, ternyata Kyai Ali Mustafa Yaqub sangat produktif menulis buku. Padahal tugas Imam Besar Istiqlal itu cukup berat dan menyita waktu.

“Tugas Imam Besar itu ada dua. Yang pertama memantau dan membimbing peribadatan agar sesuai dengan tuntunan syariat. Kedua memberikan konsultasi dan memberikan jawaban (fatwa) yang diajukan masyarakat. Setiap hari di Istiqlal selalu saja ada masyarakat yang berkonsultasi kepada saya tentang pertanyaan syariat , hukum, hingga masalah pribadi, ” ungkap lelaki yang lahir di Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 ini.

Itu belum seberapa. Selain menjadi Imam Besar yang aktivitasnya sungguh padat, Kyai Ali juga harus mengurus serta membimbing pesantren yang dikelolanya, hingga mengajar ke berbagai Negara.

Sejatinya tak pernah terlintas dalam benak Kyai Ali bahwa kelak suatu saat ia akan diserahi amanah sebagai imam besar Masjid termegah se-Asia Tenggara, Istiqlal. “Lalu kalau sudah diangkat mau gimana lagi? Tentunya berusaha dijalankan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Ali.

Sejak tahun 2005 sudah dua periode Kyai Ali memangku amanah ini. Menjalankan sebaik-baiknya, inilah yang coba dilakukan KH Ali. Ia mengakui banyak manfaat dan pengalaman yang ia peroleh selama hampir dua periode kepemimpinannya. Dari rakyat biasa hingga Presiden Amerika, Barrack Obama, pernah ia temui. Tak terhitung permasalahan umat, mulai dari kasus unik sampai pelik mengisi hari-hari KH Ali.

“Ada yang konsultasi keluarga, ada juga yang minta uang, ada lagi yang minta modal usaha, meminta rekomendasi ke Arab Saudi, dan ada juga yang menipu meminta uang dengan jaminan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Di tengah aktivitasnya yang demikian padat, Kyai Ali Mustafa Yaqub tetap menjaga keteraturan jadwal yang telah ia susun. Sejak Subuh hingga pagi hari ia mengajar di Pesantren Darus Sunnah, di depan rumahnya, Ciputat. Lepas itu ia biasa melakukan ‘ritual’ minum bubur kacang hijau, lalu istirahat sejenak, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Istiqlal. Lepas Magrib biasanya Kyai Ali baru tiba di rumah. Setelah Isya, ia rutinkan jadwal khusus membaca kitab di dalam kamarnya, hingga tertidur.

“Biasanya istri saya yang merapikan buku-buku saat saya tidur,” katanya sambil tertawa.

Perjuangan Menjadi Pendakwah

Apa yang diperolehnya saat ini tidaklah datang secara tiba-tiba. Perjuangannya berlumur peluh. Sejak muda Ali Mustafa memang telah memilih untuk ’nyantri’. Bangku Aliyah adalah momentum utama bagaimana Ali muda gigih mewujudkan cita-citanya. Kala itu ayahanda yang dicintainya meninggal dunia. Sang ibu yang biasa mengirimi Ali uang, mengultimatum dia bahwa jika ingin lanjut sekolah harus dengan biaya sendiri.

”Sejak saat itulah, saya belajar serius. Pokoknya bagaimana caranya agar saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan gratis,” tambah Rais Syuriah bidang Fatwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Ia pun belajar dengan gigih, sembari mencari celah untuk mendapatkan beasiswa dan sekolah yang bisa menopang keinginannya untuk belajar. Kalau memungkinkan gratis. Kyai Ali Mustafa pun memilih pesantren Tebu Ireng Jombang sebagai pelabuhan pertama pendidikannya. Lantas, setelah itu ia jatuh hati pada Arab Saudi karena biaya kuliah di sana gratis. Universitas King Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi menjadi pelabuhan selanjutnya. Di Arab Saudi Ali Mustafa mampu menyelesaikan pendidikan S1 dan S2nya, hingga dikenal sebagai salah satu pakar Ilmu Hadits.

“Ada nuansa lain yang saya rasakan ketika belajar hadits, dibanding belajar ilmu lainnya. Seakan-akan kita hidup langsung bersama Nabi, nostalgia. Selain itu, saya sangat senang, nama rasul selalu kita sebut, dan kita bershalawat padanya. Inilah ilmu yang memberikan banyak pahala,” papar kyai Ali.

Pulang dari Arab, tahun 80-an, Ali Mustafa mengajar ilmu Al Qur’an di Indonesia hingga tahun 2008. Tahun itu, pula ia memutuskan menyelesaikan S3 dan menyabet gelar Doktor Bidang Syariah, di Universitas Nizhamia, India. Dengan ilmu yang dimilikinya Ali Mustafa pernah menyambangi puluhan negara. Di sana ia berdakwah dan mengabarkan tentang kebaikan Islam.

Di Eropa ia melihat sendiri, bagaiman gereja ditutup kemudian diganti dengan masjid. Diskotik berubah, pelbagai agama yang dianut masyarakat Barat pun seperti berbondong-bondong menuju Islam.

Pengalaman unik lainnya dialami Kiyai Ali dalam perjalanan dakwah lintas negeri. “Saya pernah tidak shalat seharian saat di luar negeri,” ungkapnya serius.

Ia menuturkan panjangnya perjalanan selama di pesawat dari San Fransisco menuju Hongkong, tahun 2000 lalu. Kyai Ali mengaku pasrah. Saat itu ia berangkat Selasa malam, dan sampai di Hongkong Kamis pagi. Namun sepanjang perjalanan ia melihat suasana di luar itu malam, alias tidak pernah muncul cahaya matahari. Walhasil, satu hari ia lewati dengan malam yang sangat panjang.

“Karena malam terus, jadinya nggak mungkin dong saya shalat Ashar, Dzuhur, dan Maghrib,” ungkapnya tersenyum ringan.

Apakah pelbagai aktivitas dakwah yang selama ini dilakukan membuatnya lelah? Kala ditanya itu, Kyai Ali menjawab dengan santai. “Lelah pasti. Namun ini semata saya lakukan untuk masa depan saya, yaitu masa setelah kehidupan yang fana ini,” tandasnya. .

Perjuangan-perjuangan berat menuntut ilmu, mengajar, mendirikan pesantren, menulis buku, hingga menjadi Imam Besar, semua ia abdikan semata-mata untuk mempersiapkan diri di alam yang abadi kelak. Itulah sebaik-baiknya rencana hari depan. [] (mr/Alhikmah)