Mengenang Bayt Alhikmah, Ketika 1 Buku Dihargai 2 Kg Emas

Mengenang Bayt Alhikmah, Ketika 1 Buku Dihargai 2 Kg Emas

0 247
ilustrasi (pic.google)

Gaji penerjemah manuskrip, bisa mencapai 500 dinar untuk satu buku, atau sekitar 2 kg emas. Jika diasumsikan satu dinar senilai Rp 2 juta, maka per buku yang diterjemahkan, mereka mendapatkan penggantian senilai 1 Milyar.  Bahkan, Khalifah siap menimbang emas yang diberikan, seberat gram buku yang diterjemahkan.

ALHIKMAH.CO–Derap langkah ratusan unta datang menggetarkan Baghdad, membuat debu-debu di seanteronya beterbangan. Berhenti di hadapan sebuah bangunan, tampak menggantung di punuknya tas-tas besar. Bangunan itu begitu megah, melebihi istana. Gerbangnya sangat lebar dan tinggi. Tiang-tiangnya kokoh, terukir indah.

Sejurus berlalu, gerbang pun terbuka. Tas-tas yang tampak penuh menggantung di punuk unta segera diturunkan. Apa gerangan isinya? Alamak, rupanya ribuan buku baru saja didatangkan dari China, India, dan pelbagai negeri lainnya, untuk segera dialihbahasakan. Ratusan orang tampak sibuk memanggulnya, dan lalu berjalan masuk ke gedung besar itu. Bayt Alhikmah (House of Wisdom).

Khalifah Harun Al Rasyid (w. 193 H, 805 M) penguasa Abbasiyyah saat itu memang sangat mencintai ilmu. Ia mendirikan Lembaga Keilmuan bernama Baitul Hikmah, yang awalnya berupa perpustakaan. Kelak di kemudian hari menjadi institusi pendidikan yang mengeluarkan ijazah keilmuan secara formal.

Al Ma’mun, penerus Harun Al Rasyid dengan serius melestarikan peninggalan sang Ayah. Begitu melangkahkan kaki ke dalam Bayt Alhikmah, mata ini mengerjap takzim. Hamparan permadani menyambut. Di atasnya langit-langit menghampar. Sejauh  mata mengedarkan pandang hanya buku, buku, dan buku saja yang tampak tertata rapi di rak-raknya yang menepi ke dinding. Tangga-tangga besar, siaga di beberapa sudutnya, membantu meraih literatur yang tersimpan lebih tinggi.

Terdapat 40 ruangan yang khusus yang khusus disiapkan di dalam perpustakaan Bayt Alhikmah untuk menyimpan buku. Meja khusus, pun tersedia, lengkap dengan kertas, pena dan tinta. Alat bantu para pelajar untuk mencoret-coret bahan, atau sekaligus menyusun tulisan.

Tentang jumlah buku di Bayt Alhikmah, beberapa literatur menyampaikan versinya. Ada yang mengatakan 100.000 hingga 1 juta. Ada juga yang mengatakan 3 juta buku. Seluruhnya salinan tangan. Bisa pembaca bayangkan.

Katalog buku tercatat lengkap, sesuai bab ilmu bahasan buku tersebut. Pada setiap lemari tertera judul buku yang ada. Saking berharganya buku saat itu, bagi mereka yang meminjam dan dibawa pulang wajib memberikan jaminannya, berupa harta terbaik yang dimiliki.

Lautan ilmu itu khusus dipesan oleh Al Ma’mun ke Romawi, Konstatinopel, dan penjuru bumi lainnya. Ada juga dari hasil pembayaran jizyah non-muslim. Tak menggunakan uang, tapi menggunakan buku. Surat menyurat Al Ma’mun dengan Kaisar Byzantium terus terjadi, agar mereka mau mengirimkan buku-buku koleksinya. Manuskrip-manuskrip tak ternilai jumlahnya berkumpul semua di Baghdad. Episentrum kebudayaan dan peradaban dunia.

Pusat Diskusi dan Alih Bahasa

Dekat dengan perpustakaan, ada ruangan besar, khusus untuk penerjemahan. Ramai orang duduk menyebar, fokus pada pembelajaran. Naskah-naskah lintas bahasa yang didatangkan, lalu diterjemahkan ke Bahasa Arab. Gaji penerjemah manuskrip, bisa mencapai 500 dinar untuk satu buku, atau sekitar 2 kg emas. Jika diasumsikan satu dinar senilai Rp 2 juta, maka per buku yang diterjemahkan, mereka mendapatkan penggantian senilai Rp 1 Milyar.  Bahkan, Khalifah siap menimbang emas yang diberikan, seberat gram buku yang diterjemahkan.

Ibn Nadim menyebutkan dalam Al Fahrasat, terdapat 10 nama tim penerjemah dari bahasa India, Yunani, Persia, Sansekerta, Nibthiniyah, dan lainnya. Al Makmun merekrut tim ahli bahasa dari pelbagai bangsa. Ada Hanin bin Ishak dan Abu Yahya asal Yunani. Siang malam, tak henti berjuang menerjemahkan karya-karya besar dari penjuru peradaban.

Setelah diterjemahkan, karya itu pun menjadi bahan diskusi para Ilmuwan dan Ulama. Di samping ruang penerjemah, ada ruangan sangat besar khusus bagi para ulama dan ilmuwan. Meja-meja antik berjejer, di atasnya tersedia tinta, lengkap dengan penanya. Di sana juga ada mesin pembuat kertas, juga penjilid buku. Perlengkapan penggandaan buku terhitung komplit untuk ukuran saat itu. Para Ulama dan ilmuwan berdiskusi di sana. Mengaji lembar demi lembar manuskrip yang ada, pun bisa fokus meretas karya.

Tinta-tinta kering, terisi kembali. Jutaan lembaran kertas menumpuk di sana. Pimpinan Bayt Alhikmah, Sahal bin Harun Al Farisi yang ditunjuk Khalifah saban hari berkeliling, mengontrol puluhan ruangan. Hilir mudik buku, kerap terjadi. Pemimpin Andalusia rajin memesan buku-buku ke Bayt Alhikmah untuk diajarkan di madrasah-madrasah di Cordoba, Spanyol.

Bayt Alhikmah menjadi pusat peradaban dunia. Semua aspek kehidupan, dibahas di sana. Kajian-kajian Politik, Ekonomi, Sosial, Sastra, Seni, Budaya, Matematika, Fisika, Ilmu Falak, Ilmu Nujum, Ilmu Ukur, Arsitektur, Tata Kota, Sains, dan ratusan bidang keilmuan lainnya hidup di sana. Diskusi terjadi sepanjang hari. Cahaya lampu malam hari tak henti, terus menari-nari, selama 5 abad lamanya.

Hingga suatu ketika, huru hara menerpa. Dunia berduka, hingga para sejarawan tak kuasa menuliskan kisah pilu yang terjadi. Peradaban Islam Baghdad lantak oleh serbuan tentara Mongol, Tartar.

Saat cahaya itu lenyap, tak pernah terbayang suasana pilu Baghdad. Orang-orang Tartar dengan penuh kebencian membantai siapapun, dan merusak apa pun yang ditemui. Bayt Alhikmah, tak luput dari terjangan manusia-manusia berperilaku binatang itu. Hingga dikisahkan, sungai Tigris berhenti mengalir, lantaran terbendung manuskrip-manuskrip tak ternilai koleksi Bayt Alhikmah yang dilemparkan begitu saja. Airnya yang jernih, seketika berubah pekat, tercampur lautan tinta. Bahkan, tentara berkuda pasukan Tartar dapat menyebrangi di atas jilid-jilid buku yang besar. Karya-karya besar para ulama dan ilmuwan seolah tak lebih dari onggokan sampah, yang harus segera dibuang dan dimusnahkan.

Bayt Alhikmah. Mengenang itu, membangkitkan.

(M. Rizky Utama/ ed: hbs/dbs)

Komentar ditutup.