Mengenal Prinsip Arsitektur Islam dalam Merancang Bangunan

Mengenal Prinsip Arsitektur Islam dalam Merancang Bangunan

0 493

Dalam Teori Hierarki kebutuhan Maslow yang terkenal, arsitektur termasuk kebutuhan primer manusia seperti halnya makanan dan pakaian. Bagi seorang muslim, ia merupakan fasilitas untuk beribadah, baik ibadah mahdhah seperti shalat dan mengkaji Qur’an; maupun ibadah yang umum seperti belajar, bekerja, dan bersilaturahim. Sama seperti makanan dan pakaian yang dibutuhkan seseorang untuk mendukung aktivitasnya beribadah kepada Allah Swt.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: 56)

Seperti halnya makanan dan pakaian, arsitektur bagi seorang muslim juga dipandu di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Panduan ini yang disebut dengan Fiqh. Hakim (2010) melakukan pendekatan untuk menelaah Arsitektur Islam melalui sudut pandang fiqih, dengan menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits, panduan imam-imam fiqih terdahulu seperti Imam Malik (< 260 H) dan Imam Syafi’I (sekitar 204 H), tulisan cendikia Islam terdahulu, serta contoh kasus pada pembangunan kota Madinah (Hakim 2010: 16, 18).

Hakim (2010: 18) mengemukakan bahwa arsitektur Islam dipengaruhi dua hal: fiqih dan kondisi lokal. Kondisi lokal dapat berupa kondisi arsitektur pra-Islam yang kemudian dielaborasi dengan nilai-nilai Islam (Hakim 2010: 18), kondisi geografis seperti iklim, kondisi lahan, dan cuaca, kondisi ekonomi, keahlian membangun dan teknologi, serta tradisi lokal (Hakim 2010: 138).

Dengan dipengaruhi dua hal tersebut amatlah wajar bila kita melihat keragaman arstitektur Islam selayaknya beragam sajian hidangan halal di berbagai tempat. Keragaman tersebut tetap memiliki ciri khas sebab berpegang pada prinsip yang sama.

Karenanya penting untuk diketahui, bahwa Islam memiliki pelbagai prinsip arsitektur terkait rancangan bangunan, di antaranya :

  1. Bangunan haruslah tidak membahayakan dan tidak merugikan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa 4: 29)

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. 26: 183)

  1. Dianjurkan untuk menggunakan akal dan berpikir (menggali ilmu membangun).

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah 2:172)

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah 2: 219)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran 3: 191)

  1. Rumah sebagai hijab, harus memiliki privasi.

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (QS An-Nahl 16: 80)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur 24: 27)

“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur 24:28)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur 24:30)

  1. Allah menyenangi keindahan.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf 7: 32)

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorangpun yang di dalam dadanya ada kesombongan sebesar zarrah yang akan memasuki surga.” Seorang pria berkata: “Seseorang yang suka memakai pakaian dan sepatu yang bagus.” Nabi menjawab: “Allah itu indah dan menyenangi keindahan.” (HR. Muslim)

  1. Tidak bermegah-megahan.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf 7: 31)

  1. Keindahan yang bermanfaat.

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad 38: 27)

  1. Tidak ada anjing ataupun gambar makhluk hidup.

Diriwayatkan oleh Abu Thalhah: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk hidup (manusia atau binatang).” (HR. Bukhari Vol 4 Buku 54 Nomor 448)

  1. Sumber bau dan bising tidak dihadapkan ke masjid.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar: Dalam masa perang Khaibar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memakan tanaman ini (bawang putih) tidak boleh memasuki masjid.” (HR. Bukhari Vol 1 Buku 12 Nomor 812, HR. Muslim)

  1. Toilet tidak menghadap Kiblat ataupun Masjidil Aqsa

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, orang-orang berkata, “Ketika kau sedang buang hajat, hendaklah tidak menghadap Kiblat atau Baitul Maqdis.” Aku memberitahu mereka, “Suatu hari aku melihat Rasullullah buang hajat dengan duduk di atas dua bata dan menghadap Baitul Maqdis (namun ada tabir yang meliputinya).” (HR. Bukhari Vol 1 Buku 4 Nomor 147)

Sumber:

Al-Qur’anul Karim Terjemah Bahasa Indonesia. Bandung: Syaamil Qur’an

Bukhari, M.I.I. & Khan, M.M. 1971. The Translation of The Meanings of Sahih al-Bukhari. Madinah: Al-Munawwara Islamic University

Goble, F.G. 1970. The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow. New York: Washington Square Press/Pocket Books

Hakim, Besim Salim. 2010. Arabic-Islamic Cities Building and Planning Principles. Oxon: Routledge

Hillenbrand, Robert. 2010. Islamic Art and Architecture. New York: Thames and Hudson

Sabiq, Sayyid. Fiqih Sunnah. Online version via mappingsharia.com

www.sahihmuslim.com

www.sahih-bukhari.com

===

Penulis bernama Nadiya Rahmah, baru saja menyelesaikan studi Master of Architecture di University of Queensland Australia dengan studi yang berfokus pada fabrikasi digital, arsitektur Islam, dan arsitektur vernakular.