Mengenal Achmad Zaky, CEO Bukalapak dan Mimpi Besarnya tentang UKM

Mengenal Achmad Zaky, CEO Bukalapak dan Mimpi Besarnya tentang UKM

0 106
pic.smeaker.com

Lapak Kompetitif UKM Kita

Bukankah sering dikatakan, jika para pegiat Usaha Kecil Menengah (UKM) ini memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia?

Rasanya sudah sejak kecil, Achmad Zaky melihat tetangga-tetangganya di Sragen giat berdagang. Berjualan kecil-kecilan, makanan yang dijajakan sambil berkeliling di sekeliling kota kecil di Jawa Tengah itu. Ia tak ingat jelas, sejak kapan orang-orang itu mulai berdagang. Namun, seiring beranjak dewasa, Zaky memperhatikan usaha itu tak pernah berubah. Begitu-begitu saja. Tak maju, pun tak pailit pula. Hanya bertahan, sekadar menyambung hidup.

Ia terhenyak. Pikir Zaky, jika inflasi terus meningkat setiap tahun, maka sesungguhnya para pedagang ini juga makin merugi. Miris sekali. Bukankah sering dikatakan, jika para pegiat Usaha Kecil Menengah (UKM) ini memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia? Bahkan dari yang ia baca, kontribusi UKM atas Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 50%. Sungguh, bagi Zaky, dengan istilah-istilah rumit ini, nampaknya Indonesia berada dalam situasi yang genting!

Dari sanalah, azam membesarkan para pedagang kecil itu muncul. Zaky, yang notabene adalah lulusan Teknik Informatika di salah satu universitas ternama di Bandung, ingin menggunakan ilmunya untuk menolong mereka. Ia mulai mengamati potensi yang bisa digunakan. Sehingga, suatu hari, Zaky melihat internet akan menjadi media yang semakin banyak digunakan di masa mendatang.

“Beranjak dari itu, saya terpikir memajukan UKM lewat teknologi. Ini yang melatarbelakangi upaya saya mendirikan Bukalapak.com,” tuturnya, ditemui Alhikmah dalam acara Pesta Wirausaha 2016 beberapa waktu lalu.

Ya, sesederhana itu, e-commerce nomor satu di Indonesia yang mewadahi para UKM ini terlahir. Tepat di tahun 2010, ia dan seorang temannya merintis bisnis Bukalapak. Sebuah tempat, yang Zaky umpamakan sebagai Lapangan Gasibu di hari Minggu, karena di situlah lapak-lapak pedagang pasar kaget berada. Para pelapak diizinkan menjual barang apa saja, mulai dari jam tangan KW hingga bahkan batu akik.

Sayang, Bukalapak tak langsung mendapat sambutan hangat. Perkembangan internet saat itu tak sepesat dewasa ini. Pun, para investor belum melihat bisnis teknologi sebagai sesuatu yang potensial. Akibatnya, di awal pendirian, tak satu pun orang yang mengunjungi laman Bukalapak. Padahal, untuk pengembangannya saja, Zaky sudah menguras dana-dana pribadinya.

Tak hanya itu. Ia kerap berkeliling dari satu pedagang ke pedagang lainnya di pusat jual beli seperti ITC, namun sekelumit saja yang berminat menawarkan produknya di Bukalapak. Padahal, Zaky tak memakai konsep bagi-hasil, dan 100% transaksi diserahkan pada penjual.

Bulan-bulan pertama itu sungguh sulit bagi Zaky. Niat menghentikan usaha ini sempat terbersit dari pikiran. Hatinya makin risau saat melihat kawan-kawan sudah mapan. Godaan-godaan agar ia menjadi karyawan tak hanya melintas satu dua kali. Ia galau.

Pembaca, barangkali Anda tak akan melihat Bukalapak seperti sekarang jika mengetahui kala itu Zaky menyerah. Nyatanya, kegalauan tak membuatnya berpindah haluan. Ia mengelola toko-toko yang mau bermitra dengan Bukalapak dengan getol, meski tahu kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang produknya tak laku, atau mereka yang tokonya terpencil di pusat perbelanjaan. Tapi, bukan berarti barang mereka tak bagus kan?

Ketekunan itu berbuah manis. Seiring dengan makin seringnya Bukalapak disebut dalam forum, dalam setahun traffic kunjungan website-nya mulai naik. Yang mulanya nol, pengunjung Bukalapak mencapai 10.000 orang di penghujung tahun pertama. Apalagi, di awal tahun 2011, bisnis internet mulai memanas. Zaky semakin optimis dengan mimpinya.

“Niat saya benar-benar ingin membantu pegiat UKM. Makanya, saat mereka memberitahu ada pemesanan barang, rasanya puas,” kata pria kelahiran 24 Agustus 1986 ini.

Semakin dibincang orang, semakin tinggi kepercayaan mereka. Itulah yang dialami Zaky. Kini, Bukalapak tak lagi dipandang sebelah mata. Ada sekira 500 ribu pelapak dari seluruh Indonesia yang bergabung dengan marketplace besutannya itu. Dari setiap pelaku UKM ini, rata-rata pendapatannya adalah lima juta perbulan. Ia yakin, seiring dengan perkembangan Bukalapak, penghasilan para UKM ini akan terus tumbuh setiap tahun.

Zaky sendiri, mendapat pendapatan dari iklan dan fitur premium yang disediakan di laman Bukalapak. Dari sini pula, ia menggaji timnya yang kini sudah mencapai 90 orang. Zaky nyengir saja, jika ada orang iseng bertanya penghasilannya. Memang untuk apa tahu? Yang jelas, ia ingin menekankan, jika para penjual sudah sejahtera, maka tentu Bukalapak kecipratan juga.

Mimpi yang Tak Berubah

Nama Bukalapak semakin melambung, bersanding dengan marketplace online lainnya. Meski kini telah menjadi e-commerce kenamaan di Indonesia, cita-cita memajukan pelaku UKM di Indonesia tak pernah pudar. Justru, ikhtiar itu kian gencar.

Tahun ini saja, ia menargetkan sebanyak 2 juta pedagang kecil bergabung dengan Bukalapak. Dan tak bisa hanya soal kuantitas. Zaky juga mendorong mutu UKM. Sebab itu, ia dan timnya berusaha mengedukasi para pelapak terkait pemasaran online. Ia sendiri cukup sering menyambangi para pedagang ini, sekadar memberikan pelatihan pada mereka.

Bagi Zaky, impian itu baru akan tercapai jika Bukalapak bisa menyumbang porsi dalam pemasukan negara. Setidaknya, melalui marketplace, ada kontribusi minimal 0,1 % dari PDB saat ini. Untuk itu, ia masih harus terus menggaet UKM-UKM di seluruh pelosok Indonesia agar mau bergabung dengannya. Ditambah, ia juga perlu menghasilkan inovasi baru, agar pelapak dan pembeli nyaman di ‘Gasibu’-nya.

“Data PDB sekarang itu 10 ribu triliun rupiah, kami ingin bisa menyumbang sekira 0,1% dari sana. Sekarang tentu masih jauh. Tapi kalau ditanya, itulah impian dan rencana jangka panjang kami,” tutup Zaky. (Aghniya/Alhikmah)