Mengapa Halal, Mengapa Haram?

Mengapa Halal, Mengapa Haram?

0 462

Jadi sebelum kita mengetahui kenapa ini haram, pada dasarnya hanyalah sebuah ujian dari Allah.

ALHIKMAH.CO–Pembaca yang berbahagia, Allah memberitahukan kepada kita bahwa ada makanan yang halal dan ada makanan yang haram. Tentu kita boleh bertanya, kenapa ada makanan yang haram dan kenapa ada makanan yang halal?

Dahulu selalu dikatakan bahwa makanan yang haram itu berbahaya, sedangkan makanan yang halal tidak mengandung bahaya. Misalnya, ada yang bertanya kenapa kita dilarang mengonsumsi daging babi? Dan ada yang menjawabnya karena daging babi itu mengandung cacing pita.

Sesungguhnya sebelum kita berbicara tentang apa yang menyebabkan barang itu berbahaya, larangan untuk memakanan makanan atau minuman yang haram dan anjuran untuk memakan makanan yang halal saja, sesungguhnya pada mulanya hanya sebuah ujian.

Hidup di dunia hanya sebentar dan Allah ingin menguji siapa yang dalam hidupnya yang sebentar itu yang amalnya paling baik.

Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan wa huwal ‘azizul ghafur.  Allah ciptakan maut dan hidup, dan dalam hidup yang sebentar itu Allah akan menguji siapa yang amalnya paling baik.

Salah satu bentuk ujian adalah ketika Allah memberitahukan kepada kita ada makanan yang haram; daging babi, daging binatang yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah, yang dipersembahkan untuk berhala, yang dipukul, yang dicekik, yang diterkam binatang buas dan tidak sempat disembelih. Itu adalah rangkaian-rangkaian, makanan-makanan yang dikategorikan haram.

Jadi sebelum kita mengetahui kenapa ini haram, pada dasarnya hanyalah sebuah ujian dari Allah. Boleh jadi mungkin ada cara untuk menghilangkan mudharat yang ada pada makanan yang disebut haram. Namun demikian, bagi kita orang-orang yang beriman, orang-orang yang ingin menjadi kekasih Allah, ketika Allah sudah mengatakan bahwa itu haram kita menjauhinya. Kenapa?

Jumlah yang halal jauh lebih berlimpah ketimbang jumlah yang haram. Daging babi saja yang mutlak disebutkan haram, bangkai haram, darah haram. Lantas, yang halal, kita lebih sulit menyebutkan makanan yang halal ketimbang yang haram. Jadi sesungguhnya ketika Allah mencegah kita untuk memakanan makanan yang haram, Allah menyediakan begitu berlimpah makanan yang halal. Dan tentu saja dalam agama kita bukan saja halal, tapi harus thayyib.

Saudara-saudaraku yang berbahagia, orang-orang Eropa tinggi besar, mereka makan daging, minum susu. Orang India, mereka tidak makan daging, tapi minum susu, mereka badannya kecil. Orang Eropa, orang Amerika, badannya besar, otaknya pintar. Orang India, badannya kecil, tetapi otak mereka pintar-pintar.

Orang Indonesia? Giliran orang Indonesia, tidak makan daging, tidak minum susu. Kata seorang sahabat, anggaran untuk membeli daging dan telur, dikalahkan di Indonesia ini oleh anggaran untuk membeli pulsa.

Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang akan datang yang lebih berkualitas? Fisik pun memang harus lebih berkualitas, tentu otaknya cemerlang, hatinya juga bening-bersih. Kata Pak Zainudin MZ, berotak Jerman, berhati Makkah. Saya tambahkan, tangan dan kakinya kayak orang China dan Korea, segala dibikin.

Maka kita berharap, dengan gizi yang berimbang, dengan makanan yang halal dan thayyib, akan lahir generasi umat Islam yang tangguh dan kemudian mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Generasi yang memenangkan pertarungan, yang membangun peradaban dalam peradaban yang dibangun di atas dasar iman bahkan ketakwaan untuk memakan makanan yang halal dan thayyib.

 “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.” (QS.al-Baqarah : 168).