Mengangkat Pemimpin dan Meminta Jabatan

Mengangkat Pemimpin dan Meminta Jabatan

0 102

Rasulullah SAW pernah berpesan, Sesungguhnya jabatan itu merupakan suatu amanah. Kelak pada hari kiamat, jabatan itu akan menjadi sumber kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi mereka yang memangkunya dengan benar dan mampu menunaikan apa yang telah menjadi kewajibannya.

ISLAM telah menetapkan aturan yang khas bagi umatnya, termasuk mengatur interaksi antara muslim dengan yang non muslim. Adapun yang termasuk non muslim di sini adalah para ahli kitab, orang musyrik, dan kaum-kaum di luar Muslim lainnya. Islam memiliki batas-batas yang tidak bisa dilanggar.

Di antara bentuk tanggung jawab sosial dalam Islam dan salah satu karakteristik umumnya adalah kekuasaan dalam masyarakat Islam diberikan secara bergiliran terhadap mereka yang mampu.  Tidak boleh dimonopoli kekuasaan tersebut oleh dirinya sendiri, dan anak cucunya. Karena itulah Islam menganjurkan untuk terjadi adanya pergantian kepemimpinan.

Akan tetapi dalam konsep Islam sendiri, tidak pantas dan tidak layak bila umat Muslim mengangkat atau mendelegasikan seorang pemimpin dari kalangan non-Muslim. Sebab, adanya kepemimpinan tersebut, tak lain diperuntukkan untuk menjalankan syaria’t Islam di muka bumi.

Hal itu, tentu saja tidak bisa direalisasikan bila pemimpinnya non Muslim. Karena itu, salah satu syarat sahnya kepemimpinan di mata Allah, adalah pemimpin tersebut beragama Islam. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut : “Wahai orang-orang yang beriman jangan kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali-wali, sebagian mereka adalah wali (penolong, pemimpin, dan lain-lain) untuk sebagian yang lain…” (QS. Al Maidah : 51).

Imam al Ghazali mengatakan, ayat di atas merupakan perintah yang jelas terhadap kaum Muslim untuk tidak memilih pemimpin yang non-Muslim. Apalagi yang zalim dan sering menghinakan Islam.

Dalam ayat lain, Allah juga memberikan ancaman terhadap kepimimpinan yang dipimpin oleh non-Muslim dalam firman-Nya berikut ini : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (QS. an-Nissa [4]: 144).

Larangan Meminta Jabatan

Selain cenderung mencintai harta dan pasangan lawan jenis, naluri manusia lainnya yang Allah SWT berikan adalah kecenderungan mencintai tahta (jabatan). Dalam sebuah riwayat dikatakan, maksud jabatan dalam pandangan Islam sendiri merupakan sesuatu yang dapat menghasilkan celaan, yang kedua adalah penyesalan, dan yang ketiga adalah adzab di hari kiamat.

Karena itu, agar tidak terjebak menjadi budak jabatan, maka Islam melarang umatnya untuk meminta jabatan dengan sengaja. Sebab, seseorang yang meminta dan menginginkan jabatan atau posisi terhormat, kemungkinan besar ia akan merendahkan agamanya demi mencapai atau mempertahankan kedudukan yang telah diraihnya.

Rasulullah SAW melarang umatnya untuk meminta dan berusaha mendapatkan suatu jabatan. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya. (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW pernah bersabda, wahai Abdurahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Sebab, jika engkau meminta jabatan tanpa memintanya terlebih dahulu, engkau akan diberi pertolongan dalam mengembannya. Sedang, jika engkau memangku jabatan dan sebelumnya engkau memang memintanya, engkau akan terbebani dalam mengembannya. (HR. Bukhari). Jumhur ulama berpendapat, walaupun hadits ini ditujukkan kepada Abdurahman bin Samurah, namun pada hakikatnya, hadits itu diperuntukkan untuk seluruh umat Muslim.

Dalam Islam, perkara kepemimpinan bukanlah hal yang main-main, karena yang namanya pemimpin dia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Rasulullah SAW pernah berpesan, Sesungguhnya jabatan itu merupakan suatu amanah. Kelak pada hari kiamat, jabatan itu akan menjadi sumber kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi mereka yang memangkunya dengan benar dan mampu menunaikan apa yang telah menjadi kewajibannya. (HR. Muslim). Semoga bermanfaat (Maharevin/alhikmah/DBS)

 

Komentar ditutup.