Menantang Al Quran, Profesor Matematika Atheis Ini Masuk Islam

Menantang Al Quran, Profesor Matematika Atheis Ini Masuk Islam

0 1745

“Beberapa kali dalam kehidupan atheisnya, Jeffrey mengalami mimpi serupa. Aneh, bukannyaterganggu, Jeffrey justru merasa nyaman saat terbangun dari mimpinya itu.

ALHIKMAH.CO–Lahir di Bridgeport, Connecticut, Amerika Serikat, 30 Januari 1954, Jeffrey kecil tumbuh dalam keluarga penganut Katolik Roma yang taat. Tak heran, jika selama 18 tahun pertama hidupnya, iman Katolik sangat mewarnai keseharian dia. Terlebih, jenjang pendidikan formalnya pun dominan ditempuh di sekolah Katolik.

 

Meski demikian, seperti kebanyakan remaja Amerika awal 70-an seusianya , ia mulai ikut-ikutan mempertanyakan nilai-nilai politik, sosial, bahkan agama yang dianut ketika itu. “Saya berontak terhadap semua institusi yang dianggap sakral masyarakat, termasuk Gereja Katolik.”

 

Mimpi dan Krisis Teologis

 

Sempat saat duduk di SMA Katolik Notre Dam Boys, Jeffrey melakukan diskusi intens, mulai dari Kepala Sekolah, Orang tua, bahkan teman-temannya ihwal ketuhanan. Namun tetap, tak ada jawaban yang mampu meyakinkan dirinya.

 

“Jika Tuhan memang ada, dan ia adalah penyayang dan mencintai semua makhluknya, maka mengapa ada penderitaan di bumi ini? Mengapa Dia tidak membawa kita hanya ke surga? Mengapa membuat semua orang menderita? ” Jeffrey pun terjerembab di alam pikir Atheis, di usianya yang terbilang belia, 18 tahun, hingga bertahun-tahun lamanya saat menempuh studi Sarjana, bahkan Doktoral.

 

Di rentang waktu itu, ia sempat bercerita tentang mimpinya: “Di sebuah ruangan kecil yang nyaris tanpa furniture, bahkan hiasan di dindingnya yang berwarna putih keabu-abuan. Satu-satunya yang tampak adalah karpet bermotif didominasi warna merah dan putih yang menutupi lantai. Di atas Ada jendela kecil berhadap-hadapan dengan kami, seperti jendela ruang bawah tanah, mengisi ruangan dengan cahaya terang. Kami berderet, dan saya berada di deretan ketiga. Hanya ada laki-laki, tak nampak perempuan. dan kami semua duduk bertumpu pada tumit, sembari menghadap ke arah jendela.”

 

Jefrey melanjutkan, “rasanya asing. Saya tidak mengena lseorang pun. Mungkin saya berada di negara lain. Kami menunduk bersamaan, melekatkan wajah-wajah kami ke lantai. Saat itu begitu tenang dan senyap, seolah-olah semua suaraterhenti. Tiba-tiba, kami duduk kembali dengan tubuh ditopang tumit. Saat memandang ke depan, saya baru sadar bahwa kami sedang dipimpin oleh seseorang di depan, persis di tengah kami, di bawah jendela. Dia berdiri sendirian. Saya hanya melihat punggungnya. Ia mengenakan bajuputih panjang, dan di kepalanya tampak sorban putih dengan desain kemerah-merahan.”

Beberapa kali, dalam kehidupan atheisnya, Jeffrey mengalami mimpi serupa. Aneh, bukannya terganggu, Jeffrey justru merasa nyaman saat terbangun dari mimpinya itu.

‘Menantang’ Al Quran

 

Sepuluh Tahun berlalu, saat memberi kuliah pertama di Universitas San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa muslim yang juga mengikuti kelas Matematika dia. Keakraban pun berlangsung, bahkan berlanjut menjadi jalinan persahabatan, tak hanya antara dia dan mahasiswanya itu, melainkan juga dengan keluarganya.

 

Untuk beberapa waktu, agama tidak sekalipun menjadi topik diskusi selama interaksi dia denga keluarga Muslim itu. Hingga kemudian, salah satu anggota keluarga memberikan Alquran kepadanya. Jeffrey yang masih atheis ketika itu, agak terkejut. Meski begitu, ia mulai membaca Alquran, tapi dengan prasangka di awal yang begitu kuat.  .

 

“Alquran tak bisa sekedar dibaca, melainkan dikaji dengan serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Jeffrey kemudian berada di tengah pertarungan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

Setiap malam, Jeffrey membuat daftar pertanyaan dan ketidaksetujuannya tentang Islam yang akan ia coba cari jawabannya dalam Alquran. Dan selalu saja ditemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang ia buat. “Seolah-olah ‘Penulis’ kitab Suci itu tahu saya lebih baik dari diri saya sendiri. Alquran jauh melampaui apa yang saya pikirkan,” pengakuan Jeffrey.

 

Keputusan Revolusioner

 

Di pangkal 80-an. Belum banyak pemeluk Islam di Kampus universitas San Fransisco. Di ruang basementsebuah Gereja Jeffrey memperhatikan sekelompok mahasiswa Muslim menunaikan shalat. Setelah menimbang dengan matang, dengan pergulatan pemikiran yang ia alami selama ini, Jeffrey memberanikan diri untuk datang ke tempat itu.

 

 

Sekian jam berlalu, Jeffrey memproklamirkan keputusan revolusioner dalam hidupnya. Ia mengucap dua kalimat menggetarkan, yang kelak menjadi pegangan kehidupan dia di masa-massa setelahnya. “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Setelah bersyahadat, tak seberapa lama waktu shalat Ashar tiba, dan Jeffrey diajak untuk turut serta menunaikan. Untuk kali pertama Jeffrey berdiri berderet dengan siswa lain di belakang Imam bernama Ghassan.Ia pun mulai mengikuti gerakan shalat.

Mereka tertunduk dalam sujud dengan wajah menyentuh karpet berwarna merah-putih. Begitu tenang dansenyap, seolah-olah semua suara terhenti. Dan kemudian mereka duduk kembali dalam posisi tumitmenopang badan.

Saat Jeffrey memandang ke depan, ia melihat Ghassan di sebelah kiri, di tengah jamaah, persis di bawah jendela yang menyinari ruangan itu dengan cahaya. Ghassan tampak sendirian, mengenakan baju putih panjang dan di kepalanya tampak sorban putih dengan desain kemerah-merahan.
“Mimpi!”Jeffrey menjerit dalam hati. Setelah sekian lama,ia tampak sangat terkejut dan ketakutan. “Apakahsaya bermimpi? Saya bertanya-tanya. Apakah saya terbangun? saya mencoba untuk fokus pada apa yang terjadi untuk memastikan gerangan apa yang terjadi.”

 

Dingin menjalari tubuh Jeffrey, hingga membuatnya gemetar. “Ya Tuhan, ini nyata!” Profesor di Departemen Matematika, Universitas Kansas itu, lirih.

 

Sejurus berlalu, dingin mereda.Tergantikan oleh lembut kehangatan yang memancar dari dalam jiwa. Airbening tertahan di kelopak matanya, untuk kemudian jatuh mengiring kebahagiaan tak terkira sepanjang napas kehidupan dia.

 

(Shafiya Khansa/ pelbagai sumber)