Memaknai Perjalanan Isra Mi’raj Rasululllah

Memaknai Perjalanan Isra Mi’raj Rasululllah

0 15

ALHIKMAHCO,– Ulama asal Bandung, Ustadz Rahmat Baequni S.Pd., Lc. mengajak masyarakat untuk memaknai perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW. Bahwa dalam perjalanan beliau SAW, terdapat berbagai pelajaran yang dapat dipetik.

“Isra seperti yang sudah diketahui adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina. Tapi tahukah Anda, mengapa Masjidil Haram, Allah jadikan terletak di Mekkah?” tanya Ust. Rahmat Baequni mengajak jamaahnya berpartisipasi, dalam kajian kolaborasi Sinergi Foundation dan Madinah Iman Wisata, Haji, Umrah, dan Wisata Halal di Masjid Trans Studio Bandung, Senin (26/03/2018).

Hal tersebut, lanjutnya, berkaitan dengan posisi Mekkah yang berada di rasio emas. Dalam matematika, dua nilai dianggap berada dalam hubungan rasio emas jika rasio antara jumlah kedua nilai itu terhadap nilai yang besar sama dengan rasio antara nilai besar terhadap nilai kecil yakni 1.618.

Rasio tersebut, kata Ust. Rahmat Baequni, bahkan menjadi patokan proporsi estetika yang ideal bagi ahli fisika.
Karenanya jika mengukur jarak antara Mekkah dan Kutub Utara, serta mengukur jarak antara Mekkah dan Kutub Selatan, irisannya pasti sama yakni di angka 1.618.

“Dengan melihat data tersebut, pantaslah jika banyak ahli fisika yang mafhum jika Mekkah disebut-sebut sebagai jantung dunia.”

Lebih daripada itu, tambahnya, jika berada di luar angkasa, satu-satunya tempat di bumi yang memancarkan cahaya hanyalah Tanah Suci Mekkah. “Di Mekkah itu banyak energi positif. Karenanya aura yang terpancar ketika di sana itu berbeda, lebih terasa religinya.”

Setelahnya, Ust. Rahmat Baequni, mengajak jamaah kajian mengenal demografi Palestina. Pun menjelaskan posisi Nabi Muhammad ketika sampai di sana dengan mengendarai buraq.

Kemudian, mengisahkan perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha. “Di sinilah perintah shalat itu diterima Nabi. Padahal jika melihat sejarahnya, Rasulullah itu selalu mendapatkan wahyu melalui perantara malaikat. Karenanya, posisi shalat itu dalam rukun Islam berada kedua setelah syahadat. Dan terdapat nilai-nilai ketauhidan di dalam gerakan shalat, karena Allah sendiri yang secara langsung menurunkannya kepada Nabi,” pungkasnya menutup kajian.[]