Memahami Makna Syafaat

Memahami Makna Syafaat

0 9

ALHIKMAHCO,– Syafaat  berasal dari kata asy-syafa’ yang berarti ganda atau genap. Dikatakan demikian karena pemberi syafa’at menggenapkan permohonan orang yang berdo’a dan doa yang lemah dari orang yang meminta diperkuat oleh kemuliaan pemberi syafaat. Sedangkan kata lain dari syafaat adalah syafa’ah yang artinya menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. [i]

Sedangkan secara syar’i, syafaat juga berarti permohonan ampun oleh seseorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya. Jadi, syafaat Nabi SAW atau manusia-manusia suci lainnya untuk sekelompok umat berarti doa, permohonan ampun, atau juga permintaan atas sebuah hajat ke hadirat Allah SWT untuk umat yang menerima syafaat. [ii]

Syafaat di sisi Allah tidak sama dengan syafaat manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di hadapan Allah, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Allah SWT berfirman :  dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan untuk orang yang ia kehendaki dan ridhai-Nya,” (QS. An Najm [53]: 26).

Adapun mengenai siapa yang berhak memberikan syafaat, Dia khususkan kepada para kekasih-Nya, orang yang bertakwa, yang diridhai-Nya dan dipilih-Nya. Allah SWT berfirman: Mereka tidak berhak mendapat syafaat, kecuali kepada orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah. (QS. Maryam : 87)

Begitu juga dengan yang mendapatkan syafaat, hanya Allah yang berhak menentukan siapa saja yang mendapati syafaat. Yakni orang-orang yang bertauhid dan ikhlas. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap Nabi as memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa’at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa’at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ta’ala dengan suatu apapun.” (H.R. Muslim No 1: 106).

Sedangkan di luar itu, Allah tidak akan memberikan syafaat. Sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya ini: “.. orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. (QS. al-Mu’min: 18) [iii]

[i] Muhammad Hisyam Kabbani, (1996), Syafaat, Tawasul, dan Tabaruk, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, hlm. 20

[ii] Muhammad Nasib Ar-Rifa’, (2000), Kemudahan dari Allah, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 87

[iii] Syekh Hafizh Hakami, 200 Tanya Jawab Seputar Akidah Islam, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 150-153

Komentar ditutup.