Melihat Cahaya dalam Gelap

Melihat Cahaya dalam Gelap

0 79
pict: Hikmah Hariku - blogger

“Biarlah kami tak bisa melihat di dunia ini, asal kami jangan sampai tak mampu melihat surga, tak melihat kebenaran dan kebahagiaan surga..”

Pagi itu saya menemani Soleh berbagi bersama Mahasiswa STSI yang akan mendapat bantuan biaya usaha dalam program Mahasiswa Wirausaha. Program Mahasiswa Wirausaha adalah program Dirjen Dikti yang dimaksudkan agar para mahasiswa siap untuk berpikir menjadi pengusaha, membuka lapangan kerja berbasis keilmuan yang digelutinya saat kuliah.

Pertanyaannya barangkali, mengapa saya membawa Soleh? Siapa sih Soleh?

Soleh, lelaki 28 tahun yang lahir di sebuah desa di Kabupaten Majalengka Jawa Barat, lahir sebagai tuna netra. Dia tidak dapat melihat secara utuh alias buta total.

Soleh baru menyadari bahwa dia buta dan itu sebuah persoalan, ketika dia mulai sekolah di SD. Gurunya mulanya menerima namun kemudian Soleh dinyatakan tidak bisa mengikuti pelajaran di SD itu. Soleh pun dipindahkan ke sekolah Luar Biasa, SLB. Maka hari-hari sebagai tunanetra pun membawa Soleh akhirnya bersekolah di Wyata Guna, Bandung.

Di sinilah, menurut saya, cahaya llahi dekat dengan Soleh. Bersama teman-temannya Soleh yang bersuara merdu ini membentuk komunitas Nasyid bernama Ummi Maktum Voice.

Senandung Ummi Maktum Voice sungguh menggugah galbu. Bayangkanlah, sekelompok anak remaja tuna netra, kemudian bersenandung memuji Allah, mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan mengajak kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

Suatu ketika, mereka menyanyikan lagu, yang membuat air mata saya menetes, syair dalam Bahasa Inggris yang dibawakan dengan baik itu berjudul: Thank You Allah…

“Thank you Allah… Thank you Allah

Mereka bersenandung tentang rasa syukur atas karunia Allah yang begitu berlimpah, sementara secara lahiriah saja kita melihat bahwa mereka tak bisa melihat.

Soleh, lelaki 28 tahun itu kini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak yang lucu. Istrinya bukan saja cantik dan juga berpenglihatan normal, namun juga menunjukkan kasih yang tulus pada sang suami. Saya sering berjumpa dengan mereka ketika keduanya sedang berolah raga di suatu ahad pagi yang cerah… Mereka berjalan bersama. Sang istri menuntun suaminya… subhanallah

Bersama LSM Ummi Maktum Voice yang dipimpin Entang Kurniawan (yang juga tuna netra) Soleh dan kawan-kawan menggagas penggalangan dana untuk membiaya penerbitan Alquran Braille. Gagasan ini dimulai ketika semasa di Panti Wyata Guna mereka kesulitan untuk tadarus dan mengkhatamkan Alquran karena jumlah Alquran braille yang tersedia terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah tuna netranya.

Maka dibentuklah LSM Ummi Maktum Voice, dengan target mencetak 200 Alquran braille. Subhanallah, target itu segera terlampaui. Maka mereka mematok target baru: 1000 Alquran braille. Subhanallah, target itu pun terlampaui. Mereka pun mematok target lagi, 2000 Alquran Braille di tahun 2010. Ternyata di Ramadhan 2009 target 2000 set Al Quran braille segera tercapai. Allahu Akbar.

Kini mereka mematok target baru, 10.000 set Alquran braille selama lima tahun ke depan. Jadi di tahun 2015, target mencetak dan membagikan 10.000 set Quran braille.

Berapa nilai nominal yang telah dikumpulkan? Untuk satu al quran braille (30_ juz yang beratnya 25 kg) diperlukan biaya sebesar 1,650.000,- maka kita menghitung jika 2000 set sekitar Rp 3,3 miliar telah dihimpun dan dibagikan. Selain itu, di rekening LSM masih tersedia lebih dari 1 miliar.

Subhanallah, lebih dari Rp 5 miliar telah diraih dan didedikasikan untuk membahagiakan sesama tuna netra agar bisa membaca Al Quran.

Betapa bernilainya hidup soleh dan kawan-kawan. Mereka tidak melihat ternyata mampu melihat cahaya dalam kegelapan. Mengubah musibah tak mampu melihat menjadi kehidupan yang menerangi hati sesama manusia.

Dengan lirih soleh berujar, “Biarlah kami tak bisa melihat di dunia ini, asal kami jangan sampai tak mampu melihat surga, tak melihat kebenaran dan kebahagiaan surga..”

Ya Allah bahagiakanlah mereka yang mampu melihat cahaya-Mu dalam kegelapan. Bukakan mata hati kami agar mampu melihat cahaya dalam hidup kami. Jangan butakan kami dengan kemilau dunia yang fana. []