Melahirkan Generasi Terbaik

Melahirkan Generasi Terbaik

0 72

ALHIKMAHCO,– Ada sebuah cerita tentang rahmat Tuhan kepada hamba-Nya, Zakariyya, yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya tulang-tulangku telah melemah dan kepadaku dipenuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap penerus sepeninggalanku sedang istriku seorang yang mandul. Karena itu anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia ya Allah seorang yang diridhai” (Q.S. Maryam: 2-6).

Dan Ibrahim, berkata:
“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku; dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (Q.S. Ash-Shaffat: 99-100).

Dua surat dalam Al Qur’an di atas menggambarkan dua orang tua. Yaitu Zakariyya dan Ibrahim yang mengeluh merindukan lahirnya anak saleh. Tentu saja bukan hanya Ibrahim dan Zakariyya yang merindukan anak saleh, tapi setiap orang tua pasti merindukan anak saleh walaupun tidak setiap orang tua mampu melahirkan anak saleh.

Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap keluarga hendaklah mempunyai tekad yang diwujudkan dalam bentuk ikhtiar dan usaha agar bisa melahirkan anak saleh. Bahkan setiap orang tua mesti berusaha dan berdo’a dengan sungguh-sungguh untuk melahirkan sebuah generasi yang jauh lebih saleh dari dirinya.

Setiap orang tua mesti merasa khawatir seandainya melahirkan generasi yang lemah setelah mereka. Seperti firman Allah dalam Al Quran: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An Nisa: 9)

Islam menyatakan bahwa anak saleh merupakan investasi yang berharga dan dapat memberikan kebahagiaan khusus kepada orang tua di dunia dan di akhirat. Anak saleh bisa menjadi qurrat’ayunin di dunia dan menjadi amal kebajikan yang pahalanya terus mengalir di akhirat. Perhatikan Al Qur’an Surah Al Furqan ayat 74: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dan Hadis Riwayat Muslim tentang tiga amal yang pahalanya mengalir terus walaupun yang bersangkutan sudah meninggal. “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh” (HR Muslim)

Beberapa prinsip ajaran Islam yang bertalian dengan Pendidikan Anak
1. Anak merupakan anugerah Allah wajib disyukuri, juga sebagai amanat/titipan dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua di hari kiamat.
2. Setiap anak lahir dalam keadaan suci dan bersih dari dosa kesalahan. Karena Islam tidak mengenal adanya dosa warisan.
3. Fitrah manusia pada dasarnya ialah hanif, cenderung berbuat baik bahkan setiap ruh manusia ialah Islam. Karena sejak masa ruh, manusia sudah berikrar menyatakan tentang keislamannya kepada Allah. Tidak ada manusia yang mempunyai bakat jahat, yang ada hanyalah najiyyah yaitu keistimewaan tertentu yang dianugerahkan Allah kepadanya sebagai bekal penting dalam kehidupannya.
4. Kecenderungan anak menjadi tidak saleh merupakan pengaruh dari lingkungan terutama keluarganya dan pihak yang paling dominan membentuk watak serta karakter seorang anak adalah bapak dan ibu.
5. Proses pembinaan dan pendidikan anak harus berjalan berkesinambungan tanpa henti sejak dari buaian hingga mati, di rumah, di sekolah dan di tengah masyarakat.
6. Keluarga atau rumah tangga hendaknya menjadi forum pertama dan utama bagi pembinaan akhlak. Karena itu, ayah dan ibu harus menjadi pendidik utama dan pertama bagi anaknya.
7. Lingkungan pergaulan di sekolah dan di tengah masyarakat, bahan bacaan, hiburan, langkah dan sikap buruk para pemimpin masyarakat serta segala aspek pergaulan hidup akan turut mewarnai watak seorang anak.
8.  Pendidikan dan pergaulan agama merupakan bagian penting dalam proses pendidikan anak baik di rumah maupun di luar rumah seperti di sekolah dan di tengah masyarakat.
9.  Setiap orang tua, terutama ayah wajib mencari nafkah untuk keperluan pendidikan dan kedewasaan anak. Dan setiap nafkah yang diberikan ayah atau suami untuk keperluan keluarga dinilai sebagai ibadah shidqah yang paling besar pahalanya dan tinggi nilainya.
10. Proses pendidikan dan pembinaan anak hendaknya ditempuh melalui pendekatan vertikal dan horizontal dengan usaha tekun dan sungguh-sungguh serta pendekatan kepada Allah melalui do’a demi do’a.
11. Manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan untuk melahirkan generasi yang baik dan saleh tapi keputusan akhir tentang apa yang akan terjadi sepenuhnya berada di tangan Allah. []

*Penulis Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation