Malulah

Malulah

1 47

Hari masih dini. Mata perlahan terbuka. Masih samar-samar, sebelum membulat sempurna. Ada peran punggung tangan yang bergerak tak beraturan. Sedikit memperjelas fokus pandangan. Sekali dua mengedip, sesaat kemudian menoleh ke arah detak jarum jam.

Tak lama, sayup- sayup suara adzan berkumandang. Jarum jam menunjuk angka 2. Adzan pengingat shalat malam. Nikmatnya helai selimut yang hangat membalut, seperti ajang pertarungan. Bangun memenuhi panggilan, atau merasa yakin, masih ada kesempatan bertemu keesokan.

Di sela itu, napas masih terus dihela. Bahkan sebelum mata ini terbuka. Saat terlelap di pembaringan. Tak pernah berhenti, sejak mula ruh ditiupkan ke dalam raga. Seperti biasa, alur mekanis tubuh manusia. Begitu, pikir sebagian kita.

Belum terlintas, lantaran apa, siapa, semua itu ada, dan bisa kita nikmati detik demi detiknya. Sepanjang usia, tanpa harus  memikirkan soal harga yang harus dibayar.

Sembari melawan godaan kantuk, keran air untuk wudhu coba diputar. Segar lantas terasa menjalari anggota badan. Semangat! Kerinduan untuk bermunajat ke hadirat Rabb Semesta Raya menyeruak. Kaki pun melangkah menuju hamparan sajadah. Dan panggilan pun coba ditunaikan.

Di tarikan napas panjang. Di atmosfir sepertiga malam. Seperti tak ada batas antara makhluk dan Khaliknya. Senarai kesah dan harapan terurai berai dalam doa yang substansinya sederhana. “Rabb, Jadikan kami termasuk golongan hamba-hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Mu yang tak berbilang.”

Tentu saja tak berbilang. Silahkan saja coba dihitung. Mulailah dari mana kita suka. Semisal saja oksigen yang kita hirup. Yang tak berhenti sampai ruh terlepas dari jasad ini. Belum lagi nikmat mata, yang juga Allah berikan secara cuma-cuma untuk melihat kebesaranNya. Belum lagi … belum lagi … belum lagi …

Dan nikmat Iman, serta Islam, ada diantaranya. Diantara lautan nikmat terbesar yang Allah curahkan. Fundamen kokoh yang terpatri dalam diri. Keyakinan akan Zat Tunggal, sang Pencipta, sekaligus Pemelihara Semesta, Allah Azza wa Jalla. Keyakinan akan kebenaran ajaran yang Ia turunkan sejak beribu tahun silam, Din al-Islam. Petunjuk sahih, penyejuk qalbu, penerang jiwa, penuntun umatNya mengarungi jalanan terjal kefanaan dunia. Menuju muara kehidupan yang lebih kekal.

Di tarikan napas panjang. Di atmosfir sepertiga malam. Seperti tak ada batas antara makhluk dan Khaliknya. Di secuil waktu yang penuh Rahmat itu, malulah kita jika masih enggan beranjak dari pembaringan. Sementara dalam sebuah hadist Rasul bersabda,

“Tuhan kita Yang Mahasuci dan Mahatinggi turun ke langit dunia setiap malam ketika tinggal sepertiga yang akhir dengan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku lalu Aku kabulkan? Siapakah yang mau meminta kepada-Ku lalu Aku kabulkan? Siapa yang mau meminta ampun kepada-Ku lalu Aku ampuni?’” (H.R. Bukhari)