Makna Pahlawan di Mata Sariban, Pengabdian 32 Tahun Sang Relawan Kebersihan

Makna Pahlawan di Mata Sariban, Pengabdian 32 Tahun Sang Relawan Kebersihan

0 165

“Saya lebih ingin dikasih penghargaan dari Allah, bukan dari manusia. Karena apa yang saya lakukan ini, bukan penghargaan yang saya cari. Saya hanya mengamalkan, Anna Dzofatu Minal Iman, kebersihan itu sebagian dari iman.”

ALHIKMAHCO,– Aura panas mentari mulai membelai jalanan Kota Bandung, teriknya menyapa hilir mudik kendaraan yang terus melaju. Sinarnya membayangi sepeda ontel yang telus melaju, rodanya berputar pelan, ditemani keriput dari  wajah sang pengemudi yang  mulai menguarkan peluh. Air muka pria berkepala tujuh ini begitu cerah secerah atap langit yang terus menaunginya mengelilingi jalanan Bandung, dengan atribut papan : ‘Jagalah Kebersihan.’

Orang-orang mengenal pria tua ini dengan nama Pak Sariban. Masih pagi-pagi sekali, namun urat kakinya terus mengayuh sepeda, berselempang toa, mengajak masyarakat Bandung agar peduli lingkungan. Sekira 31 tahun sudah, bapak empat anak ini mengabdikan dirinya. Dengan pakaian khasnya yang berwarna kuning dan sepeda ontelnya yang unik, lelaki tua berperawakan kecil itu masih penuh semangat untuk memungut helaian daun , berkawan sampah-sampah yang berserakan, merapikannya dengan penuh kesabaran.

Begitulah kala Alhikmah menyapanya dan mengajaknya berbincang sejenak tentang makna kepahlawanan di pertengahan Oktober 2014. Disela aktivitasnya menyusur jalanan Bandung menyuarakan akan kebersihan lingkungan.

“Kalau cerita zaman baheula (Sunda_dahulu) pahlawan itu adalah orang yang melawan penjajah, mengangkat senjata, mengusir mereka dari tanah air ini. Mereka sudah berjuang dan mengorbankan banyak hal untuk kemerdekaan bangsa kita,” ujar Sariban dengan suaranya yang khas.

“Nah, sekarang kan kita sudah merdeka, penjajah sudah pergi, maka makna pahlawan lebih kepada orang yang mengisi kemerdekaan ini, mensyukurinya dengan memelihara lingkungan. Bekerja keras, tanpa disuruh, tanpa pamrih, itulah pahlawan, itulah yang harus dijalankan masyarakat Indonesia. Kemerdekaan selama 69 tahun ini, harus diisi oleh bukti nyata, bukan cuma bicara,” lanjutnya.

Mencintai Lingkungan Karena Allah

Kini, Sariban, tak lelah mengayuh sepeda tuanya, menyusur jalan besar hingga lorong-lorong kota. Mengais sampah yang dilempar sang pongah dari balik kaca mobilnya. Berdamai dengan daun-daun yang berguguran, dengan penuh kesabaran, menata lingkungan, memanjakan mata, bahwa kebersihan ialah sebagian dari pada iman, dan lingkungan adalah amanah Allah, begitu tekad Sariban tak lelah mengabdi, sudah 31 tahun ia lakoni sebagai relawan lingkungan.

Menurut Sariban,  dengan welas asih, Allah telah menciptakan alam semesta ini, termasuk menciptakan manusia dan lingkungan. Maka sudah kewajiban manusia untuk menjaga lingkungan. Hanya manusia yang tergolong hamba Allah-lah yang mencintai Allah, dan mencintai menjaga ciptaanNya. “Karena bila bukan hamba Allah yang menjaga alam ini (baca_lingkungan), siapa lagi?” tanya Sariban.

“Hamba Allah itu tidak merusak lingkungan, tidak mengotorinya, itulah hamba Allah,” ungkap Sariban. Dan itulah yang menjadi motivasi Sariban ingin berpeluh keringat di pengujung usianya Sariban mengakui, menjaga lingkungan ini akan berat bila tidak dibiasakan. Karena itu, menurut Sariban, mulailah membiasakan untuk menjaga diri dari kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan. Karena, ternyata, sejak kecil ia sudah diajarkan dan terbiasa menggeluti masalah lingkungan.

“Alah Bisa Karena Terbiasa. Saya bisa seperti ini karena terbiasa untuk menjaga lingkungan. Kalau saya bisa, Anda pasti bisa. Gitu!”

Makna kebersihan pun dalam pandangan Sariban sederhana. Seminimalnya lingkungan sekitar. “Apa salahnya bila lingkungan sekitar kita bersihkan dulu? Untuk apa jauh-jauh? Yang dekat juga kalau tidak dibersihkan, tidak akan bersih!”

Karenanya, hingga kini, ia curahkan waktu, merelakan hidupnya tanpa dibayar, tanpa digaji, tanpa karpet merah, sorotan berjuta media, mengayuh kembali sepedanya setiap hari. Saban pagi pukul sembilan, ia menyusur jalan Sidomukti, Cigadung, hingga perempatan Pahlawan. Itu ia lakukan sampai pukul 11.30 WIB. Sorenya sehabis Salat Asar ia ‘turun’ lagi sampai setengah enam. Apa yang ia lakukan? Yaitu mengumpulkan sampah, membersihkan aliran kali yang tersumbat. Bila sudah penuh, sampah itu ia bawa dan dibuang ke TPS dekat Pasar Cihaurgeulis. Lalu kembali lagi membereskan yang tersisa. Belum sampai disitu, Minggunya, ia suka bersepada ke Car Free Day (CFD) Dago, mengingatkan masyarakat agar menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Pernah Disangka Orang Gila

Tak pelak, usaha dari Sariban itu menuai apresiasi dari beragam instansi, mulai dari pemerintah dan pihak swasta. Walaupun demikian, Sariban tetap rendah hati. Ia merasa banyak orang lain yang lebih pantas menerima itu ketimbang dirinya.

“Saya lebih ingin dikasih penghargaan dari Allah, bukan dari manusia. Karena apa yang saya lakukan ini, bukan penghargaan yang saya cari. Saya hanya mengamalkan, Anna Dzofatu Minal Iman, kebersihan itu sebagian dari iman.”

Tapi, pembaca, jangan lihat Sariban saat ini yang penghargaannya saja sudah tak bisa dipasang di ruang tamunya, saking banyaknya. Tapi lihatlah keteguhan dan kesabarannya tatkala merintis perjuangannya.

Sariban berceritera, tahun 1983, waktu ia masih bekerja sebagai pegawai di Rumah Sakit Cicendo – Bandung, ketika ia lewat di jalan dengan menggunakan sepeda tuanya, banyak yang bilang, orang gila lewat. Ada lagi yang bilang, orang edan (jawa_gila) lewat. Atau ketika ia melakukan penyuluhan kebersihan, suka ada yang berteriak, gandeng-gandeng (Sunda_berisik). Tapi ia hanya berucap, Alhamdulillah, cacian itu ia terima sebab Allah adalah Dzat yang berhak dipuji.

sariban6

“Memang pada 1983 itu saya disebut gila itu karena memang saya orang gila. Tapi saya gila kerja. Gila untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” jawabnya sederhana.

Begitulah Sariban, Ia memang terlahir dengan hati yang luhur. Bahkan, pernah juga ketika ia sedang beres-beres, ada orang yang membuang sampah di hadapannya. Manusiawi bila ketika kita dalam kondisi itu terpantik emosi. Tapi Sariban berbeda. Ia tidak marah.

“Saya dekati dia, saya bilang maaf, punten, lain kali sampah seperti ini jangan dibuang sembarangan. Gitu saya mah. Coba bayangkan, kalau saat itu saya marah-marah, orang itu pasti tidak akan terima dan apa yang saya imbaukan tidak akan menempel di hati orang itu. Marah itu godaan dari setan.” ucapnya.

Walaupun sudah 32 tahun mengabdi tulus, dengan turut menjaga keasrian lingkungan. Pun pelbagai penghargaan dan ratusan kali diwawancara oleh beragam kalangan dan media. Sariban sangat enggan untuk dikatakan pahlawan. Kepada Alhikmah, ia ingin disebut relawan saja.

“Saya lebih nyaman disebut relawan bukan pahlawan. Kalau pahlawan itu memang cocoknya udah mentok untuk yang sudah berjuang memerdekakan bangsa ini. Tapi saya relawan juga bukan relawan musiman, saya relawan sepanjang masa, sepanjang hayat masih berdetak,”

“Apa relawan musiman itu? Ya, misalnya relawan pemilihan presiden, gubernur, itu bukan relawan sejati, karena musiman. Kalau musiman buat apa?” tandas Sariban. (Senandika/ed.Rizki Lesus/Alhikmah)