Maafkan, Ayah yang sok Tahu

Maafkan, Ayah yang sok Tahu

0 48

Ya begitulah mereka yang kalah atau dikalahkan. Mereka yang mengerjakan sesuatu atas pesanan dan tak tersisa ruang untuk mengekspresikan dirinya.

ALHIKMAHCO,– Seorang ayah sedang memeriksa buku PR anaknya. “Lho kok pr matematikanya belum dikerjakan. Bukankah ini PR untuk besok. Mengapa Kakak tidak segera mengerjakannya?” tanya sang ayah dengan lembut.

Anak kelas 3 SD itu menjawab, sebentar Yah, saya kerjakan sebentar lagi,” katanya juga dengan suara lembut.

Jangan begitu dong, PR  untuk besok harus dikerjakan sekarang. Tidak ada waktu lagi. Ayo kerjakan!” ayah yang peduli itu mulai memerintah dengan suara yang lebih tinggi dan tatapan yang lebih tajam.

Anak kecil usia 8 tahun itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dengan langkah yang berat, dia mengambil buku dan pena lalu mulai mengerjakan PR nya. Satu dua soal mulai dikerjakan. Namun di nomor berikutnya, dia nampak tidak konsentrasi. Hitungan sederhana pun nampak seperti hitungan matematika yang rumit.

“4 x 8 berapa,” ayahnya bertanya.

Anak itu menatap langit-langit rumah, lalu menjawab “30, eh salah yah,” katanya ketika melihat ayahnya menatap dengan sorot mata heran bercampur marah.

“Bagaimana ini, perhitungan seperti ini saja tidak bisa. Kakak kan sudah kelas tiga, masa harus turun ke kelas dua, atau ke kelas satu. Ayo jawab cepat, berapa 4×8?” kata sang ayah.

Suasana belajar telah berubah menjadi pengadilan atau ruang interogasi. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan cepat dan dengan nada yang tidak bersahabat. Ayah dan anak telah berganti peran, menjadi seperti musuh yang berhadapan. Namun sangat tak seimbang, seperti Nabi Daud dan melawan raksasa Jalut.

Dengan air mata yang mengalir di pipi, anak kecil itu berhasil juga menyelesaikan PR nya yang hanya 10 soal selama dua jam. Lalu dia pergi ke kamar tidur dengan wajah yang tertunduk, seperti seorang petinju yang babak belur dihabisi lawan. Atau sang kapten bola yang gagal mengeksekusi tendangan pinalti di final kejuaran final dunia.

Ya begitulah mereka yang kalah atau dikalahkan. Mereka yang mengerjakan sesuatu atas pesanan dan tak tersisa ruang untuk mengekspresikan dirinya. Harus sekarang dan dengan cara saya dan ukuran yang saya tetapkan. Di luar itu apa pun yang dihasilan tak masuk hitungan.

Dengan rasa penasaran yang masih menggantung, ayah yang peduli itu menengok anaknya  di tempat tidur. Ketika itu emosinya sudah reda. Dan ia merasakan rasa bersalah di hatinya.

Ia pun bertanya kepada anaknya, “Kakak, kenapa sih tadi seperti tidak punya perhatian  kepada pelajaran, ayah tahu kakak pintar. Tapi kenapa PR tidak dikerjakan. Kok 4×8 saja tidak bisa menjawab.”

Anak kecil itu menjawab dengan mata yang sembab. “Ayah waktu ayah menyuruh kakak mengerjakan PR, kakak sedang menghafalkan hadits. Besok malam ada tampilan anak-anak TPA, yang ikhwan di kelompok kakak harus menampilkan 20 hadis, kakak yang ditunjuk oleh ustaz untuk jadi pemimpinnya,” kata sang anak sambil memeluk bantal.

“Kelompok kakak lima orang masing-masing harus hafal 4 hadits. Tapi kakak kan yang jadi pemimpin, kalau ada teman yang lupa, kakak harus mengingatkannya, supaya kelompok kakak dapat nilai yang bagus dari ustaz. Waktu ayah nyuruh kakak ngerjakan pr tadi. kakak sedang menghafal hadits, sudah 18 hadis, tinggal dua hadits lagi. Asalnya kalau sudah hafal 2 hadits itu kakak langsung mengerjakan PR,” lanjutnya.

Ayah yang termangu dari tadi lalu segera memeluk anaknya dan berkata,”Maafkan ayah yah, maafkan ayah yang sok tahu.” []

Komentar ditutup.